Nikon D750 : a Full Frame’s Little Monster

Monster kecil di kelas “Pemula”

Dua pemain besar produsen kamera dunia, Nikon dan Canon masih berlomba untuk memenangkan pertempuran di market DSLR. Sementara pemain-pemain lain seperti : Sony, Fujifilm, Panasonic, Samsung dan Olympus lebih menyukai mengembangkan Mirrorless Camera. Nikon dan Canon memang masih setengah hati untuk masuk camera Mirrorless, Nikon hanya asyik bermain mirrorles AW systemnya dengan sensor “mini” dengan kehandalan untuk menyelam, dan Canon tetap asyik dengan Eos M nya yang memposisikan kamera “serius” diatas lini GX nya. Dua pemain ini tetap saja lebih suka bermain di arena DSLR, kita lihat saja setelah setelah Canon menjawab pertempuran entry level fullframe Nikon D600 dengan mengeluarkan Canon 6D kini Nikon sangat serius melawan dengan mengeluarkan “monster kecil” andalannya Nikon D750, kenapa saya sebut monster kecil ?

Nikon D750

Nikon D750

Nikon D750 tampak belakang

Nikon D750 tampak belakang

A. Body Camera

  1. Camera D750 adalah penerus generasi entry level kelas pemula Nikon D610.
  2. Model Body :  kedua kamera hampir sama Nikon D610 850 gram sedangkan Nikon D750 lebih ringan 750 gram.
  3. Bahan Body : Nikon D750 lebih unggul karena sudah menggunakan kombinasi Magnesium Aloy dan Carbon Fiber (terkenal ringan dan kuat), sedangkan Nikon D610 menggunakan Magnesium Alloy dan Polycarbonate.
  4. Weather Sealing : pada kamera ini sudah diberikan seal-seal pengaman terhadap percikan sehingga relatif aman.

VIDEO :

Link video : Nikon D750 Body shape

Body Nikon D750

Body Nikon D750 kombinasi Carbon Fiber (hitam) dan magnesium alloy (silver)

Body Nikon D750 dengan Vertical Grip

Body Nikon D750 dengan Vertical Grip

Nikon D750 dengan weather sealing

Nikon D750 dengan weather sealing

Body Nikon D610 masih menggunakan polycarbonate

Body Nikon D610 masih menggunakan polycarbonate

A.1. Double SD Card

Camera Nikon D750 memiliki double slot untuk SD Card, hal ini tentunya membuat kapasitas memory jadi meningkat untuk pemotretan yang mebutuhkan memory besar.

Double slot SD Card

Double slot SD Card

B. LCD MONITOR

Seperti pada entry level kelas DX ( Crop Factor ) Nikon D5300, camera Nikon D750 diberikan LCD yang bisa dirubah anglenya. Yang membedakan gerakan LCD Nikon D750 hanya angle ke atas dan  ke bawah (Tilt LCD), sedangkan Nikon D5300 mampu diputar ( Flip LCD).

flip Lcd pada Nikon D5300

flip Lcd pada Nikon D5300

LCD yang ditanamkan pada kamera ini sama dengan “kakaknya” Nikon D810, resolusi LCD 1.299.000 dot dan ukuran LCD 3,2 inch. Seperti pada seri kamera Pro level Nikon, LCD pada Nikon D750 sudah bisa diatur brightness dan Kalibrasi warnanya, sehingga kita bisa menyesuaikan LCD kamera dengan mengkalibrasi secara manual, sehingga sesuai/mendekati warna yang kita inginkan. Problem warna LCD yang bluish atau Greenish sudah bisa dihindari.

 

Tilting LCD pada Nikon D750

Tilting LCD pada Nikon D750

B.2. LCD Exposure Preview

Pada Live view LCD Nikon D750 sudah dilengkapi Exposue Preview On, seperti yang terdapat pada umumnya kamera mirrorless. Pada preview ON kita sudah dapat melihat langsung perubahan dari exposure yang kita lakukan. Sehingga  kita dapat melakukan  evaluasi terang dan gelap pencahayaan yang telah kita setting sebelum menekan shutter.

Dengan adanya feature ini tentunya makin memudahkan kita yang “sulit” mengenali dan menngunakan jenis metering yang ada dikamera. Cukup melihat hasil exposure di LCD sudah sesuai dengan keinginan, kemudian tekan shutter.

VIDEO :

Link Video : Live View Preview ON

B.3. LCD Flicker Issue

Seperti telah kita dengar tentang issue LCD Nikon D750 yang flicker saat pemotretan dengan live view. Flicker adalah gambar live view pada layar lcd menjadi bergetar/goyang saat digunakan dalam kondisi pencahayaan dibawah lampu fluorescent. Saya coba melakukan test dengan Hasil

  • Pada P : Flicker tidak terjadi
  • Pada S priority : Flicker tidak terjadi
  • Pada A priority : Flicker tidak terjadi
  • Pada M : Flicker terjadi pada kondisi speed diatas 1/160, flicker hilang pada speed di bawah 1/160

Sebagai catatan :

  • Flicker tidak terjadi pada kamera Nikon D750 saja, tetapi juga terjadi pada kamera-kamera Mirror less yang ada dipasaran. Bahkan merk kamera yang baru rilispun, saya telah mencobanya, tidak terhindar dari kondisi flicker ini.
  • Flicker terjadi pada kamera live view dengan mode Exposure Preview ON ( hasil metering exposure terlihat di LCD )
  • Flicker tidak mempengaruhi hasil pemotretan, hanya saat preview saja.

 

Meskipun pemotretan dilakukan dalam kodisi "flicker" hasil pemotretan tidak terpengaruh.

Meskipun pemotretan dilakukan dalam kodisi “flicker” hasil pemotretan tidak terpengaruh.

Video :

Link Video : Flicker pada Nikon D750

C. SENSOR

C.1. DXO Score

Sensor yang ditanamkan pada kamera ini adalah Fullframe CMOS 24 MPixel merupakan sensor desain terbaru Nikon dan buatan Sony Corp. Jika kita lihat Sensor score yang dibuat DXO diberikan overall score 93 point, dibandingkan dengan :

Nikon D810 :  Fullframe 36 MP, “kakaknya” Nikon D750 yang release hampir bersamaan memiliki score 97 point.

Nikon Df  : Fullframe 16 MP, “kakaknya” Nikon D750 yang release tahun 2013 memiliki 89 point

Canon 6D : Fullframe 21 MP release tahun 2012, yang merupakan kompetitor dekatnya memiliki 82 point.

Sony A7 : Fullframe Mirrorless 24 MP release tahun 2013, yang merupakan mirrorlessnya dan dengan sensor dari produsen yang sama SONY Corp. memiliki 90 point.

Dynamic Range :

Nikon D750 point 14.5 Evs menang dibandingkan Nikon Df point 13.1 Evs

Nikon D750 point 14.5 Evs kalah dibandingkan Nikon D810 point 14.8 Evs

Nikon D750 point 14.5 Evs menang dibandingkan Sony A7 point 14.2 Evs

Nikon D750 point 14.5 Evs menang dibandingkan Canon 6D point 12.1 Evs

Noise Range :

Nikon D750 point 2956 Iso kalah dibandingkan Nikon Df point 3279 Iso

Nikon D750 point 2956 Iso menang dibandingkan Nikon D810 point 2853 Iso

Nikon D750 point 2956 Iso menang dibandingkan Sony A7 point 2248 Iso

Nikon D750 point 2956 Iso menang dibandingkan Canon 6D point 2340 Iso

Color Depth :

Nikon D750 point 24.8 bits menang dibandingkan Nikon Df point 24.6 bits

Nikon D750 point 24.8 bits kalah dibandingkan Nikon D810 point 25.7 bits

Nikon D750 point 24.8 bits imbang dibandingkan Sony A7 point 24.8 bits

Nikon D750 point 24.8 bits menang dibandingkan Canon 6D point 23.8 bits

Melihat hasil score Nikon D750 yang dibuat DxO, dibandingkan “kakaknya” Nikon D810 dan Nikon Df serta dengan kompetitor di kelasnya Sony A7 dan Canon 6D, rasanya para insinyur desainer Sensor Nikon berhasil membuat sensor entry level fulframe yang sangat baik.

 

sensor Score

DXO Sensor score D750 dibandingkan dengan Nikon D810 dan Nikon Df

dxo sensor

DxO sensor score Nikon D750 dibandingkan dengan Sony A7 dan Canon 6D

 

 C.2. DP Review Test

Dalam DP review kita bisa lihat beberapa perbandingan hasil dari Nikon D750 dibandingkan dengan “kakaknya” dan beberapa kamera kompetitor satu kelasnya.

Nikon D810

Nikon D750 vs Nikon D810 pada ISO 25600 : Jika kita lihat Nikon D750 Noise handling Menang/lebih baik dibandingkan dengan “kakaknya” Nikon D810

Nikon Df

Nikon D750 vs Nikon Df pada ISO 25600 : Jika kita lihat Noise handling Nikon D750 Kalah dengan “kakaknya” Nikon Df

Canon 6D

Nikon D750 vs Canon 6D pada ISO 25600 : Jika kita lihat handling Noise Nikon D750 Imbang/setara dengan kompetitor dekatnya Canon 6D

Sony A7

Nikon D750 vs Sony A7 pada Noise 25600 : jika kita lihat handling noise Nikon D750 menang/lebih baik dari kompetitor Mirrorless Sony A7

C.3. TEST NOISE

Iso 200

Iso 200 : sangat baik

Iso 400

Iso 400 : sangat baik

Iso 6400

Iso 6400 : Sulit percaya ini hasil dari ISO 6400

Iso 12800

Iso 12800 : Masih sulit percaya ISO 12.800 hasilnya seperti ini

Iso 200 cropped

Iso 200 cropped 50%  : noise less

Iso400 cropped

Iso 400 cropped 50% : hasil noise less

Iso 6400 Cropped

Iso 6400 Cropped 50% : Hasil masih sulit membedakan dengan Iso 400

Iso12800 cropped

Iso 12800 cropped 50%  : hasil masih sulit menemukan noise

Iso 200 cropped2

Iso 200 cropped 100% :  hasil noise less

Iso 400 Cropped2

Iso 400 Cropped 100% : hasil Noise less

Iso 6400 cropped2

Iso 6400 cropped 100% : hasil masih sulit membedakan dengan Iso 400

Iso 12800 cropped2

Iso 12800 cropped 100% : hasil masih baik dan terlihat lebih kasar dibanding ISO 6400

Kesimpulan :

Nikon D750 yang menggunakan Sensor 24 MP dipadukan dengan processor Expeed 4 mampu menghasilkan handling noise yang sangat baik dalam pemotretan low light. Dan seperti kita ketahui Nikon menggunakan sensor buatan Sony, jika kita lihat dalam test, Sony A7 masih sedikit “noisy” dibanding dengan Nikon D750, mungkin desain sensor yang berbeda dan processor Nikon D750 yang lebih update mempunyai peranan dalam handling noise dengan lebih baik. Untuk mengetahui perkembangan sensor Sony terbaru kita tunggu dengan membandingkan pada camera andalan terbarunya Sony A7 II.

Dengan Kehandalan noise Nikon D750, dengan resolusi besar 24 Mpixel, kita tidak perlu kuatir lagi dalam pemotretan kondisi gelap. Noise handlingnya tidak berbeda jauh dengan si raja gelap Nikon Df  tetapi dengan resolusi sensor lebih kecil 16 Mpixel.

Jika medan pemotretan anda adalah low light maka D750 adalah kombinasi terbaik antara handling Noise yang baik dengan resolusi Sensor yang besar 24 Mpixel.

C.3. Dynamic Range Test

Nikon D750 sempat mengguncang review-review di media Sosial dengan Dynamic Range nya yang sangat unggul, bahkan menyerupai kemampuan phase one IQ diawal releasenya dimana image under 5 stops (gelap) mampu “diselamatkan” dengan di push hingga 5 stops dengan image yang masih cukup baik / acceptable. Dan ini mampu dicapai oleh sebuah kamera fullframe “entry level” alias kelas ekonomis ! mari kita lihat keunggulannya dengan menguji di Photoshop Camera Raw :

C.3.1. Push Image Under ( Plus )

Pada test ini menggunakan lensa Nikon AFS 50mm f/1.4, Iso 200, RAW dan dengan pencahayaan ruang yang sama.

normal exposure

normal exposure f/1.4 ,  s 1/10

under 5 stops

image under pada exposure f/1.4 , s 1/500

plus 5 stops dengan phooshop camera RAW

image di push/plus 5 stops dengan phooshop camera RAW, image dapat diselamatkan dengan baik, hanya terlihat ada pergeseran WB dan noise yang muncul.

hasil cropped 50%

hasil cropped 50% image masih baik/acceptable

C.3.2. Pull Image Over ( Minus )

Pada test ini menggunakan lensa Nikon AFS 50mm f/1.4, Iso 6400, RAW dan dengan pencahayaan ruang yang sama.

Normal

Image  exposure Normal f/1.4 dan s 1/400

over

image dalam kondisi over exposure : f/1.4 dan s 1/50

Pulled 3 stops

Pulled 3 stops image masih baik dan acceptable titik-titk over dapat terselamatkan detilnya

Cropped 100% pilled 3 stops

Cropped 100% pulled 3 stops

Pulled 5 stops

Pulled 5 stops image kurang baik dan cenderung titik-titik over menjadi gelap loss data

cropped 100% pulled 5 stops

cropped 100% pulled 5 stops

VIDEO :

Link Video Under image : Nikon D750 Under Image

Link Video Over image : Nikon D750 Over Image

Kesimpulan :

Jika kita lihat dalam pemotretan dengan Quality File RAW, hasil pemotretan yang under/ over masih bisa “diselamatkan”, dengan memperbaiki di Photoshop Camera RAW. Disini bukan berarti dalam kita melakukan pemotretan metering/exposure menjadi tidak penting lagi, karena bagaimanapun file yang diselamatkan qualitasnya tentu saja “drop/turun” dibandingkan dengan pemotretan pada exposure yang tepat. Dari test juga terlihat bahwa image yang UNDER lebih baik (kualitasnya) dalam recovery imagenya dibandingkan image dalam kondisi over, dengan kata lain pemotretan pada kondisi under masih lebih baik peluang perbaikannya.

