METERING MODE for Human Interest

Dalam sebuah pemotretan, metering kamera adalah salah satu hal mendasar yang akan menciptakan sebuah foto akan baik secara teknis fotografi atau tidak.

Pada era terkini banyak sekali metode metering yang ditanamkan dalam sebuah kamera. Mulai dari Metering Mode ada : Matrix, Center Weighted dan spot, juga ada Exposure Mode : P, S, A, M.

Dalam fotografi human interest masing-masing feature ini memiliki peranan yang spesifik sesuai dengan kondisi di lapangan. Disini saya akan coba berbagi pengalaman dalam penggunaan Metering Mode, agar memudahkan mencapai hasil yang diinginkan.

 

METERING MODE : MATRIX

Metering ini akan menghasilkan perhitungan yang average sehingga lebih cocok untuk menangkap detil secara keseluruhan. Pada umumnya metering ini digunakan untuk pemotretan Landscape. Dengan kelebihanya sangatlah cocok untuk pemotretan human interest yang mengandung unsur outdoor atau landscape karena background landscape mampu terexpose dengan baik

 

Dengan matrix suasana landscape terekspose dengan baik

Dengan matrix suasana landscape terekspose dengan baik

 

METERING MODE : CENTER WEIGHTED

 Metering ini pada umumnya akan menghasilkan perhitungan kurang lebih 60% pada tengah frame. Pada kemera era sekarang ukurannya bisa disetting sesuai keinginan biasanya mulai 30%, 50 % maupun 60%.

Dengan kelebihannya maka pemotretan human interest yang lebih ke style portrait lah yang cocok menggunakan metering ini. Hal ini karena luasan meteringnya kurang lebih akan mencakup seluruh wajah, sehingga exposure wajah akan tercapai dengan optimal.

Center weighted lebih memudahkan untuk pemotratan portrait / focus ke wajah.

Center weighted lebih memudahkan untuk pemotratan portrait / focus ke wajah.

 

METERING MODE : SPOT

Metering ini pada umumnya akan menghasilkan perhitungan 3% hingga 5% pada tengah frame. Pada kamera Nikon era sekarang bahkan titik spotnya bisa berpindah mengikuti titik fokus yang kita tentukan. Sehingga semakin memudahkan kita mendapatkan exposure yang optimal.

Dengan kelebihan yang dimiliki metering jenis ini, maka pada pemotretan human interest, kamera kita akan mampu menghasilkan expose dengan baik/mudah :

 – Dalam suasana lighting yang tricky

 – Expose optimal pada subject yang kecil

 – Mampu menciptakan lighting yang dramatis

 

Spot metering akan lebih felxible mengatasi cahaya tricky/contrast tinggi

Spot metering akan lebih felxible mengatasi cahaya tricky/contrast tinggi

Pada foto di atas dengan menggunakan metering spot pada daerah sekitar lampu petromax seingga pendaran lampu tidak over serta untuk mengisolasi cahaya sekitar agar nuansa jadi gelap dan dengan dibantu fill in SB – 800 untuk mengisi muka prajurit maka mampu dihasilkan exposure foto yang indah dan dramatis.

 

Dengan menguasai dasar dari kelebihan masing-masing metering mode, maka secara mudah dan cepat akan mampu menghasilkan foto yang dramatis

 

Just a little think and Click !

LOW LIGHT : Handheld

Sering kita menghadapi pemotretan dengan kondisi low light  ( gelap) dan kita harus melakukan pemotretan dengan handheld . Berikut Tips nya agar pemotretan anda bisa maksimal dengan peralatan yang anda miliki.

1.       Bukaan Diafragma diatur yang paling besar pada lensa yang anda gunakan f/1.4, f/1.2, f/2.8, f/3.5, f/4

2.       Nyalakan VR ( Vibrate Reduction) atau IS (Image Stabilizer) jika lensa atau kamera anda memiliki feature ini.

3.       Cermati titik aman speed nya. Umumnya minimal  titik aman adalah 1 kali focal length lensa anda, semakin lebih cepat semakin aman. Misalnya lensa dg focal length 18mm aman di speed 1/25 sec, lensa 28mm aman di 1/30 sec, lensa 50mm aman di 1/60 sec dst

4.        Hati hati dengan lensa zoom karena setiap perpindahan focal length akan merubah titik amannya terutama jika anda suka bermain zoom in dan zoom out. Agar aman pasang di titik focal length terpanjang (tele). Misalkan lensa 18-70mm pasang di 1/125 sec, lensa 14-24mm pasang di 1/30 sec

5.       Cermati kecepatan moment yang mau dipotret, misalnya orang berjalan/begerak aman di 1/60 sec

6.       Yang terakhir baru setting ISO agar bisa mencapai titik aman di atas. Kenapa ISO pada urutan terakhir ? karena prioritas kita adalah tetap menghasilkan foto yang tidak Noise, sehingga diusahakan pada titik aman terendah.

Just a little think and click !

Tripod for Landscape

Pada situasi low light untuk pemotretan landscape sering kita membutuhkan bantuan sebuah tripod untuk membantu pemotretan kita. Beberapa saat menggunakan tripod untuk keperluan pemotretan landscape adalah :

  • Pastikan Kamera sudah terkait dengan kuat pada mount plate tripod
  • Pastikan Kaki-kaki tripod sudah pada dudukan yang kuat dan terkunci
  • Letakan satu kaki tripod ke depan  searah dengan arah kamera, dan dua kaki ke arah kita. Hal ini untuk menghindarkan kamera terpelanting ke depan krn tersenggol atau lensa yang berat. Dan juga untuk menghindarkan tersenggol oleh kaki kita saat kamera exposing.
  • MATIKAN VR/IS (feature anti getar) karena kompensasi dari kerja motornya akan membuat shaking.
  • GUNAKAN ISO TERENDAH untuk pemotretan object diam atau untuk slow speed. Misalnya Iso 100 atau iso 50. Logikanya kita sudah pakai tripod tentunya  kita menginginkan gambar yang qualitasnya terbaik (bebas noise) dan ISO sudah tidak menjadi kendala untuk menghindarkan camera shake.
  • GUNAKAN DIAFRAGMA TERKECIL untuk Depth of Field yang luas dan ketajaman. Biasanya F/11 sd F/16 adalah favorite nya.
  • Umumnya menggunakan mode exposure Manual (M), untuk itu mulailah lakukan trial exposure yang sesuai, atau BULB jika membutuhkan exposure lebih dari 30 sec. Jangan lupa membawa jam/counter kecuali anda menggunakan cable release yang memiliki feature timer.
  • GUNAKAN CABLE RELEASE atau self timer untuk melepas rana. Karena sentuhan jari kita di tombol shutter akan menyebabkan shaking.
  • Untuk pemotretan di pantai berpasir dan kaki tripod terkena deburan ombak, pastikan bahwa kaki tripod tertanam dalam karena sapuan ombak akan menggerus dan menggeser kaki tripod serta hantamanya membuat kamera shaking.

Just a little Think and Click !