Seblang : The Last Dance

seblang tittleBW

Kantuk makin terasa, pelan memacu mobil menembus kabut-kabut tipis yang berlarian di tanjakan jalan alas Kumitir,  Jember. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:45 pagi, jalanan gelap dan senyap, rasa takut menyergap  melintasi alas Kumitir yang terkenal dengan cerita angkernya. Maju terus pantang mundur demi sebuah hunting foto Seblang. Creepy Zone !

Kesibukan menjelang

Kesibukan menjelang

Masih terlintas kemaren malam seorang teman sms mengatakan “Ada acara seblang di Banyuwangi, kalo mau hunting nyusul”, tanpa berpikir panjang booking Lion Air untuk penerbangan malam hari ke Surabaya. Esoknya sepulang kerja langsung tancap gas ke Bandara, titip mobil, dan terbang ke Juanda dengan sedikit delayed. Setelah menikmati nasi campur Sidoarjo, sekitar pukul 20:00 petualangan perjalanan darat dimulai. Lonely Joyride!

Omprok telah selesai

Omprok telah selesai

Sekitar jam 04:00 Neon sign Merah, Biru dan Kuning masih terlihat dari jauh meski kantuk dan letih mulai terasa, akhirnya menepikan mobil di depan Indomaret Jajag dan tidur di dalam mobil. Setelah lelap tanpa mimpi, sinar matahari pagi dan bunyi bising klakson mobil membangunkanku. Sekarang saatnya melanjutkan perjalanan ke  kota Banywangi yang tinggal 30 menitan. Hunting Time !

Omprok

Omprok

TENTANG SEBLANG

Seblang adalah sebuah ritual tarian masyarakat Osing di Banyuwangi. Ritual Seblang dilakukan sebagi bentuk bersih desa untuk menghindari bencana, musibah, musuh maupun roh jahat. Dengan menjalankan ritual ini diharapkan kehidupan desa akan aman, tenteram, damai dan sejahtera. Ritual semacam seblang umumnya juga dilakukan oleh masyarakat di pedesaan Jawa lainnya seperti : Ngalap Berkah, Petik Laut, maupun sedekah bumi. Sebagai perwujudan atas rasa syukur atas hasil pertanian maupun hasil laut dan sebagai selamatan untuk dimulainya sebuah musim tanam maupun musim melaut agar diberikan kelimpahan hasil.

dua tetua

Dua tetua

Menurut id-Wikipedia : Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Merenda masa dalam kenangan

Merenda masa dalam kenangan

Pada Jamannya ritual seblang dilakukan diseluruh desa di Banyuwangi, tetapi dengan perkembangan jaman satu persatu mulai punah. Ritual seblang saat ini hanya bisa dijumpai di dua desa saja yaitu desa Olehsari dan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Bentuk ritual seblang kedua desa ini serupa tapi tidak sama yaitu :

Bersolek

Bersolek

A.      SEBLANG OLEHSARI

a.       Waktu pelaksanaan : seminggu setelah Idul Fitri

b.      Tempat : desa Olehsari

c.       Penari : gadis sebelum Akil Baliq

d.      Omprok/mahkota : dari daun-daun pisang

e.      Music : Kendang, gong, saron dan  tambahan Biola

Dua batas generasi

Dua batas generasi

B.      SEBLANG BAKUNGAN

a.       Waktu pelaksanaan : seminggu setelah Idul Adha

b.      Tempat : desa Bakungan

c.       Penari : perempuan yang sudah berhenti haid (menopause)

d.      Omprok/mahkota : dari bunga segar dari sekitar kuburan/kebun

e.      Music : kendang, gong dan saron

Dupa awal prosesi

Dupa awal prosesi

Seblang tidak terlepas dari ritual mistis karena menghadirkan roh halus sebagai “pengisi” sang gadis seblang.  Dalam upacara ini dukun-dukun yang bekerja memimpin upacara ritual, membaca mantra, memberikan sesaji dan membakar kemenyan hingga sang seblang “hidup”. Sang penari yang telah dirasuki roh diarak dari rumah dukun ke arena tari di lapangan desa. Sepanjang acara sang penari dalam kondisi “in Trance”, diiringi suara musik gendhingan, menari berputar mengikuti sang dukun dan menjalankan prosesi hingga akhir.

Langkah - langkah melintas

Langkah – langkah melintas

Acara ritual seblang diadakan selama 7 hari, dari hari kehari ritual yang diadakan kurang lebih sama, sedangkan pada hari terakhir ada sedikit perbedaan karena seblang akan diarak keliling desa sebagai bentuk ider bumi, semacam prosesi akhir membersihkan desa sebagai tolak bala.