D. AUTO FOCUS

Nikon D750 menggunakan modul terbaru dari Nikon yaitu : Modul Multi-CAM 3500 II, dengan 51 points with 15 cross-type, bahkan Nikon D810 dan Nikon D4s pun masih menggunakan seri yang lama Multi-CAM 3500.Bisa dibayangkan AF Nikon kelas “pemula” ini bakalan canggih dan handal untuk pemotretan sport dan low light.

D.1. Coverage Modul focus points

Nikon D750 vs Nikon D610/Nikon Df : Nikon D750 lebih unggul dengan menggunakan 51 AF points sedangkan Nikon D610/Nikon Df menggunakan modul dengan 39 AF points

Nikon D750 vs Nikon D810 : Nikon D750 lebih unggul karena sudah menggunakan modul terbaru Modul Multi-CAM 3500 II, dibandingkan dengan Nikon D810/Nikon D4s yang menggunakan modul Multi-CAM 3500. Menurut saya kelemahan dari Modul terbaru ini hanya sebaran/coveragenya lebih sempit dan cenderung lebih mengumpul di tengah.

 

focus modul pada Nikon D750

focus modul pada Nikon D750 dengan 51 points

Focus modul Nikon D610

Focus modul Nikon D610/Nikon Df dengan 39 points

Focus modul pada Nikon D810

Focus modul pada Nikon D810 dengan 51 points

D.2. AF PADA  LOW LIGHT

Modul Nikon D750 di claim mampu bekerja baik hingga kondisi gelap Ev -3 pada focus di center maupun dipinggir (dimana umumnya sisi terluar adalah titik focus terlemah).

Dalam uji coba ini saya melakukan pemotretan dengan membuat pattern dimana akan menjadi target buat AF, dan akan kita coba pada kondisi Redup dan Gelap, tingkat kegelapan bisa dilihat pada perpedaan exposure yang makin lama atau bisa dilihat pada video untuk melihat suasana gelap yang ditangkap oleh video recorder.

D.2.1. Kondisi Ruang Terang

Nikon D750 focus point di tengah, test di cahaya ruang terang. Hasil : focus terkunci sangat cepat.

Nikon D750 focus point di tengah, pada cahaya ruang terang, Exposure f: f/1.4, s: 1/20s, ISO: 100.  Hasil : focus terkunci sangat cepat.

Focus test tepi

Nikon D750 focus point di tepi pada cahaya ruang terang, Exposure f: f/1.4, s: 1/20s, ISO 100. Hasil : focus terkunci sangat cepat

VIDEO :

Link Video : Nikon D750 pada Ruang Terang

D.2.2 Kondisi Ruang Gelap

focus tengah gelap

Nikon D750 focus point di tengah, pada cahaya ruang gelap Exposure : f : f/1.4, S: 4s, Iso: 100. Hasil Focus terkunci dengan mudah

focus tepi gelap

Nikon D750 focus point di tepi pada cahaya ruang gelap, Exposure f: f/1.4, s: 4s, ISO:100. Hasil focusing sedikit lama ( “nge-hunting” sekitar 2-3 detik dan akhirnya terkunci)

VIDEO :

Link Video : AF Nikon D750 pada Ruang Gelap

Kesimpulan :

Modul terbaru AF pada Nikon D750 sangat responsif daan mampu mengunci pada kondisi gelap baik pada Focus point di tengah maupun di tepi. Saya coba bandingkan dengan Nikon Df ternyata pada test ruang yang gelap tidak mampu mengunci focus dengan mudah pada focus tengah dan tidak bisa mengunci pada kondisi ruang gelap.

D.3. KECEPATAN AF

Modul terbaru Nikon D750 memiliki kecepatan dan ketepatan yang menurut saya lebih cepat dibandingkan Nikon D4s.

Pada umumnya face detection bekerja pada live view LCD seperti juga pada LCD kamera mirror-less, tapi kali ini Nikon mulai melakukan upgrade Focus Face detection yang dapat digunakan pada Optical View Finder, pada metode metering matrix dan focus 3D Tracking. Good Job Nikon !

Setting : Focus Matrix metering : Face Detection ON

Setting Meter : Matrix ( cover evaluasi ke seluruh frame )

Focus Mode : AF-C

Focus Area Mode : 3D atau Auto

 

AFC #D Face detection : Gerakan yang cepat : AF 3D berusaha mengejar focus ke muka object

AFC 3D Face Detection: Gerakan yang cepat : AF 3D berusaha mengejar focus ke muka object

AFC 3D Face detection

AFC 3D Face detection : Gerakan lebih moderate :  focus mengejar ke muka dan  focus cenderung ke mata object

D.3.1 GROUP AF

Pada Test Subject bergerak ini saya menggunakan lensa Nikon AF 70-200mm VR2 pada bukaan f/2,8 dan speed 1/1250, Hi speed 6,5 fps dan Jpeg Basic.

Pada pemotretan subject yang bergerak Focus Mode Group AF sangat handal dalam memfocus subject yang berlari mendekati kamera. Pada pemotretan Burst/Continues 40 frames yang miss focus hanya 2 frame!

burst1

frame 1 – 8

burst2

frame 9 – 16

burst3

frame 17 – 24

burst4

frame 25 – 32

burst5

 frame 33 – 40

Dari 40  shoots miss 2 frames

missed 1

missed frame ke 1

missed 2

missed frame ke 2

D.3.2. AF 3D TRACKING 51 POINTS

Pada Test Subject bergerak ini saya menggunakan lensa Nikon AF 70-200mm VR2 pada bukaan f/2,8 dan speed 1/2000, Hi speed 6,5 fps dan Jpeg Basic.

Pada pemotretan menggunakan modul 3D Tracking 51 points, modul ini bergerak sangat cepat dan responsif ke all area coverage memfocus subject yang bergerak. Pada pemotretan burst/continues 60 frames hanya miss 1 frame !

burst 1

frame 1 – 8

burst2

frame 9 – 16

burst3

frame 17 – 24

burst4

frame 25- 32

burst5

frame 32 – 40

burst6

frame 40 – 48

burst7

frame 49 – 56

burst8

frame 57 – 60

Dari burst 60 frames, out of focus ada 1 frame

missed 1

missed 1 frame

 

F. CAMERA BUFFER

Pada pemotretan continues/burst sangat dipengaruhi oleh memory internal camera untuk dapat memotret sejumlah images/frames dengan kecepatan penuh 6,5 fps (frame per second) hingga kecepatan drop/turun karena buffer full.

Pada uji coba ini saya gunakan SD Card Sandisk Extreem 64 GB, Burst continues Hi Speed ( CH ) dengan kecepatan max 6,5 fps

F.1 FILE JPEG FINE

Pada pemotretan dengan File Jpeg Fine, kamera Nikon D750 mampu melakukan pemotretan burst dengan kecepatan max 6,5 fps hingga 49 frames dan setelah itu kecepatan mulai menurun. Dengan kata lain mampu memotret dengan kecepatan penuh selama +/- 7,5 detik dengan 49 Frames.

burst hingga 49 frames mulai drop/menurun speednya.

burst pada file Jpeg Fine hingga 49 frames pada kecepatan max

F.2 FILE RAW

Pada pemotretan dengan File RAW, kamera Nikon D750 mampu melakukan pemotretan burst dengan kecepatan max 6,5 fps hingga 15 frames dan setelah itu kecepatan mulai menurun. Dengan kata lain mampu memotret dengan kecepatan penuh selama +/- 2,3 detik dengan 15 Frames.

 

burst

burst pada file RAW hingga 15 frames  pada kecepatan max

VIDEO :

Link Video : Nikon D750 buffer Jpeg Fine

Link Video  : Nikon D750 buffer Raw

Note : Nyalakan speaker komputer anda untuk mendengarkan kecepatan burst.

Kesimpulan :

Pada pemotretan yang membutuhkan kecepatan burst max 6,5 fps, nikon D750 lebih nyaman menggunakan file Jpeg karena akan lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan moment yang bergerak cepat.

G. PICTURE CONTROL

Picture Control merupakan setting standard yang disediakan oleh camera sesuai dengan jenis pemotretan dan sesuai dengan keinginan kita. Pada camera Nikon seri sebelumnya picture profile ada : Standard, Natural, Portrait dan landscape. Pada seri Nikon terbaru D750 dan D810 nikon menambahkan picture profile FLAT. Seperti apa kelebihan dan kekurangannya, mari kita lihat :

Picture Style Landscape dan D-Lighting Normal

Picture Style Landscape dan D-Lighting Normal

Picture Style : Normal dan D-Lighting Normal

Picture Style Flat dan D-Lighting Normal

Picture Style Flat dan D-Lighting Extra High

Picture Style Flat dan D-Lighting Extra High

Picture Style Landscape dan D-Lighting Normal

Picture Style Landscape dan D-Lighting Normal

Picture Style Flat dan D-Lighting Normal

Picture Style Flat dan D-Lighting Normal

Picture Style Flat dan D-Lighting Extra High

Picture Style Flat dan D-Lighting Extra High

Picture Style Landscape dan D-Lighting Normal

Picture Style Landscape dan D-Lighting Normal

Picture Style Flat dan D-Lighting Normal

Picture Style Flat dan D-Lighting Normal

Picture Style Flat dan D-Lighting Extra High

Picture Style Flat dan D-Lighting Extra High

Kesimpulan :

Kelebihan

  • Dengan menggunakan picture profile ini brightness dari gambar yang dihasilkan menjadi merata, dimana pada sisi shadow akan diangkat dan sisi Hi light akan diturunkan.
  • Dengan ditambah peng-aktifan D Lighting akan semakin membuat sisi Shadow menjadi jelas/terang detilnya. ( perhatikan gambar pohon Natal )

Kekurangan :

  • Dimensi ( efek 3D ) gambar menjadi berkurang karena shadow/hi light menjadi. ( perhatikan foto arsitektur mall )

Note :

  • Sangat berguna pada pemotretan Jpeg, sehingga tidak perlu post processing yang panjang, untuk menghasilkan sesuai dengan profile yang ada.
  • Jika menggunakan RAW pastikan menggunakan Nikon View atau Nikon Capture agar efek/hasil dari picture profile tersebut bisa berguna/terlihat efeknya, karena jika menggunakan Photoshop Camera RAW umumnya setting (in camera profile/program) akan di OFF kan, sehingga efek/hasil dari picture profile tidak terlihat.

H. HIGHLIGT – WEIGHTED METERING

Salah satu kelebihan, Nikon D750 sudah dipersenjatai dengan Metode metering terbaru dari Nikon, yang saat ini sudah dipakai pakai pada Nikon D810. Untuk test ini saya akan mencoba 3 macam metering yaitu Matrix, Spot dan Highlight – weighted metering untuk membandingkan ketiganya.

H.1. Matrix Metering

matrix metering

Pada pemotretan dengan matrix metering, gambar diatas terlihat bahwa pencahayaan cukup baik dan balanced

matrix Cropped

Jika kita melakukan crop perbesaran maka terlihat bahwa bola kristal ( Hilight) menjadi over exposed

matrix cropped3

Pada sisi shadow tercahayai cukup baik

 

H.2. Spot Metering

Spot Metering

Pada pemotretan dengan Spot Metering di bola kristal mengakibatkan shadow menjadi dominan pada gambar di atas

Spot Cropped

Jika kita melakukan crop pada bola kristal tercahayai dengan baik

spot

Pada object gelap menjadi hitam/shiluet dan detil hilang

H.3. Highlight – Weighted Metering

Hifghlight - Weighted

Pada pemotretan mengunakan Highlight – Weighted, pencahayaan terlihat cukup baik dan balanced

Highlight - Weighted Cropped

Jika kita crop pada bola kristal ( highlight ) masih terexpose cukup baik detilnya

HW

Pada bangunan pencayahaan masih cukup baik sehingga detil masih terlihat

H.4. Perbedaan Highlight – Weighted dan Spot Metering

Highlight-weighted dan spot metering mempunyai “icon” pada kamera yang hampir mirip :

Icon metering

Icon metering

H.4.1. Highlight-weighted :

  • secara fungsi mirip dengan center-weighted tetapi lebih akurat dalam mengukur sisi highlight / over exposure pada suatu object.
  • Posisi metering ada di tengah kamera seperti center-weighted.
  • Sensor metering tidak bergerak sesuai dengan pergerakan point focus.
  • Perhatikan contoh dibawah walaupun point focus digeser ( camera, silver HD dan black HD) exposure tidak berubah, tetap mengacu hasil hitungan metering di tengah ( pada object camera ).
Metering Highlight - weighted berada di tengah, Focus point di tengah

Metering Highlight – weighted berada di tengah, Focus point di tengah, exposure f: f/1.4 dan s: 1/160

focus point digeser ke object silver HD, exposure tetap

focus point digeser ke object silver HD, exposure tetap, f : f/1.4 dan s : 1/160

HIW

focus point di geser ke arah object black HD, exposure tetap f : f/1.4 dan s : 1/160

H.4.2. Spot Metering :

  • secara fungsi melakukan pengukuran pada suatu areal yang sangat kecil sebesar kisaran point focus
  • Sensor metering bergerak mengikuti point focus.
  • Perhatikan contoh dibawah pada saat point focus digeser ( camera, silver HD dan black HD) exposure berubah menyesuaikan cahaya pada masing-masing object.
meter di camera, focus point di tengah.

focus point di object kamera, maka metering pada object camera. exposure f : f/1.4 dan s : 1/30

spot

focus point kita geser ke object silver HD, maka kamera melakukan kalkulasi exposure yang baru sesuai dengan pont focus. Exposure f : f/1.4 dan s : 1/100

spot

focus point kita geser ke object black HD maka kamera melakukan kalkulasi exposur yang baru pada focus point. Exposure f : f/1.4 dan s : 1/13

Kesimpulan :

Highlight – Weighted adalah yang digunakan pada object yang mengalami perbedaan cahaya cukup kuat sehingga ada kecenderungan menjadi over expose pada bagian tersebut. Metering ini bekerja sangat baik dengan dengan memaintain sisi Highlight-nya. Metering ini menjadi kombinasi antara center-weighted dan kemampuan spot metering untuk koreksi bagian highlight tertentu.

Metering ini bisa berjalan hampir pada semua lensa nikon yaitu type G, D dan E, pada Non CPU lens maka Highlight-weighted akan bekerja seperti center weighted

Untuk pemotretan panggung yang biasanya ada lampu-lampu spot yang cukup kuat, metering ini akan menjadi pilihan metering yang powerful, sperti terlihat contoh di bawah.

Link Nikon : Nikon Highlight – Weighted Tips

sample

Nikon sample

I. WHITE BALANCED

Nikon D750 sebagai kamera keluaran terbaru sudah seharusnya memiliki prosesor yang handal pada persoalan white Balanced. Untuk itu saya akan coba kemampuan AUTO white balanced kamera ini, apakah akurat atau menyimpang?

I.1. MIX LIGHTING

Pada test ini saya lakukan pada pencahayaan sulit, yaitu mixed lighting, antara cahaya matahari dari window lighting ( WB direct lighting ) dan cahaya lampu neon dengan jenis warm ( WB Fluorescent ). Seperti kita ketahui saat ini jenis lampu neon/fluorescent banyak sekali jenisnya sehingga kadang kita kesulitan menentukan type sumber cahayanya. Subject pada posisi separuh wajah terkena cahaya matahari dan separuh terkena cahaya lampu ruang.

Cahaya ruang di Mal, kombinasi mix lighting, antara Cahaya matahari dan lampu-lampu ruang.

Cahaya ruang di Mal, kombinasi mix lighting, antara Cahaya matahari dan lampu-lampu ruang.

WB AUTO : hasil akurat sehingga warna terlihat natural

WB AUTO : hasil akurat sehingga warna terlihat natural, kita melihat perbedaan gradasi cahaya dari matahari ke cahaya ruang warm Fluo.

WB Dirrect Sunlight, warna yang dihasilkan cenderung Warm

WB Direct Sunlight : warna yang dihasilkan cenderung Warm, pengaruh cahaya ruang terlihat lebih kuat

WB Neon Sodium-Vapor : hasil menjadi kebiruan

WB Sodium-Vapor Fluo : hasil menjadi kebiruan pada sisi direct sunlight

WB Neon Warm-white : Hasil terasa cool atau pucat walaupun terlihat tidak terlalu menyimpang

WB Warm-white Fluo : Hasil terasa cool atau pucat walaupun terlihat tidak terlalu menyimpang

WB Neon White-Fluo : Hasil warna cenderung magenta

WB White-Fluo : Hasil warna cenderung magenta

WB Neon Cool-White : Hasil warna cenderung magenta

WB Cool-White Fluo : Hasil warna cenderung magenta

WB Day-White Fluo : Hasil warna terasa warm

WB Day-White Fluo : Hasil warna terasa warm

WB Daylight Fluo : Hasil warna cenderung warm

WB Daylight Fluo : Hasil warna cenderung lebih warm

WB High temp mercury vapor : Hasil terasa magenta

WB High temp mercury vapor : Hasil terasa magenta

I.2. FLASH LIGHTING

Saya mencoba menggunakan flash untuk melihat White Balanced antara Auto dan WB Flash, apakah Auto WB masih akurat?

WB auto dengan Flash : Hasil warna skin tone akurat

WB auto dengan Flash Lighting  : Hasil warna skin tone akurat

WB Flash dengan Flash Lighting : Hasil warna skin tone akurat

WB Flash dengan Flash Lighting : Hasil warna skin tone akurat

 Kesimpulan :

Auto White Balance pada Nikon D750 sangat akurat dan bisa dihandalkan. Hal ini membuat kita tidak perlu bingung melakukan setting white balanced setiap pada situasi pencahayaan yang berbeda, terlebih jika kita menghadapi cahaya sulit atau mix lighting, cukup setting WB pada Auto.

Tentunya jika anda melakukan pemotretan yang khusus semisal Stiching Panorama, atau komersial, pengukuran WB secara manual ( Kelvin ) tetap akan menjadi pilihan terbaik, karena akan konstan dari frame ke frame.

I.  Built in WI-FI

Nikon D750 tidak mau ketinggalan dengan rivalnya Canon 6D, dengan memberikan “senjata” built ini WIFI untuk memudahkan koneksi dengan gadget iOS maupun Android.

step 1 : download Apps di Ios atau di android

step 1 : download Apps di iOS atau di android

step 3 : apps ready

step 2 : apps ready

step 3 : apps saat dibuka

step 3 : apps saat dibuka

step 4 : buka menu WIFI di camera

step 4 : buka menu WIFI di camera

step 5 : Wifi saat camera di on kan selalu dalam kondisi OFF untuk itu perlu di ON / enable

step 5 : Wifi saat camera di on kan selalu dalam kondisi OFF untuk itu perlu di ON / enable

step 6 : Wifi ID

step 6 : Wifi ID

step 8 : Buka Wifi Ipad dan lakukan pairing dengan camera

step 7 : Buka Wifi Ipad dan lakukan pairing dengan camera

Step 8 : pairing ready

Step 8 : pairing ready

Steps 9 : di lcd camera muncul "PC" tanda pairing berhasil dan siap wireless shoot.

Steps 9 : di lcd camera muncul “PC” tanda pairing berhasil dan siap wireless shoot.

Step 10 : view finder di gadget kita, focus touch screen dan shutter camera.

Step 10 : view finder di gadget kita, focus touch screen dan shutter camera.

Step 11 : hasil versi Jpeg tertransfer ke gadget kita, semakin besar setting type file maka semakin lama waktunya.

Step 11 : hasil versi Jpeg tertransfer ke gadget kita, semakin besar setting type file maka semakin lama waktunya.

VIDEO :

Link Video : Wifi Setting Nikon D750

 Kesimpulan :

Dengan adanya built in WIFI maka nikon D750 tidak perlu membutuhkan modul tambahan seperti misalnya Nikon WU-1A. Menjadikan Nikon D750  sangat praktis dan bisa connect ke gadget setiap saat, tanpa perlu setting modul.

Beberapa hal tentang built WIFI :

  • Pemotretan secara wireless menjadi lebih nyaman
  • Untuk pemotretan Landscape bisa berfungsi sebagai wireless shutter release yang nyaman dan bebas kabel.
  • Jarak jangkau yang cukup memadai sekitar 10 – 15 meter
  • Sistem apps yang masih sederhana membuat wireless lebih berfungsi sebagai shutter, focusing, live view dan transfer file Jpeg, tanpa bisa melakukan komunikasi yang kompleks semacam setting metering.
  • Baca juga : Nikon WU-1a : Wifi connection for DSLR

J. NIKON D610 vs D750 vs NIKON DF vs NIKON D810

Jajaran Nikon Full Frame saat ini sudah lengkap ter-update  semua, yaitu Nikon D4 diupdate ke D4s, Nikon D800/e diupdate ke Nikon D810 dan hadirnya segment khusus “purist” Nikon Df. Saya coba membuat scoring agar memudahkan kita memilih-milih kamera yang akan kita bawa pulang, kamera yang saya bandingkan adalah Nikon D610 vs D750 vs Nikon Df vs Nikon D810. Tabel scoring bisa dilihat dibawah dan jika kurang besar bisa di klik.

LINK TABEL FULL : perbandingan-nikon D610 vs D750 vs Df vs D810

SCORE1SCORE2SCORE3SCORE4SCORE5

 Kesimpulan :

  • Specification score : Nikon D810 (99), Nikon D750 (92), Nikon D610 (57) dan terakhir Nikon Df (51)
  • DXO score : Nikon D810 (9), Nikon D610 (7), Nikon D750 (7) dan terakhir Nikon Df (3)
  • Grand Total : Nikon D810 (108), Nikon D750 (99), Nikon D610 (64) dan terakhir Nikon Df (54)
  • NIKON D810 : Nikon D810 merupakan kelas tertinggi Nikon untuk kamera profesional dengan positioning di kelas studio. Upgrade yang dilakukan Nikon memang semakin membuat kamera ini menjadi Super Power dengan Resolusi sensor tertinggi di kelas DSLR ( 36 Mpixel )
  • NIKON D750 : Menurut saya kamera ini adalah “best Value for money” saat ini, antara harga dan spec yang tinggi. Nikon memang terlihat tidak mau kalah dengan rivalnya, sehingga memberikan specifikasi yang hampir sama dengan Nikon D810.
  • Nikon D610 : Merupakan kamera penerus si laris manis Nikon D600, melihat spesifikasi Nikon D750 jika anda berencana untuk membeli kelas entry full frame Nikon, tentunya Nikon D750 merupakan pilihan yang tepat.
  • Nikon Df : Nikon Df memang bermain di market “kecil” yaitu untuk para “Purist” atau para entusias yang senang bermain analog, simple, dan kembali ke-sejatian dari sebuah kamera. Seperti Kita ketahui bahkan Leica cukup serius dengan meluncurkan seri M tanpa LCD monitor dan seri Monochrom. Dan Nikon Df memang lebih ditempatkan sebagai flagships Nikon untuk bermain Fashion Limited Camera seperti masa film dengan Nikon F3 dan FM2, baru saja untuk pasar Jepang diluncurkan Nikon Df “Gold Edition”. Maka dari itu Nikon merasa tidak begitu perlu memberikan senjata Super Power karena pemakainya lebih menyukai “gaya” dan “sensasi”  Retro nya.

K. REKOMENDASI

PROS :

  • AF modul terbaru dan lebih baik dari profesioanl Nikon D4s dan Nikon D810, lebih cepat dan responsif pada cahaya gelap ( Low )
  • High Light – weighted Metering
  • Hi Iso Noise sangat baik untuk kelas resolusi 24 MPixel
  • Optical View Finder Face detection pada sistem auto focus optis ( lewat mirror)
  • Live View finder dengan feature Exposure Preview On
  • Built in WI-FI
  • Harga reasonable untuk sebuah kamera Full frame terbaru

CONS :

  • Buffer Memory untuk pemotretan continuos/burst terasa kurang ( RAW FILE )
  • Kasus Flare pada pemotretan cahaya dari arah atas dan tertentu, terjadi tidak pada semua kamera D750 tetapi pada batch tertentu. Dan saat ini Nikon sudah memberikan respon yang sangat baik untuk solusinya :
    • Merepair/ check, camera yang ada problem/terindikasi flare dan bebas biaya.
    • Melakukan penarikan stock yang tersedia untuk dilakukan check dan reapair.
    • Memberikan tanda dot hitam pada dudukan tripod socket sebagai tanda inpection OK
    • New batch diperkirakan mulai masuk February 2015
    • LINK case : DPreview Nikon D750 Flare
    • LINK case : Nikon Rumors D750 Flare service

REKOMENDASI AKHIR :

  • Jika anda pemilik Nikon D610 upgrade ke profesional class, dimana Nikon D750 memberikan pembaharuan feature-feature Pro terbaru dari Nikon
  • Jika anda akan melangkah ke kelas Full frame, pilihan Nikon D750 adalah tepat sebelum anda mulai melangkah ke step Hi Class Full Frame Nikon D810
  • Nikon D750 : BEST DEAL : merupakan kamera kelas pemula Full frame dengan spec kelas profesional line Nikon !!! Dengan harga berkisar 22 Jutaan menjadikan kamera ini Value for money!
  • TOP RECOMENDED CAMERA

 

Just A little Think and Click !

http://www.stephanushannie.com thanks to :

Nikon Indonesia

Mr. Sukimin Thio, Danu dan Edo

http://www.NikonUSA.com

http://www.DPreview.com

http://www.DXO.com

http://www.Nikonrumors.com

 

 

 

Nikon D4s : the Dark Knight

Pangeran Kegelapan Bangkit Lagi !

Seperti Batman yang bangkit kembali lebih powerful menjadi pahlawan buat Gotham city, demikian pula dengan Nikon D4 bangkit kembali dengan kekuatan yang lebih baik, NIKON D4s bangkit lagi!

Nikon D4s merupakan refinement upgrade dari Nikon D4 yang lahir pada 6 january 2012, memang tidak banyak perubahan yang dilakukan oleh Nikon tetapi perubahan yang ada menjadikan Nikon D4 menjadi lebih sempurna dan powerful. Beberapa kelebihan yang ada meliputi beberapa bidang seperti kecepatan, noise, awb, auto focus dan daya tahan, sudah saya tuliskan pada posting sebelumnya : Hands On : Nikon D4s the “fast n Furious”.