Sebuah adat yang tetap menyatu

Sebuah adat yang tetap menyatu

JURNAL SEBLANG OLEHSARI

Seblang yang menjadi target hunting kali ini dalah Seblang Olehsari di kecamatan Glagah. Agak sulit untuk mencari desa Olehsari yang ternyata masih di pinggiran kota. Bertanya pada anak muda di pinggir jalan mereka sudah tidak fasih dengan kata seblang, mengandalkan sepanduk info sebagai suatu bentuk hajatan kota ternyata nyaris tidak ada, mungkin pemerintah daerah lebih senang acara fesival/karnaval fashion modern ? (entahlah), akhirnya setelah mencari tau dari bapak tua baru terjawab semuanya.

Janur melambai

Janur melambai, kendang dan gong telah siap

Panas sangat terik, kulit terasa tergigit matahari, menyusuri gang kampung di kota pesisir pantai. Terlihat spanduk seblang ada di ujung gang dan para pemuda mengatur penitipan sepeda motor maupun parkir mobil. Sebuah hajat kampung sedang berlangsung. Memasuki lorong menuju rumah pembuat Omprok/mahkota untuk sang penari seblang, disini rasa mistis mulai terasa. Sudah banyak anak-anak dan beberapa fotografer yang berkumpul untuk melihat ritual di rumah omprok ini.

Arena dengan cepat penuh dengan penonton

Arena dengan cepat penuh dengan penonton

Rumah berdinding anyaman bambu ( jawa : gedhek ), dengan jendela kaca besar di sisi depan, menjadi saksi proses pembuatan omprok. Memasuki ke rumah yang sempit, di dekat jendela depan ada sebuah dipan dan terlihat omprok tergantung di atasnya, dijagain oleh sang pembuat omprok, seorang ibu tua. Omprok adalah mahkota yang nantinya di pasangkan dikepala seblang, terbuat dari daun pisang muda yang dipotong menyerupai rambut rasta berjuntai hijau muda dan dihiasi beberapa bunga warna merah. Masih terasa suasana lebaran, suguhan kue khas lebaran  tersaji di meja, stoples-stoples kaca antik berisi penganan kacang dan kue khas kampung, dan gelas-gelas minuman warna-warni mengundang selera. Sebuah sambutan ramah dan tawaran untuk makan penganan dan minum membuat kita merasa diterima oleh tuan rumah. Sungguh suasana keramahan yang sudah sulit ditemukan di kota besar. Sesekali  anak-anak masuk dan berkumpul berkeliling melihat omprok dan sesekali fotografer masuk untuk memotret.

Sang penari mulai berlenggok penuh pesona

Sang penari mulai berlenggok penuh pesona

Setelah menunggu sekitar 1,5 jam di rumah pembuat omprok, akhirnya tiba saatnya ritual seblang dimulai. Seorang ibu tua membawa omprok keluar menuju rumah dukun dimana sang penari berada, letaknya tidak jauh dari rumah omprok. Setelah prosesi ritual “menghidupkan” si gadis seblang di dalam rumah sang dukun ( fotografer tidak diperbolehkan meliput ), akhirnya gadis seblang dituntun keluar rumah. Sang seblang sudah menggunakan omprok yang menutupi seluruh wajahnya sehingga tidak terlihat rona mukanya. Seblang yang sudah dalam keadaan kesurupan memulai ritual di jalan depan rumah dukun, sebelum akhirnya di arak ke arena tari di lapangan desa. Sang kepala dukun membaca mantra diiringi dengan asap-asap kemenyan, wangi mistis terserap hidung. Sesekali daun yang menutupi wajah seblang terkuak, tampak wajah anak gadis yang terpejam matanya dan terkesan “kosong”.

Sang sinden melantunkan lagu

Sang sinden melantunkan lagu

Setelah mantra selesai, arak-arakan menuju arena dimulai. Payung kuning selalu memayungi sang seblang yang berjalan di tuntun mengikuti sang dukun yang membawa anglo kecil untuk membakar kemenyan. Warga desa dan anak-anak mengikuti di belakang sang seblang seakan membentuk barisan. Warga desa keluar rumah atau sekadar melongok dari jendela untuk menyaksikan arak-arakan.  Perjalanan arak-arakan melalui gang kampung sejauh sekitar 500 m menuju lapangan desa dimana arena tari sang seblang cilik telah disiapkan.

Di balik panggung

Di balik panggung

Memasuki arena lapangan desa, terlihat sudah ramai oleh warga yang menanti sang seblang, para penjual makanan, penjual mainan anak-anak, dan terlihat pula para tamu undangan. Lapangan pun sudah di sulap, diujung lapangan sebuah arena seblang sudah berdiri dengan diberikan pagar bambu, atap plastic dan hiasan tanaman tebu dan janur kuning; di sebelah panggung tari didirikan tenda khusus untuk para undangan pejabat.