Kali ini saya diberikan kesempatan oleh Nikon Indonesia untuk mencoba  kelebihan nikon D4s ini. Beberapa topik saya coba kupas dari kamera ini :

1. SENSOR :

Nikon tidak melakukan upgrade pada jumlah resolusi, masih sama pada 16MP, tetapi melakukan refinement pada sensor ini. Apakah sensor ini lebih baik ? Saya coba membandingkan sensor Nikon D4s dengan Nikon D4, Nikon D3s, Nikon Df dan dengan jajaran tertinggi dari Canon Pro  Canon 1Dx dengan berdasar chart comparison DXO.

DXO TEST :

Test Score terhadap sensor dai DXO

Test Score terhadap sensor dai DXO, D4s, D4 dan Canon 1Dx

Test score dari Nukin D4s, Df dan D3s

Test score dari Nikon D4s, Df dan D3s

1.a OVERALL SCORE

Sensor Nikon D4s dibandingkan dengan Nikon D4 : hasil test DXO kedua sensor ini masih memiliki overall score yang sama yaitu 89 points.

Sensor Nikon D4s dibandingkan dengan Nikon Df : hasil test DXO kedua sensor ini juga masih memiliki overall score yang sama yaitu 89 point,

Sensor Nikon D4s dibandingkan dengan Nikon D3s : hasil test DXO menunjukan sensor Nikon D4s lebih unggul dengan overall scor 89 points sedangkan nikon D3s mengantongi score 82 points.

Sensor Nikon D4s dibandingkan dengan Canon 1Dx : hasil test DXO menunjukan bahwa sensor D4s lebih unggul 7 points dengan overall score 89 points sedangkan Canon 1Dx dengan overall score 82 points.

1.b. PORTRAIT SCORE ( Color Depth ) :

di sini ditandingkan tentang rentang kedalaman/kekayaan /jumlah dari warna-warna yang dihasilkan oleh sensor. Paling unggul pada test ini adalah Nikon D4 dengan 24,7 bits

Nikon D4s vs D4 : D4s kalah 24,4 bits dan Nikon D4 menang dengan 24,7 bits

Nikon D4s vs Df : D4s kalah 24,4 bits dan Nikon Df menang dengan 24,6 bits

Nikon D4s vs D3s : D4s menang 24,4 bits dan Nikon D3s kalah dengan 23,5 bits

Nikon D4s vs Canon 1Dx : D4s menang 24,4 bits dan Canon 1Dx kalah dengan 23,8 bits

Kesimpulan : Dari hasil test secara over all Nikon D4s, D4 dan Df mempunyai score yang sama, tidak mengherankan karena ketiga kamera ini memiliki basic sensor yang sama. 

2. NOISE

Nikon D4s melakukan upgrade Noise sebesar 1 stop terhadap pendahulunya nikon D4, jika pada nikon D4 top level ISO pada 12.800 maka nikon D4s di upgrade menjadi 25.600 dan masih bisa di extend hingga 4 kali Ev.

DXO TEST

2.a. SPORT ( Low Light ISO ) :

Di sini dibandingkan noise yang di hasilkan pada kondisi Iso tinggi. Pada Tolok ukur DXO kualitas noise accepted (qualitas foto) adalah pada 30 db.

Nikon D4s vs D4 : D4s menang 3074 ISO dan Nikon D4 kalah dengan 2965 ISO

Nikon D4s vs D3s : D4s kalah 3074 ISO dan Nikon D3s menang dengan 3253 ISO

Nikon D4s vs Df : D4s kalah 3074 ISO dan Nikon Df menang dengan 3279 ISO

Nikon D4s vs Canon 1Dx  : D4s menang 3074 ISO dan Canon 1Dx kalah dengan 2786 ISO

Kesimpulan : Pada Hitungan hasil score DXO pada tolok ukur 30 db, Nikon D4s masih kalah tipis dibandingkan dengan Nikon Df dan Nikon D3s. Tetapi pada setting ISO 25.600 hingga ISO tertingi 102.400, Nikon D4s menang dibandingkan Nikon D4 Nikon Df  seperti terlihat dalam grafik di bawah.

Grafik s/n ratio

Grafik ratio Nikon D4s, D4 dan Df

Ratio Noise

Grafik Noise Nikon D4s, D4 dan Canon 1Dx

DPReview TEST

Di sini dapat diperjelas lagi dengan Noise Test yang dilakukan oleh DPreview bahwa pada noise tinggi handling Nikon D4s masih lebih baik

Nikon D4s vs Nikon D4 vs Nikon Df

Nikon D4s vs Nikon D4

ISO 6400

ISO 6400 : Ketiga kamera diatas Iso yang dihasilkan sangat menyerupai (pembesaran 100%)

 

ISO 12800 :

ISO 12800

ISO 12800 : Nikon D4s terlihat lebih lembut noisenya, sedangkan Nikon Df dan D4 menyerupai  (pembesaran 100%)

 

ISO 25600

ISO 25600

ISO 25600 : Nikon D4s terlihat lebih baik handling noisenya dan foto yang dihasilkan masih acceptable (pembesaran 100%)

 

ISO 51200

ISO 51200

ISO 51200 : Nikon D4s lebih baik walaupun qualitas foto mulai menurun (pembesaran 100%)

 

ISO 102400

ISO 102400

ISO 102400 : Nikon D4s lebih leading walaupun qualitas foto yang dihasilkan sudah tidak acceptable (pembesaran 100%)

KESIMPULAN : terlihat dari perbandingan di atas Handling Noise Nikon D4s  menunjukan kinerja yang lebih baik

 

3. DYNAMIC RANGE

Pada Nikon D4s dilakukan refinement pada sensor dan processor EXPEED 3 apakah dengan perbaikan ini akan membawa keunggulan pada dynamic rangenya?

DXO Test

DR

Grafik Dynamic Range Nikon D4s vs D4 dan Df

DR 1DX

Dynamic Range Nikon D4s, D4 dan Canon 1Dx

1.c. Landscape ( Dynamic Range ) :

di sini dibandingkan tentang rentang gradasi dari gelap/shadow ke terang/hilight yang mampu ditangkap oleh sensor. Paling unggul pada test ini adalah Nikon D4s dengan 13,3 Evs

Nikon D4s vs D4 : D4s menang 13,3 Evs dan Nikon D4 kalah dengan 13,1 Evs

Nikon D4s vs D3s : D4s menang 13,3 Evs dan Nikon D3s kalah dengan 12 Evs

Nikon D4s vs Df : D4s menang 13,3 Evs dan Nikon Df kalah dengan 13,1 Evs

Nikon D4s vs Canon 1Dx  : D4s menang 13,3 Evs dan Canon 1Dx kalah dengan 11,8 Evs

Pada ISO 50 – 100 : terlihat Nikon D4s menang tipis

Pada ISO 100 – 1600 : terlihat Nikon D4s kalah terhadap rivalnya

Pada ISO 1600 – 102.400 : terlihat Nikon D4s meninggalkan rivalnya.

 

DPreview TEST

DR

Dynamic Range Nikon D4s vs D4 vs Df

Terlihat dari test oleh DPreview bahwa :

Nikon D4s vs Nikon D4 : Nikon D4s memiliki rentang DR lebih lebar/unggul pada sisi shadow dibandingkan rival pendahulunya Nikon D4

Nikon D4s vs Nikon Df :Nikon D4s memiliki rentang detil pada shadow yang lebih lebar/unggul dibandingkan Nikon Df, sementara Nikon Df hanya unggul 1 step pada sisi hi-lightnya

Nikon D4s vs Nikon D800 : Agak mengejutkan, Nikon D800 yang memiliki resolusi lebih tinggi dan memiliki score terbaik pada Test sensor DSLR ( DXO test ) ternyata kalah tipis rentang Dynamic Range dibandingkan Nikon D4s. Di mana Nikon D4s memiliki detil yang lebih baik pada shadow area (3 steps), sedangkan Nikon D800 lebih unggul pada sisi Hi-Lightnya (1 steps)

 

DR pada Extended LOW Iso

Dynamic range pada penggunaan D-Lighting

Terlihat bahwa penggunaan D-lighting mampu memberikan rentang Dynamic range pada sisi Hi light sehingga detil pada pencahayaan terang akan tertangkap dengan lebih baik. pada sisi  shadow masih termaintain dengan baik.

 

DR pada Extended Low ISO : 50

DR pada Extended Low ISO : 50

Penggunaan Extended Low ISO 50, akan memberikan efek dynamic range yang menurun pada sisi detil Hi-light, untuk itu ISO 50 bukan berarti sebagai titik tertinggi kualitas gambar pada nikon D4s tetapi hanya sebagai feature untuk memperlambat speed saja ( creative shoot )

4. AUTO WHITE BALANCE

Auto white balance pada kamera super ini tidak perlu dikuatirkan lagi, tinggal dipasang pada Auto maka semua sudah beres, warna putih akan menjadi putih pada siraman berbagai macam sumber cahaya.

Saya coba melakukan trial pada beberapa sumber cahaya artifisial yang secara umum sering dijumpai para fotografer yaitu fluorescent (neon) dan Tungsten (pijar).

TEST FLUORESCENT

Pada test ini object dicahayai sumber lampu dari neon, kita akan melihat seberapa akurat WB yang disediakan oleh Nikon D4s

Object full frame

Object full frame sebelum di crop 33%

WB : Auto 1

WB : Auto 1 , warna putih yang dihasilkan akurat

WB : Auto 2 (warm)

WB : Auto 2 (warm) , terlihat warna putih menjadi sedikit warm

WB : Cool White Fluorescent

WB : Cool White Fluorescent, warna putih cenderung akurat dan sedikit biru tipis

WB : White Day Fluorescent

WB : White Day Fluorescent, warna putih tidak akurat cenderung kekuningan

WB : Daylight Fluorescent

WB : Daylight Fluorescent : warna putih tidak akurat kekuningan

WB : Warm White Fluorescent

WB : Warm White Fluorescent, warna putih tidak akurat cenderung biru

WB : White Fluorescent

WB : White Fluorescent, warna putih tidak akurat cenderung kebiruan

WB : Sodium Vapor

WB : Sodium Vapor, warna putih tidak akurat cenderung biru

WB : High Temp Mercury Vapor

WB : High Temp Mercury Vapor, warna putih tidak akurat cenderung warm

WB Auto pada skin tone :

WB Auto pada skin tone : warna putih dan skin tone akurat

WB Cool White Fluorescent pada skin tone :

WB Cool White Fluorescent pada skin tone : Warna putih dan skin tone akurat dan sedikit kebiruan

Kesimpulan : White Balanced Auto 1 cukup akurat pada penggunaan jenis lampu neon / Fluorescence. Yang perlu diperhatikan adalah jenis lampu florescence sangat banyak jenisnya, sehingga jika anda ragu-ragu dengan menggunakan setting WB Fluo, lebih amannya gunakan Auto1.

TEST LAMPU PIJAR ( TUNGSTEN )

Pada test ini object dicahayai sumber lampu dari lampu pijat, kita akan melihat seberapa akurat WB yang disediakan oleh Nikon D4s

WB Auto 1 croped 33%, terlihat putih cukup baik walaupun masih sedikit terlihat kuning.

WB Auto 1 croped 33%, terlihat warna putih akurat.

WB Auto 2 croped 33%, warna puting menjadi semakin kuning kemerahan, karena Auto 2 memeng untuk warm style. Hati hati menggunakan wb ini pada pemotretan tungsten, warna menjadi makin kuning.

WB Auto 2 croped 33%, warna putih menjadi semakin kuning kemerahan, karena Auto 2 memang untuk warm style. Hati hati menggunakan wb ini pada pemotretan tungsten, karena warna warm menjadi semakin kuning.

WB Incandescent croped 33%, disini warna puting terlihat Natural

WB Incandescent croped 33%, disini warna puting cukup akurat dengan sedikit kekuningan

test 2 wb auto1

Pada skin tone Auto 1 (cropped 33%) : warna skin tone natural dengan sedikit kemerahan

wb auto2

Pada skin tone WB Auto 2 ( cropped 33% ) : terlihat skin tone menjadi sangat kemerahan

wb INCAND

Pada Skin tone WB Incandescent  ( cropped 33% ) : Terlihat lebih natural dibandingkan WB auto 1

 Kesimpulan : White Balanced Auto 1 sangat natural dan akurat terhadap warna putih, tetapi pada skin tone menurut saya warna lebih natural menggunakan WB Incandescent

5. AUTO FOCUS

Kecepatan dan presisi AF pada kamera profesional, terlebih yang lebih spesialis ke sport dan jurnalistik, merupakan salah satu feature kunci. Pada upgrade D4s, engineer Nikon menghadirkan focus Mode GROUP AF yang akan menjadikan jawaban terhadap kehandalan AF terbaru Nikon. Nikon sebenarnya sudah memiliki, Dynamic Area AF, 3D Tracking dan Auto Area AF yang selama ini menjadi andalannya, dengan upgrade feature ini apakah menjadikan AF menjadi lebih super dan akurat?

GROUP AF

Pada test AF ini saya lakukan di Dufan sebagai ajang untuk uji coba kehandalan AF nikon D4s, dengan melakukan pemotretan pada wahana yang bergerak cepat yaitu : Halilintar !

Pada foto dibawah digunakan

  • Lensa : Nikon AFS 50mm f/1.4
  • Speed : 1/5000
  • Aperture : f/1.4
  • Focus : AF-C
  • Focus Mode : Group Area AF
  • Release mode : CH (continuous shooting High speed)
  • ISO : 1 EV under 100

Pada Group area AF, kamera menggunakan 5 point focus dimana kelima titik ini aktif dan akan siap mendeteksi perubahan pergerakan pada subject, sehingga subject akan tetap terfocus dengan “aman”.

 

_DSC4423 _DSC4424 _DSC4425 _DSC4426 _DSC4427 _DSC4428 _DSC4429 _DSC4430 _DSC4431 _DSC4432 _DSC4433 _DSC4434 _DSC4435 _DSC4436 _DSC4437 _DSC4438 _DSC4439 _DSC4440 _DSC4441 _DSC4442 _DSC4443 _DSC4444 _DSC4445 _DSC4446 _DSC4447 _DSC4448 _DSC4449 _DSC4450 _DSC4451 _DSC4452 _DSC4453

 

PEMOTRETAN :  Pada saat kereta mulai bergerak menanjak saya mulai “memberondong” dengan menekan shutter dan mengikuti pergerakannya hingga kereta selesai melintasi putaran, total ada sekitar 130 frames, foto-foto diatas saya ambil sebagian pada saat kereta meluncur kearah lingkaran pada titik tercepatnya.

Hasil crop untuk perbesaran focus terhadap subject

Hasil crop 25 % untuk perbesaran focus terhadap subject

crop image 100%

crop image 100%

Kesimpulan : Pada hasil pemotretan halilintar pada kecepatan tertingginya (melintas dilingkaran), Group AF sangat memuaskan dan pergerakan kereta terfocus dengan baik. Dengan Focus Tracking with Lock On membuat kamera mampu mengatasi object “pengganggu focus” seperti tiang-tiang penyangga rel yang umumnya akan mempengaruhi focus (foreground maupun background).

FOCUS LOCK ON

Feature ini memang sudah lama dikenalkan sejak nikon D3 muncul, tetapi dengan tambahan Group AF merupakan kombinasi yang semakin memanjakan AF kamera kita. Feature ini berguna saat kita focus pada subject utama, kemudian tiba-tiba melintas subject kedua, dimana biasanya auto focus akan kalkulasi ulang pada subject terdekat, sehingga subject utama menjadi out of focus.

Lensa : 50mm

Diafragma : f/1.4

Speed : 1/500

AF-C

Group AF

Tracking Lock On : 3 ( Normal )

 

Saya coba ambil beberapa frame yang berurutan pada saat dua subject bertemu :

_DSC5188 _DSC5189 _DSC5190 _DSC5191 _DSC5192 _DSC5193 _DSC5194 _DSC5195

 

Untuk perbesaran saya coba ambil beberapa bagian frame :

Frame 1 ( crop )

Frame 1 ( crop )

frame 1 ( crop 100% )

Frame 1 ( crop 100% ) focus terjaga

frame 2 ( crop )

Frame 2 ( crop )

Crop 100%

Frame 2 ( crop 100% ) focus terjaga

frame 3 ( crop )

Frame 3 ( crop )

frame 3 ( Crop 100% )

Frame 3 ( crop 100% ) focus terjaga

Frame 4 ( crop )

Frame 4 ( crop )

Frame 4 ( crop 100% )

Frame 4 ( crop 100% ) focus terjaga

Kesimpulan : jika kita lihat dari frame-frame diatas subject bergerak terfocus dengan baik walaupun ada object bergerak pada sisi forground. Kombinasi antara Group Focus dan Tracking Lock On terlihat dapat bekerja dengan baik.

AF Tracking Speed

Test kecepatan focus tracking adalah salah satu ujian standard yang dilakukan pada camera sport. Test yang saya lakukan adalah mencoba melakukan Hi speed burst pada camera terhadap subject yang berlari mendekati kamera.

Lensa : 50mm

Diafragma : f/1.4

Speed : 1/500

AF-C

Group AF

Hi Speed Continuos drive

_DSC5090 _DSC5091 _DSC5092 _DSC5093 _DSC5094 _DSC5095 _DSC5096 _DSC5097 _DSC5098 _DSC5099

Kesimpulan : AF speed dari Nikon D4s bekerja sangat cepat dan baik untuk mengantisipasi pergerakan subject yang dinamis, sehingga setiap berondongan frame focus terhadap subject tidak meleset.

PROS dan CONS

PROS

  1. Group AF memberikan keunggulan pada sistim auto focus.
  2. Continuous shooting 11 fps
  3. Auto White Balanced mengalami improvement yang signifikan menjadikan kita tidak kuatir terhadap White balance yang meleset.
  4. Noise pada High level ISO mengalami improvement 1 stop dari sebelumnya.
  5. Dynamic Range pada ISO tinggi cukup baik dan unggul pada kelasnya.
  6. Battery lebih efisien 3020 shots.
  7. Upgarede Time lapse 9.999 shots

CONS

  1. Sensor tetap 16 MP sementara canon 1Dx sudah memakai 18 MP
  2. Memory card mempertahankan XQD yang kurang popular.
  3. Peletakan harga lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya, akan lebih baik Price placement tetap.

REKOMENDASI

  1. Seperti pada umumnya “S” adalah refinement dan extended version dari versi sebelumnya, sehingga improvement yang adalah “titik penyempurnaan” Nikon Flagship Camera.
  2. Jika anda pemakai D4 maka menunggu D5 muncul adalah keputusan yang bijak secara nilai ekonomis, tetapi jika anda menginginkan sebuah pencapaian teknologi terbaik Nikon yang sempurna maka Nikon D4s adalah jawabannya.
  3. Jika anda pemain baru pada camera profesional jurnalistik dan sport, pilihan pada D4s adalah recomended !

BERBAGAI SUMBER :

Many Thanks to Nikon Indonesia Mr. Sukimin Thio and Team

DXO

DPREVIEW

DUEL : Nikon AF-S 80-400mm Vs AF-S 70-200mm

duel

PERSETERUAN DUA LEGENDA TELE ZOOM !

Semua pemain Nikon Profesional bisa dipastikan memiliki lensa mid tele zoom, terlebih lensa andalan generasi terakhir Nikon AFS 70-200mm f/2.8 VR2. Lensa range ini merupakan lensa wajib bagi para profesional selain karena kualitasnya yang handal juga umumnya merupakan salah satu rangkaian lengkap dari wide ke tele yaitu 14-24mm, 24-70mm dan 70-200mm.

Nikon AFS 70-200 f/2.8 VR1

Nikon AFS 70-200 f/2.8 VR1 : Generasi pertama

Nikon

Nikon AFS 70-200mm f/2.8 VR2 : generasi terakhir

Selain lensa Nikon 70-200mm ini, nikon juga memiliki jajaran lensa Tele zoom lanjutannya yaitu AFS 200-400mm f/4 VR dan 80-400mm f/4.5-5.6. saya tidak akan membahas lensa AFS 200-400mm karena harganya yang mahal sehingga pemakainya relatif tidak banyak. Saya lebih akan membahas Nikon 80-400mm nya karena lensa ini merupakan pilihan alternatif antara 80-400mm atau 70-200mm. Pada generasi sebelumnya Nikon 80-400mm kurang popular karena kualitasnya yang kalah dibanding rivalnya 70-200mm selain itu 80-400mm yang memiliki diafragma vario dianggap sebagai lensa second class / semi pro.

nikon

Nikon AF 80-400 f/4.5-5.6 VR : generasi pertama

nikon

Nikon AFS 80-400mm f/4.5-5.6 VR2 : generasi terakhir

Nikon telah melakukan Update  Nikon AFS 70-200mm f/2.8 VR1 menjadi Nikon AFS 70-200 f/2.8 VR2 yang telah berumur hampir 5 tahun saat ini, setelah 13 tahun Nikon AF 80-400 f4.5-5.6 VR belum diupdate, akhirnya tahun 2013 Nikon melakukan pembaharuan menjadi AFS 80-400mm f/4.5-5.6 VR2. Apakah lensa ini akan tetap menjadi second class dan tidak popular lagi? Untuk menjawab, saya coba melakukan serangkaian filed test pada lensa ini untuk pemotretan panggung.  Karena untuk keperluan Panggung yang membutuhkan tele, agar lebih seru saya melakukan test dengan menggunakan TC ( tele converter 2X ) pada lensa 70-200mm agar diperoleh focal length dan diafragma yang sama dengan 80-400, yaitu focal length 400mm dan f/5.6 pada camera full frame Nikon Df.

Sebelumnya coba saya bedah spesifikasi masing-masing lensa terlebih dahulu :

NIKON AF-S 70-200mm f/2.8 ED VRII

  • Release 2009
  • Lensa Constructions : 21 elements in 16 groups
  • 9 round diaphragm : membuat bokeh menjadi lembut dan bundar
  • Lensa ED ada 7 Elemen
  • Minimum focus : 1.4 m
  • Maximum reproduction : 1/8.6X
  • VR II : vibrate reduction generasi kedua mampu handle up to 4 stops
  • IF : Internal Focus membuat ujung lensa tidak bergerak pada saat focus
  • N : Nano Coating untuk me-reduce ghost dan flare
  • Filter : 77mm
  • Tripod Collar : dudukan tripod yang sudah tersedia
  • SWM : Silent Wafe Motor yang cepat dan tidak bersuara sehingga gelar AF-S disandang
  • G : tanpa gelang diafragma
  • Berat : 1.532 gram
  • Made in Japan : umumnya untuk kelas pro Nikon.
Perbandingan elements lensa 2 generasi Nikon 70-200mm f/2.8

Perbandingan elements lensa 2 generasi Nikon 70-200mm f/2.8 pada generasi kedua lensa ED lebih banyak salah satu upgrade kualitasnya

nikon

Dari test score DXO : Nikon 70-200mm generasi kedua lebih unggul

NIKON AF-S 80-400mm f/4.5-5.6 VRII

  • Release 2013 setelah gen 1 tahun 2000
  • lensa Construction : 20 elements in 12 groups
  • 9 round Diaphragm : membuat bokeh lembut dan bundar
  • Lensa ED ada 4 buah dan Super ED ada 1 buah
  • Minimal focus 1.74m dari generasi sebelumnya 2.3m
  • Maximum reproduction : 1/5.7X
  • VR II : vibrate reduction generasi kedua mampu handle up to 4 stops generasi sebelumnya 3 stops
  • IF : Internal Focus membuat ujung lensa tidak bergerak pada saat focus
  • N : Nano Coating untuk me-reduce ghost dan flare
  • Filter : 77mm
  • Tripod Collar : dudukan tripod tersedia dan bisa dilepas
  • SWM : Silent Wafe Motor yang cepat dan tidak bersuara sehingga gelar AF-S disandang generasi sebelumnya tidak support sehingga focus tidak cepat.
  • G : tanpa gelang diafragma
  • Berat : 1.562 gram
  • Made in Japan : umumnya untuk kelas pro Nikon.
elemen

Elemen lensa AF 80-400 f/4.5-5.6 VR1 : hanya ED (kuning)lens tanpa Super ED lens

elemen

Elemen lensa AFS 80-400mm f/4.5-5.6 VR2 :  ED lens (kuning) lebih banyak dan terlihat tambahan Super ED lens (merah) menjadikan kualitas lensa ini unggul

nikon

Dari test score DXO : Nikon 80-400mm generasi kedua lebih unggul

FIELD TEST dg pendekatan Focal length ( CROP 100% )

untuk memudahkan perbandingan dari focal length yang sama maka urutan gambar berdasarkan focal length baik dengan TC maupun tidak pada Nikon 70-200mm.

Pada 400mm ( pada Max focal Length ), f/5,6

Nikon 70-200 + TC

Nikon 70-200 + TC : ketajaman kalah dengan Nikon 80-400; karakter lebih soft / dreamy look

Nikon 80-400

Nikon 80-400 : Ketajaman lebih superb, mengungguli Nikon 70-200mm + TC ; karakter keras

Pada 200mm ( Mid Focal length ) ; f/5,6

Nikon 70-200+TC

Nikon 70-200+TC ( pada 105mm) : ketajaman kalah dengan Nikon 80-400mm; karakter soft

Nikon 80-400

Nikon 80-400 : ketajaman lebih baik dibanding Nikon 70-200 + TC ; karakter sedikit soft

Pada 80 / 140 ( Min focal length ); f/5,6

Nikon 70-200 + TC

Nikon 70-200 + TC ( 70mm ) : ketajaman kalah dengan Nikon 80-400mm; karakter soft

Nikon 80-400 :

Nikon 80-400 : ketajaman lebih baik dibanding Nikon 70-200mm + TC; karakter keras

FIELD TEST dg pendekatan Lensa ( CROP 100% )

Pada test ini urutan gambar berdasar masing-masing lensa sehingga memudahkan perbandingan antar focal legth pada satu test lensa.

Lensa 70 – 200mm f/2,8 ( Tanpa TC )

Nikon 70 - 200

Nikon 70 – 200 : pada 70mm pada f/2,8 ketajaman sangat baik dan terkesan sedikit keras

Nikon 70-200 :

Nikon 70-200 : pada 105 mm f/2,8 ketajaman sangat baik terkesan sedikit keras

Nikon 70-200 :

Nikon 70-200mm : pada 200mm f/2,8 ketajaman baik dan terkesan soft dan dreamy look

Lensa 70 – 200mm f/2,8 ( TC )

Nikon 70-200 + TC

Nikon 70-200mm + TC : pada 140mm f/5,6 : ketajaman menurun dan terkesan soft

Nikon 70-200+TC

Nikon 70-200mm+TC :pada 220 mm f/5,6 : ketajaman menurun dan terkesan soft Nikon 70-200 + TCNikon 70-200mm + TC :pada 140mm f/5,6 : ketajaman OK dan terkesan soft  dan dreamy look

Lensa 80 – 400 mm

Nikon 80-400 :

Nikon 80-400mm : pada 80mm f/5,6 ketajaman baik dan terkesan keras

Nikon 80-400

Nikon 80-400mm pada 210 mm f/5,6 : ketajaman sangat baik dan terkesan sedikit soft

Nikon 80-400

Nikon 80-400mm : pada 400mm f/5,6, ketajaman superb dan tekesan keras

 

BOKEH

Bokeh antara lensa Nikon 70-200mm + TC dan Nikon 80-400mm pada focal length 400mm dan diafragma f/5.6 hampir menyerupai, saya pribadi lebih suka bokeh Nikon 70-200mm+TC dimana terkesan lebih solid dan bulat lembut.

bokeh

Bokeh Nikon 70-200mm + TC pada 400mm f/5.6

bokeh 400

Bokeh pada Nikon 80-400mm pada 400mm f/5.6

 

MY THOUGHT :

LENSA 70 – 200mm f/2,8

PRO :

  1. Lensa ini lebih memiliki karakter untuk portrait dan modeling, terasa lebih “soft” pada skin tone dan tidak keras walaupun tetap memiliki ketajaman yang sangat baik
  2. Tripod colar nyaman bergerak.