Game vs Seblang

Game vs Seblang

Musik mulai dimainkan menyambut sang seblang, terdengar irama dengan ritme yang berulang-ulang serta nyanyian dari pesindennya. Penonton mulai menyemut mengelilingi arena panggung sementara sang seblang duduk di apit oleh ibu tua. Acara dimulai dengan sambutan oleh perangkat kecamatan Glagah, bercerita tentang pentingnya melestarikan adat budaya. Setelah sambutan usai tarian seblang segera dimulai. Suara music gendhing makin keras bertalu-talu dan sang seblang mulai menari mengikuti sang dukun yang menari berkeliling arena yang bentuknya bulat.

Prosesi sang dukun saat Seblang istirahat

Prosesi sang dukun saat Seblang istirahat

PROSESI TUDINGAN

Tudingan adalah sebuah prosesi ditengah tarian sang seblang, dimana setelah berputar-putar sang seblang akan melempar selendang kearah penonton, bagi penontong yang terlempar/kejatuhan selendang harus naik ke panggung untuk menari bersama seblang. Bagi seseorang yang terkena lemparan selendang dipercayai akan mendapatkan keberuntungan sehingga kebanyakan dengan senang hati naik penggung menari dengan seblang. Lemparan seblang tidak berarti selalu mengarah ke seorang lelaki ( bayangan saya karena seblang seorang gadis tentunya akan memilih seorang lelaki) tetapi beberapa kali terjadi mengarah ke seorang wanita, yang tentunya harus naik panggung untuk menari bersama sang seblang. Jangan pernah menolak ajakan seblang untuk menari, kata warga setempat, karena seblang akan “mengejar-ngejar” sampai yang diinginkan mau menari bersama. Terbukti saat ada seorang wanita dilempar selendang dan menolak untuk menari, akhirnya pingsan dan seperti kerasukan. Setelah si wanita mau menari bersama seblang diatas panggung barulah “tersadar” kembali.

Saatnya kembali ke tersadar

Saatnya kembali ke dunia realita

PROSESI KEMBANG DHERMO

Di tengah acara juga ada prosesi bagi penonton untuk membeli bunga, harga bunga terserah pada kita berapa uang yang akan di dermakan/sumbangkan. Rangkaian bunga terdiri dari 3 kuntum dan ditancapkan di sebilah bambu. Bunga ini dipercayai sebgai penolak bala dan pembawa keberuntungan, sehingga sering ditaruh di rumah maupun di sawah.

Saatnya pulang ke rumah

Saatnya pulang ke rumah

AKHIR ACARA

Setelah acara menari, prosesi tudingan dan prosesi kembang dhermo, akhirnya berakhir setelah kurang lebih berlangsung 3 jam. Pada akhir acara sang seblang disadarkan dari keadaan kesurupan oleh sang dukun dengan di tidurkan di atas tikar di arena tarian. Sambil mengucap mantra-mantra akhirnya sang seblang tersadar dalam kondisi lemah dan di bawa pulang ke sang dukun.

Sang penjaga adat

Sang penjaga adat

Maghrib menjelang, salwati ( 16 tahun ) sang seblang keluar dari rumah sang dukun dan jalan pulang ke rumahnya dengan ditemani kakaknya. Mampir kerumahnya di sebuah sudut jalan, banyak kerabat yang tengah berkumpul dirumahnya. Khas anak gadis yang masih malu-malu, Salwati ditemani oleh adiknya menyapa tamu, lebih banyak senyum saat ditanya daripada menjawab sehingga kakaknya lebih banyak berperan untuk bercerita. Kabarnya inilah tarian terakhir Salwati karena tahun depan sang seblang sudah menginjak remaja dan sudah tidak bisa menjadi seblang lagi.

Salwati dan adiknya

Salwati dan adiknya

Sebuah tarian terakhir sang penerus tradisi serta sebuah tugas tradisi yang telah disandang dan diakhiri dengan baik. Sang penerus yang masih sering dilihat dengan sebelah mata,  suatu saat semangat itu akan meredup dan menghilang ditelan jaman. Akankah?

 
Ucapan Terima kasih :
Keluarga Pak Wien, Banyuwangi
Keluarga Mbok de Marina, banyuwangi
 
Berbagai Sumber :
 ID Wikipedia
Kaukus muda Banyuwangi
Kompasiana Kompas
 
 
Camera :
 Nikon, 14-24 mm, 70-200 mm dan 24 mm
Leica, 18 mm dan 35 mm
 

5 responses to “Seblang : The Last Dance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s