CONS:

  1. Tidak memiliki “focus Lock” seperti pada generasi sebelumnya
  2. Untuk keperluan Long Tele lens dengan menggunakan TC 2x lensa ini seperti sudah diduga kalah kualitasnya dibandingkan dengan Nikon AFS 80-400mm VR.
Focus lock pada Nikon 70-200mm generasi pertama sangat nyaman dalam membantu mengunci focus pada penggunaan continuos AF

Focus lock pada Nikon 70-200mm generasi pertama sangat nyaman dalam membantu mengunci focus pada penggunaan continuos AF

 

LENSA 80 – 400 MM f/4,5 – 5,6

PRO

  1.  Lensa ini memiliki karakter ketajaman yang super dan lebih terkesan “keras”.  Jika melihat performanya, updating/perbaikan Nikon pada lensa ini sangat significant, sehingga kualitasnya jauh meninggalkan generasi pertamanya. Tidak salah Nikon melakukan penambahan Super ED lens pada element lensa sehingga mampu meningkatkan performanya.
  2. AFS membuat focusing dengan lensa ini menjadi sangat cepat terlebih untuk focusing pada focal length tinggi yang membutuhkan akurasi yang baik pada Continuous Focusing. Catatan generasi pertama terkenal sebagai Zoom long tele lens yang “lelet” tanpa AFS.

    collar

    Tripod collar AFS 80-400mm VR2 : bisa bongkar pasang.

  3. Tripod collar lebih kokoh dan mantab pada monopod/tripod dibandingkan generasi pertama yang terkenal “goyah”.
  4. Hanya sangat disayangkan Tripod Colar tidak senyaman / semulus gerak nya dibanding lensa 80-400 generasi pertama dan 70-200mm, terasa kadang “stack / macet” saat digunakan dengan monopod dan bermain komposisi framing landscape ke portrait ke landscape secara cepat.
  5. Simple body, lensa ini walaupun dengan focal length 400mm tetapi cukup ringkas dan pendek dengan menggunakan system twist in and twist out untuk panjang pendek zoom.

    Body simple

    Body simple 

  6. Minimal focus pada 400mm hanya 1,7 M sangat nyaman untuk pemotretan ruang kecil.
  7. Dengan TC 2X dipasangkan di lensa ini maka focal length menjadi 800mm dan f/11, alhasil view finder menjadi drop gelap dan AF tidak berfungsi ( nge-hunt terus ); sehingga harus menggunakan focus manual. Hasil image masih cukup bagus ( lihat sample file ).
  8. Sistem locking zoom sehingga lensa tidak mudah Twist Out zoom (memanjang) sendiri saat dibawa.
Tombol Lock zoom sebagai pengunci saat dibawa.

Tombol Lock zoom sebagai pengunci saat dibawa/tidak digunakan

CONS

  1. Tidak memiliki “Focus lock” pada body lensa, sehingga kurang nyaman untuk sebuah pemotretan tele.
  2. Tripod collar tidak nyaman seperti tersebut diatas.

OVER ALL :

Untuk pemotretan panggung, sport, birding atau yang membutuhkan tele lens 400mm dengan harga yang lebih murah ( Rp. 31,5 juta ) dibandingkan fix lens 400mm f/2,8 ( Rp.102 juta ) maka Nikon AFS 80-400mm f/4,5-5,6 adalah pilihan yang tepat dengan kualitas yang super dan lebih ringkas tentunya.

Untuk bermain di Focal length 400mm, Nikon 80-400mm lebih superior kualitasnya dibandingkan dengan Nikon 70-200mm + TC 2. Jadi jika anda membutuhkan super tele lens sebaiknya langsung membeli Nikon 80-400 dari pada berfikir dengan “batu loncatan” TC 2X pada lensa 70 – 200. Menurut saya lensa ini layak sebagai another the legend of zoom lens !

TRIAL Nikon AFS 80-400mm VR2 ON JAVA JAZZ 20014 :

Sample foto tanpa diolah di photoshop, hanya convert dari RAW ke Jpeg dan resize ke file kecil.

data

File info : Nikon Df, 1/500, f/5.6, Iso 4000, focal length 380mm

data

File info : Nikon Df, 1/400, f/5.6 , Iso 3200, Focal length 400mm

data

File Info : Nikon Df, 1/500, f/5.6, Iso 4000, focal length 400mm

data

File info : Nikon Df, 1/400, f/11, Iso 8000, focal length +TC 800mm, monopod

data

File info : Nikon Df , 1/400, f/5.6, Iso 3200, focal length 220mm

 

Berbagai sumber :

Ken Rockwell

DXO

Nikon USA

 

Prediction : Nikon D9300

A LONG UPGRADE OF NIKON D300S ?

I-am-Nikon-D900

Pada laman Nikon Rumors mulai tersebar isu tentang akan dimunculkannya nikon D9300 dimana akan diposisikan sebagai generasi penerus Nikon D300s the King of DX sensor. Nikon D300s salah satu lini kamera nikon yang legendaris dan banyak pemakainya, karena Nikon memang menempatkan kamera ini pada lini DX sebagai kamera profesionalnya.

HISTORY DX PRO LINE UP

  1. Nikon D100 : rilis Feb 2002, 6 MPixel, AF 5 points, burst 5 fps, LCD 1,8 inch
  2. Nikon D200 : rilis Nov 2005, 10 MPixel,  AF 11 points, burst 5 fps, LCD 2,5 inch
  3. Nikon D300 : rilis Aug 2007, 12 MPixel, AF 51 points, burst 6/8 fps, LCD 3 inch
  4. Nikon D300s : rilis Jul 2009, 12 Mpixel, AF 51 points, burst 7/8 fps, LCD 3 inch + video
Generasi pertama Nikon D100

Generasi pertama Nikon D100

 

SPEC NIKON D300s

  1. Release : Diluncurkan sebagai upgrade minor pada juli 2009 sedangkan Nikon D300 sendiri diluncurkan pada Agustus 2007. Jika dilihat nikon D300s dalam era digital sudah bisa dikatakan mesin yang tertinggal.
  2. Sensor 12 MP : saat ini dirasakan sebagai kamera profesional studio sudah tertinggal dimana para pesaingnya sudah memakai sensor 24 MP. sebagai catatan Nikon D7100, Nikon D5300, Sony SLT 77 dan Sony SLT 65 memakai sensor 24 MP; sedangkan Canon 7D memakai sensor 18 MP dan Canon 70D dengan sensor 20 MP.
  3. ISO 200 – 3200 : kepekaan sensor pada cahaya low light sudah ketinggalan, dimana kamera saat ini minimal sudah bermain pada range iso 100 – 6400
  4. Focus point 51 : masih unggul pada kelas Pro, bahkan nikon Df hanya memiliki 39 point.
  5. Video 720HD / 24 fps : sudah ketinggalan saat ini
  6. Burst Speed 7 fps : masih lebih cepat dibandingkan Nikon Df
Generasi kedua Nikon D200

Generasi kedua Nikon D200

PPRODUCT LINE UP

Nikon terkenal sebagai produk yang menjaga investasi dari pemakainya seperti pada

  1. lens Mount : yang tetap konsisten tidak diganti pada jajaran SLR nya sehingga semua lensa era tahun 60 an hingga sekarang masih bisa dipakai. Tidak heran penggemar lensa klasik Nikon menyerbu nikon Df karena lens Mount sama, sehingga kualitas tidak drop karena faktor adapter.
  2. Tidak Kanibal : Nikon sangat hati-hati mengatur tingkat kelas produk dan featurenya sehingga satu dengan lainnya tidak saling mematikan.
  3. Upgrade Time : Nikon selalu mengatur waktu upgrade kameranya antara entry dan profesional sehingga customer tidak merasa produknya cepat usang.
  4. Nikon Line up :
  • Entry level DX :  seri D3xxx : Nikon D3300, upgrade cycle berkisar 1 tahun
  • Advanced level DX : seri D5xxx: Nikon D5300, upgrade cycle berkisar 1 tahun
  • Semi Pro level DX : seri D7xxx: Nikon D7100, upgrade cycle berkisar 2 tahun
  • Profesional level DX : seri D9xxx ???: Nikon D9300 (prediction) saat ini bermain nama di Dxx sehingga seri terakhirnya Nikon D300s bahkan rumor mengacu ke bilangan D400 upgrade cycle berkisar 2-3 tahun. dan upgrade terlama yang hingga sekarang belum muncul.
  • Entry Level FX seri D6xx: Nikon D610, upgrade cycle berkisar 1-2 tahun
  • Semi Pro level FX seri D8xx : Nikon D800, upgrade cycle berkisar 2-3 tahun
  • Classic Limited seri Df : kemungkinan upgrade cycle 3-4 tahun
  • Profesional journalist level seri Dx : Nikon D4s, upgrade Cycle berkisar 3-4 tahun
  • Profesional studio level seri DxX : Nikon D3x, upgrade cycle berkisar 3-4 tahun, hingga saat ini nikon belum terlihat untuk meluncurkan seri upgradenya.
Generasi ketiga Nikon D300

Generasi ketiga Nikon D300

NIKON D9300 PREDICTION

Apakah nikon akan meluncurkan upgrade nikon D300s ? apa alasannya ?

  1. Saat ini Nikon tidak memiliki Seri Profesional pada line Up sensor DX (crop factornya ) sedangkan pesaing ketatnya melakukan update dengan seri canon 7D yang ternyata sukses dengan serapan market pindahan dari canon 60D yang cukup besar.
  2. Banyak pemain profesional yang memakai sensor Dx karena dianggap crop factor sebagai keunggulan Tele, misalkan bird/wild life fotografer
  3. Nikon D7100 belum bisa memenuhi spec profesional
  4. Menghadapi seri upgrade canon 7D mark2 yang nantinya bakal lenggang kangkung di market profesional DX
Generasi keempat Nikon D300s

Generasi keempat Nikon D300s

PERKIRAAN SPEC NIKON D9300

  1. Nama Nikon D9300 : kemungkinan nama ini yang dipakai sebagai type seri DX, seri DXXXX sebagai line up DX, sedangkan DXX untuk FX semi pro. Angka 300 sebagai pengembangan terakhir pemakaian sensor Expeed 4.
  2. Sensor DX 32 MP : Saat ini paling ready adalah sensor 24MP, tetapi jika nikon serius sebagai TOP LEVEL dikelas DX seharusnya mulai berfikir melangkah ke 32MP karena bermain di 24MP tidak terlihat keunggulan dibanding “adik-adiknya” maupun para computitornya. Bahkan “pahlawan kesiangan” nanti bakal menjadi nama sambutan kedatangannya. Maka 32MP adalah kunci market dan revolusi di seri DX untuk menjaga sebutan “King of DX”.
  3. Sensor D300s : jika kita melihat sensor yang ditanamkan pada seri ini sudah merupakan sensor yang cukup unggul pada jamannya. Coba kita lihat unggahan dari laman DXO : 

    Jika kita lihat score sensor dibanding "adik-adiknya" sudah tertinggal kelasnya

    Jika kita lihat score sensor dibanding “adik-adiknya” sudah tertinggal kelasnya

    jika kita bandingkan dengan competitor dekatnya saat ini sensor Nikon D300s masih lebih unggul score nya

    Jika kita bandingkan dengan competitor dekatnya saat ini sensor Nikon D300s masih lebih unggul score nya

    Jika kita bandingkan dengan produser pembuat sensor Nikon, yaitu Sony, score product sejenisnya sudah lebih unggul di market. Dan dengan kata lain Sony sebenarnya sudah menyediakan sensor unggulannya di kelas DX

    Jika kita bandingkan dengan produser pembuat sensor Nikon, yaitu Sony, score product sejenisnya sudah lebih unggul di market. Dengan kata lain Sony sebenarnya sudah menyediakan sensor unggulannya di kelas DX tinggal Nikon Take action !

  4. Image Processor Expeed 4 lebih unggul dari nikon D7100 dan Df ( expeed 3 )
  5. Burst Speed : kecepatan burst 7 fps dan menjadi 8 fps dengan menggunakan vertical grip, lebih unggul dari Nikon D7100 ( 6 fps )
  6. Iso Range 100 – 25,600 lebih unggul dari Nikon D7100 ( 100-6400)
  7. RAW small version : RAW-s
  8. Focus Point : 51 point lebih unggul dari Nikon Df ( 39 point )
  9. Built in Flash sama dengan Nikon D7100
  10. Battery life 1400 setara dengan Nikon Df
  11. LCD 3,2 inch sama dengan Nikon Df
  12. Live View
  13. Better Seal Camera untuk water resistant sekelas Nikon D800
  14. 100 % coverage optical view sama dengan nikon D7100
  15. No AA Filter untuk kualitas image
  16. Harga berkisar 15 sd 20 juta ( harga umumnya lebih mahal dari canon 7D mark 2 hihihi)
  17. Jika di pasang sensor “breaking the DX sensor market” 30 MPixel maka harga berkisar 20 sd 25 juta

Demikian teman, sekedar prediksi dan sedikit mengenang history line up Profesional DX level dari Nikon yang legendaris… semoga kamera ini benar-benar rilis untuk memupus penasaran Nikonians selama ini atau justru tetap akan dipertahankan menjadi mistery sehingga tetap menjadi trending topic ???

Berbagai sumber :

DXO

DPreview

Nikon Rumors

NikonD9300_coming

Hands On : Nikon D4s the “Fast n Furiuos”

Mampir ke markas besar Nikon dan my big thanks, diberikan kesempatan untuk mengutak-atik  dan menghajar mainan papan atas Nikon saat ini, NIKON D4s, Kesannya Wow !!!… wusss wusss wusssss…… aku tercengang!!!!

Nikon D4s campaign

Nikon D4s campaign

Nikon D4s menyandang pangkat/tittle “S” sebagai sebuah produk extended dari produk sebelumnya D4 dengan dilakukan beberapa Refinement Upgrade. Upgrade perbaikan pun lebih pada penyempurnaan dari sebuah pencapaian product teringgi yang telah dilahirkan sebelumnya. Jadi boleh dikatakan inilah produk the almost perfect one papan atas Nikon (katanya di dunia ini ngga ada yang sempurna). D4s the Fast n Furious, seperti layaknya mobil sport jalanan, kamera ini memang lebih berbicara tentang kecepatan, ketahanan, kualitas dan mampu menantang kegelapan. Beberapa upgrade Nikon D4s dari D4 adalah :

The Body... kokoh dan mantab !

The Body… ergonomic, kokoh dan mantab !

ALL About Speed

  • 11 FPS with AF/AE , sebelumnya  D4 : 10 FPS with AF/AE
  • Ethernet Transfer dengan WT-5A : 1000 Mbps sebelumnya, D4 :100 Mbps
  • Group AF area untuk kecepatan dan keakuratan focus pada subject bergerak. Dengan 5 AF point menjadi 1 group aktif, dimana jika satu point focus maka 4 point disekitarnya akan aktif dan menjaga agar focus tetap terjaga,  sebelumnya D4 : tidak ada
  • RAW Size S : 12 bit uncompressed, pada D4 belum ada
Back Body

Back Body

ALL About Durability

  • Battery EN-EL18a mampu handling 3020 shots, sebelumnya D4 : 2060 shots

ALL About Quality

  • New Design! 16 mpix CMOS Sensor tetapi resolusi tidak ada perubahan dari sebelumnya.
  • Expeed 4 sebelumnya D4 menggunakan Expeed 3 : untuk perbaikan kualitas image. ( saya jadi teringat seorang teman Hartono Hosea yang bermain-main dengan Nikon D3300 dengan Expeed 4 untuk fashion photography image qualitynya diluar dugaan untuk sebuah camera entry level ).
  • Six Preset White Balanced, pada D4 : 3 presets
Iso 25,600 : push to the limit !

Iso 25,600 : push to the limit !

ALL About Darkness

  • Nikon D4s melakukan improved dalam handling noise pada iso tinggi, standard dari Iso 100 sd Iso 25,600 dengan Expanded ke iso 50 sd  iso 409,600 sedangkan batas ambang sebelumnya nikon D4 pada standard iso 100 sd iso 12,800 expanded ke iso 50 sd iso 204,800

My First Impression

  • Ergonomic dan terasa nyaman dalam genggaman dan operasi jari-jari.
  • Hi Speed Continuous Burst… terasa kayak mesin jahit ga ada habisnya dan buffer terasa unlimited!
  • Iso 6400 So Clean! Iso 12,800 Clean! Iso 25,600  OK, H-1 masih accepted untuk sebuah decisive moments, H-2 gunakan kalo kepepet lighting! H-3, H-4 Mungkin ga pernah kepake hehehehe kecuali paparazi atau mamarazi.
  • AWB akurat.
  • Focus cepat dan akurat, terlebih jika bermain dengan Grup Area AF
  • Masih sama CF +XQD ( kecepatan yang maximal tapi satu sisi kurang popular)

Memang perubahan yang ada tidak dramatis, tetapi sebuah penyempurnaan dari produk yang terbaik tentunya akan membawa kita ke batas “almost perfect”. Lets drift and race with Fast n Furious !

Dreaming the real one….

me and d4s

10 ways : Nikon DF get Oldiest !

Review Part 3

Nikon Df merupakan camera hybrid traditionalist yang menurut saya nyaris sempurna secara tiga aspek : penampilan, pengoperasian dan perlengkapannya. Banyak kamera retro looks yang  saat ini bermunculan, tetapi menurut saya beberapa hanya tampilan “cangkang” luarnya saja, bahkan ada yang tidak mengacu pada history camera lamanya. Dari sisi camera hybrid traditionalist memang Leica salah satu yang menjaga manual operasi sejak awal peluncurannya, walaupun produk terakhirnya mulai mengusung video dan live view, satu sisi Nikon justru mencoba kembali lebih simple / “pure” dibanding trend digitalisasi kamera jadul lainnya.

Nikon Df

Nikon Df

  1. Segi penampilan : Nikon Df meng-adopt real kamera analognya yang melegenda di masanya, baik secara model maupun skala ukuran yang nyaris serupa. Tengok saja Nikon F3 dan coba sandingkan dengan Nikon Df. What do You think ? almost twin sister !
  2. Segi pengoperasian : Nikon Df tetap mencoba melakukan pendekatan kamera analognya, lihat saja Top Plate nya memiliki sentuhan nikon jadul dalam pengoperasiannya dan locking system button-nya. Bahkan Nikon Df untuk mendekatkan Pure Photography-nya harus rela menghilangkan tren Video recording dan membatasi speed cameranya hanya 1/4000 sec
  3. Segi Perlengkapan : Nikon F mount merupakan kunci jawaban untuk Nikon Df, dengan mounting lensa yang konsisten dan tidak berubah pada era lama hingga kini, menjadikan Nikon Df dapat memakai lensa type Non/pre AI, AI, AI-S, AF, AFD, AF-S dan bahkan type G lens nya. Sehingga kamera Df benar-benar menghidupkan kembali deretan lensa-lensa manual / lamanya, Selain itu sederetan accessories lama masih bisa dipakai pada kamera Df, semacam cable release, Magnifier Finder, Speedlite dan bahkan synchro cable socket.
Nikon F3 HP

Nikon F3 HP

Saya mencoba bersikap sebagai hybrid traditionalist yang  mengembalikan Nikon Df saya kembali ke sensasi jadulnya. Beberapa langkah yang menurut saya perlu dilakukan untuk “mendandani” Nikon Df menjadi real retro look adalah :

1. Lensa Jadul :

untuk melengkapi kamera Df saya kembali membongkar peti perkakas lama hehehehe, sasaran adalah mencari lensa jenis AI-s karena menurut saya lensa ini secara kualitas dan model yang paling manis. Saya coba mencari lensa terbaik tetapi ekonomis menurut versi Ken Rockwell untuk versi lensa Ai-s ini.

Nikon DF with Nikon AI-s lenses

Nikon DF with Nikon AI-s lenses

  • Lensa 85mm f/1.4 Ai-s : lensa portrait ini memiliki kualitas yang sangat baik dan Bokeh yang unik, bahkan lensa ini sudah memiliki teknologi “floating element” (CRC) seperti yang dipakai pada lensa Leica saat ini. Harga lensa bekas ini pada kisaran Rp. 5.000.000 sd Rp. 7.500.000
  • Nikon 85mm f/1.4 AI-s

    Nikon 85mm f/1.4 AI-s

  • Lensa 50mm f/1.2  Ai-s : lensa noctilux versi ekonomis yang terakhir dari nikon ini merupakan salah satu lensa favorite karena saat ini Nikon belum mengembangkan jenis lensa normal noctilux lagi, Selain bokehnya yang gila dan dreamy look, lensa ini sudah memiliki teknologi “floating element” (CRC) seperti yang dipakai pada lensa Leica saat ini. Harga  lensa bekas ini pada kisaran Rp. 4.000.000 hingga Rp. 6.000.000
  • Nikon 50mm f/1.2 AI-s

    Nikon 50mm f/1.2 AI-s

  • Lensa 28mm f/2,8 Ai-s : lensa wide ekonomis ini merupakan salah satu lensa tertajam dan bebas distorsi linier pada jajaran lensa wide Nikon, salah satu lensa Arsitektur non PC yang legendaris, lensa ini sudah memiliki teknologi “floating element” (CRC) seperti yang dipakai pada lensa Leica saat ini. Harga lensa bekas ini pada kisaran Rp. 3.000.000 sd Rp. 5.000.000
  • Nikon 28mm f/2.8 AI-s

    Nikon 28mm f/2.8 AI-s

2. Speedlite

Nikon telah banyak sekali mengeluarkan jajaran lampu flashnya mulai dari SB-2 yang masih manual kemudian memasuki era TTL pada SB-15 dan hingga era canggih saat ini yaitu SB-910. Ciri khas dari speedlite jadul adalah modelnya yang horisontal, bukan seperti flash skarang yang modelnya “berdiri”. Untuk mencari speedlite jadul Nikon memang cukup sulit dibandingkan dengan mencari lensa jadulnya, tapi dengan kesabaran pasti anda bisa menemukan “harta karun terpendam”

  • SB-2 : nikon speedlite ini adalah keluaran pada era Nikon F dan F2, merupakan salah satu flash “tua” Nikon, saya bahkan jarang sekali menggunakan flash ini, takut putus heheheh, flash ini seharusnya dipasang pada dudukan pemutar film bukan dengan hot shoe seperti biasanya, jika anda mau digunakan pada Nikon df maka dibutuhkan adapter to Hot Shoe, nikon AS-2 Gun Coupler.
  • Nikon SB-2

    Nikon SB-2

    Gun Coupler AS-2 adapter to hot shoe

    Gun Coupler AS-2 adapter to hot shoe

     

  • SB-15 : nikon speedlite dengan teknologi TTL yang pertama, termasuk langka dan sulit dicari dalam kondisi mulus dan lampu masih “bening”
  • Nikon SB-15 TTL

    Nikon SB-15 TTL

    Nikon SB-15

    Nikon SB-15

     

  • SB-27 : merupan edisi terakhir nikon dengan versi horisontal atau tidur.
  • Nikon SB-27 TTL

    Nikon SB-27 TTL

    Nikon SB-27 Back

    Nikon SB-27 Back

     

3. Cable Release

Nikon Df tetap memberikan sentuhan jadul pada shutter release -nya dengan menggunakan kable rilis jenis ulir yaitu Nikon AR3 yang dipakai pada Nikon FM3A.

Cable Release AR-3

Cable Release AR-3

4. Soft leather Case

Nikon menyediakan leather case originalnya dengan Type CFDC6 dengan warna Hitam maupun coklat, sepeti biasa pelindung kamera ini bisa dipakai sebagai half case maupun penutup secara full case. Ada beberapa merk third party seperti dari Gariz maupun TP Original.

Soft Leather Case Orange  ala Hermes

Soft Leather Case Orange ala Hermes

5. Leather Strap

Nikon juga menyediakan leather strap originalnya dengan Type AB-SPL001 dengan warna hitam maupun cokelat. Banyak leather strap kulit yang beredar dipasaran dan memiliki nuansa jadul semacam Barton dan Artisan Artist.

Leather strap Barton

Leather strap Barton

Nikon Original Leather case and strap

Nikon Original Leather case and strap

6. Rubber Eye Cap

Seperti halnya pada era jadul F3 yang juga menyediakan accessories view finder ini yaitu dengan type DK-19. Dengan menggunakan rubber eye cap ini membuat kita lebih nyaman saat melihat view finder pada kondisi terik.

Nikon Rubber Eyecup

Nikon Rubber Eyecup

7. Magnifying Eyepiece

Saat anda menggunakan lensa jadul maka dibutuhkan pandangan yang presisi dan jelas di view finder, untuk itu gunakan magnifier ini yang akan memperbesar view finder anda hingga 1.2 Kali sehingga Focusing-pun akan terasa lebih nyaman. Setelah dipasang DK-17M selanjutnya baru dipasang rubber eyecup.

Magnifying DK-17M

Magnifying DK-17M

8. Split Image Focusing

Bagi penggila Lensa manual pasti akan mendapatkan sensasi real dengan merubah focusing screen standarnya dengan Split image yang biasa dipakai pada kamera jadul. Nikon tidak memberikan optional ini, tetapi kita bisa merubah focusing screen ini dengan menggunakan buatan Third Party seperti Katz Eye dan Focusingscreen.com , saya belum mendapatkan split focusing screen ini… hiks hiks hiks

9.  Retro Bag

Membawa camera retro ini tentunya kurang asyik jika tidak dilengkapi dengan tas edisi jadul. saat ini dipasaran banyak tas tas dengan model retro looks seperti tas camera “fashion” Billingham, Artisan artist maupun keluaran terbaru wotancraft.

Nikon Df with Retro bag

Nikon Df with Billingham bag

10. YOU !!!

Setelah camera anda jadul, tentunya sekarang saatnya fotografernya juga berpenampilan retro, bisa dengan berpakaian jadul, accessories pakaian retro dan mengendarai vespa kuno !!!! WOW…..!

YOU !!!

YOU !!!

Nikonian enjoy your Df ways !!!

Nikon WU-1a : Wifi connection for DSLR

Dunia fotografi digital berkembang demikian pesatnya, tidak hanya persoalan image saja yang menjadi unggulan tetapi faktor interkoneksi antar device saat ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan juga untuk semua level camera digital. Wireless atau interkoneksi tanpa kabel yang sekarang menjadi trend dengan menggunakan WIFI.   Sistem ini tidak saja untuk workflow antara camera, PC dan Storage saja, namun juga untuk bisa terhubung dengan Gadget dan langsung ke internet untuk social media misalnya.

Nikon WT-1 wireless Wifi era Nikon D2

Nikon WT-1 wireless Wifi era Nikon D2

Nikon WT-2 pada era Nikon D2X

Nikon WT-2 pada era Nikon D2X / D2H

Nikon WT-4 pada era Nikon D3

Nikon WT-4 pada era Nikon D3 dan D3X

Nikon WT-5 pada era Nikon D4

Nikon WT-5 pada era Nikon D4

Nikon sebenarnya sudah mengembangkan sistem ini WIFI sejak lama yaitu era Nikon D2, D2H dan D2X, tetapi semua diperuntukan bagi jajaran kamera profesionalnya. Modul yang pernah dirilis yaitu Nikon WT-1, Nikon WT-2, Nikon WT-3, Nikon WT-4 dan terakhir Nikon WT-5.  Melihat deretan modul WIFI diatas adalah modul yang Pro level dengan harga yang mahal kisaran 5 juta sd 12 juta rupiah.

Nikon WU-1a (perhatikan PIn konektor yang berbeda dengan WU-1b )

Nikon WU-1a (perhatikan Pin konektor yang berbeda dengan WU-1b )

Nikon WU-1b (perhatikan Pin konektor yang berbeda dengan WU-1a)

Nikon WU-1b (perhatikan Pin konektor yang berbeda dengan WU-1a)

Nikon melihat perkembangan sistem interkoneksi WIFI saat ini dibutuhkan tidak saja pada kamera PRO tetapi juga kamera semi pro, entry level bahkan kamera pocket juga membutuhkan (lebih untuk koneksi ke social media). Untuk menjawab kebutuhan tersebut Nikon mengeluarkan ( tahun 2012) modul wifi “kelas mini/praktis/ekonimis” yang cukup kecil, ringkas dan handal yaitu WU-1a dan WU-1b. Dengan WU-1a/1b kita tidak perlu harus membeli atau menunggu DSLR khusus dengan built in wireless wifi, karena hampir semua kamera DSLR Nikon yang kita miliki bisa memanfaatkan mini device ini, kecuali Non konektor DC2 semacam kelas PRO Nikon…. Dan harganya cukup ekonomis hanya perlu merogoh Rp. 625.000 sudah mendapatkan modul ini. Great Job Nikon !

Box Nikon WU-1a

Box Nikon WU-1a

Saya coba membahas tentang manfaat “mainan kecil” ini dan seperti apa performanya, karena menurut saya modul praktis Nikon WU-1a ini,  adalah modul MUST HAVE yang harus dimiliki saat ini ! (operasi antara WU-1a dan WU-1b tidak berbeda)

COMPABILITY and SPECS  :

Nikon WU-1a : Nikon Seri D3200, D3300, Nikon D5200, 5300, Nikon D7100, Nikon DF, Coolpix P7800, P330, Coolpix A, Coolpix P530, P520 untuk update compatible camera Link  NIKON :  Nikon Wu-1a

Nikon Wu-1a : Nikon D600, 610, Nikon 1 AW1, Nikon 1V 2, Nikon 1 J3, Nikon 1 S1  untuk update compatible camera Link NIKON : Nikon Wu-1b 

Gadget Compatibility :  OS: Smartphones, Tablets: Android™ version 2.3 or later (smartphone), Android version 3.0 or later (tablet). iPhone® and iPad®: iOS version 6.0 or later.
Max Range : Wi-Fi®: 11b/g/n (maximum range approximately 10-15m/33-49 ft).

Un boxing Nikon WU-1a

Un boxing Nikon WU-1a

SMALL and EASY

Nikon WU-1a ukurannya sangat kecil bahkan boleh dibilang hanya sebesar coin Rp.500,- sehingga sangat praktis dan tidak membebani berat kamera untuk dibawa kemanapun kita memotret. Justru karena kecilnya, unsur “mudah hilang” menjadi perkara berikutnya jika tidak berhati-hati. Untuk menghindari hal ini nikon telah menyertakan kompartemen penyimpan yang bisa dipasang pada strap kamera besarta tali kecil yang dikaitkan ke modul WU-1a.

WU-1a merupakan modul yang sangat kecil / mini

WU-1a merupakan modul yang sangat kecil / mini

di dalam the Clip Box

Di dalam the Clip Box

PLUG and PLAY

Cara pemasangan juga sangat mudah :

  • Matikan Power kamera
  • Buka karet konektor biasanya di samping kiri body camera anda
  • Umumnya konektor DC2 berada pada urutan paling atas
  • Tancapkan WU-1a pada konektor
  • Nyalakan/ON Power kamera
  • jika lampu menyala HIJAU berkedip pelan  berarti bahwa WU-1a sudah terkoneksi dengan baik, jika menyala MERAH berarti koneksi error ( matikan kamera dan nyalakan lagi ).

Ukuran WU-1a yang kecil/mini membuat keberadaan modul ini pada kamera tidak mengganggu handling operasional pemotretan.

Konektor untuk WU-1a

Konektor untuk WU-1a

Tancapkan WU-1a pada konektornya

Tancapkan WU-1a pada konektornya

Modul kecil tidak mengganggu operasional kamera

Modul kecil tidak mengganggu operasional kamera

APPS ON GADGET

Untuk menggunakan WU-1a jangan lupa kita terlebih dahulu melakukan download APP Nikon Wireles mobile Utility (WMU) ini pada gadget kita, untuk mendownload gunakan link di bawah :

ANDROID Apps Google Play link : Nikon Wireless Mobile Utility

tampilan di Google play store

tampilan di Google play store

iOS Apps  for iphone atau iPad : Nikon Wireless Mobile Utility

Tampilan di iOS App Store

Tampilan di iOS App Store

GADGET PAIRING

Untuk pairing antara Camera dengan Gadget sangat mudah, ikuti langkah berikut :

  •  WU-1a yang sudah terpasang sempurna, nyalakan kamera maka lampu hijau akan menyala dan berkedip pelan.
  • green
  • Nyalakan Gadget anda dan searching device Wifi
  • Pilih device wifi NIKON WU ……
  • setting wifi
  • Tekan WMU Apps pada gadget kita
  • Tekan tanda antena di pojok kiri atas, jika tanda silang pada antena sudah hilang berarti pairing sudah berhasil
  • antena nok
  • antena ok
  • Lampu pada WU-1a akan menyala hijau terus tanpa berkedip, maka kamera dan gadget anda sudah terhubung dan siap for Action!
  • green

MENU SHOT ON GADGET

Di sini ada 2 macam pemotretan, yaitu

  1. Pemotretan dengan Metode WMU : pemotretan dengan kendali di gadget, dengan metode ini maka fungsi exposure harus kita atur terlebih dahulu, karena kita tidak bisa mengatur exposure dari kamera dan juga dari gadget. Jika pemotretan kita pada outdoor dengan situasi lighting yang berubah-ubah maka sebaiknya gunakan mode : P, S atau A. Mode M dipakai jika kondisi lighting under control. Jika anda membutuhkan pemotretan yang cepat maka pilih download after OFF dimana download tidak dilakukan saat setelah shutter dirilis. Dengan kata lain fungsi gadget lebih sebagai live view dan shutter release.
  2. Pemotretan dengan metode CAMERA : dengan metode ini maka semua handling kendali di kamera dan hasil dapat dikirim ke gadget setelah shutter dirilis.
  3. Sebagai catatan download file dari kamera k gadget per file membutuhkan waktu berkisar 10 sd 15 detik.
Pilihan antara WMU dan Camera Operating

Pilihan antara WMU dan Camera Operating

METODE WMU

Untuk memulai memotret paka tekan TAKE PHOTOS maka kamera siap dioperasikan dengan gadget. Untuk focusing kita menggunakan metode touch screen, sentuh titik yang kita inginkan untuk focus, maka AF kamera akan bergerak untuk memfocus hingga titik warna focus pada hijau. Pada saat menggunakan metode ini control menu di body kamera tidak bisa difungsikan, dan di LCD kecil akan muncul tulisan PC.

Pada Metode ini fungsi kamera berubah menjadi Live view dan kita bisa melihat preview bidikan pada layar gadget kita, angka exposure tampil pada display namun kita tidak dapat melakukan control/merubah dari gadget.

Muncul tulisan PC untuk metode WMU

Muncul tulisan PC untuk metode WMU

Tekan TAKE PHOTOS

Tekan TAKE PHOTOS

DOWNLOAD

Setelah pemotretan/shutter rilis hasil akan terdownload langsung ke gadget,  yang perlu diperhatikan bahwa file yang terdownload di gadget adalah file kecil JPEG saja, tidak bisa disetting ke JPEG Original maupun RAW. Semua file JPEG Ori/RAW akan tersimpan di memory card kamera seperti pada pemotretan umumnya. Karena sifat file kecil maka metode ini lebih ke arah membantu untuk preview atau untuk social media transfer. Waktu untuk downloading juga cukup lama berkisar  10 sd 15 detik, jika dirasa terlalu lama maka fungsi download dapat di off kan.

File langsung terdownload

File langsung terdownload

File terdownload sempurna

File terdownload sempurna

File terdownload bisa di zoom preview seperti layaknya preview di gadget umumnya

File terdownload bisa di zoom untuk preview dengan metode touch screen 

METADATA dan GEOTAGING

Yang menarik adalah pada file metada ada info GEOTAGING atau posisi koordinat lokasi pemotretan, tentu saja hal ini sebagai nilai tambah pemotretan dengan metode ini. Sepertinya kamera kita built in GPS atau seakan-akan terpasang Nikon GPS 1 yang seharga 2,5 juta.

Geo tagging koordinat lokasi pemotretan

Geo tagging koordinat lokasi pemotretan

CONNECTING SOCIAL MEDIA

Bagi penggemar update/sharing social media maka, hasil pemotretan kita dapat langsung dikirim ke social media tanpa perlu repot transfer dan download terlebih dahulu dari memory card kita.

Siap koneksi ke social media

Siap koneksi ke social media

METODE CAMERA

Pada metode ini control tetap berada pada body kamera dan gadget berfungsi sebagai download file hasil pemotretan setelah shutter dirilis.

TAKE PHOTO TANPA LIVE VIEW

Pada metode kamera maka pada saat kita tekan take photo di gadget tidak muncul Live view  seperti pada metode WMU.

Pada metode camera maka gadget tidak menampilkan live view

Pada metode camera maka gadget tidak menampilkan live view

DOWNLOADING :

Setelah shutter camera kita lepaskan di body maka file  segera tertransfer ke gadget kita dan siap kita gunakan sesuai kebutuhan. Sebagai catatan file original RAW/JPEG tetap terekam di dalam memory card kamera kita.

Begitu shutter di rilis file segera terdownload.

Begitu shutter di rilis file segera terdownload.

File telah terdownload

File telah terdownload

Masih ada beberapa menu dan setting pada nikon WU-1a, saya coba bahas beberapa yang menarik.

VIEW PHOTOS :

Menu ini adalah untuk meilhat :

  1. Picture On Camera : untuk melihat isi memory card yang ada di kamera
  2. Camera Roll : untuk melihat foto yang ada di gadget
  3. Latest Downloads : untuk melihat foto yang terakhir terdownload di gadget (pemotretan terakhir)
    Menu View Photos

    Menu View Photos

    Ada 3 pilihan menu

    Ada 3 pilihan menu

SYNCHRONIZE CLOCK :

Menyamakan waktu camera dengan gadget kita, agar meta data presisi waktunya

Pilihan synchronize clock

Pilihan synchronize clock

PILIHAN THUMBNAILS :

Kita dapat memilih besarnya file data yang  ter-transfer yaitu antara standard dan large, tapi dengan catatan file ini adalah file yang sudah di compressed  ( maka istilahnya adalah thumbnails menu ) jadi file ini digunakan untuk keperluan preview atau kebutuhan file kecil saja. Sedangkan file RAW/Original Jpeg tersimpan di memory card.

Pilihan Thumbnail

Pilihan Thumbnail

SETTING LOCATION GEO TAGGING

Kita dapat melakukan setting geo tagging pada meta data kita, sehingga walaupun kamera kita tanpa device GPS tetap dapat memanfaatkan GPS dari gadget kita. Geo tagging adalah berdasarkan data lokasi pada waktu downloading file di gadget, bukan pada titik saat shutter di release, jadi ada kemungkinan bergeser jika kita berjalan.

Setting Geo Tagging

Setting Geo Tagging

PRO and CONS

PRO

  • Modul kecil dan praktis sekali
  • Nir kabel dengan menggunakan Wifi
  • System iOS dan Android
  • Sebagai preview yang bermanfaat
  • Berfungsi sebagai pelepas shutter dengan preview jarak jauh
  • Mampu memudahkan pemotretan angle extreem
  • Harga ekonomis dibanding WIFI kelas PRO Nikon, harga di kisaran Rp. 650 ribu

CONS

  • Tidak bisa transfer original File RAW/JPEG, file cenderung untuk preview
  • Waktu transfer lama berkisar 10 sd 15 detik per file, dan shutter dapat di release setelah download selesai
  • Tidak bisa digunakan direct ke laptop kita, karena tidak ada modul program di laptop.
  • Jarak Wifi hanya berkisar 10 sd 15 meter saja.

MY THOUGHT

Menurut pendapat saya modul WU-1a/1b tetap merupakan “must have” device karena dengan harga yang ekonomis kita dapat melakukan interface data dengan gadget yang umumnya sudah kita miliki (iOS atau android) dan sekaligus dapat memanfaatkan fungsi “ultimatenya” untuk membantu pemotretan konsep kreativitas yang OUT OF THE BOX !!!