LASEMAN : Akhir Panggung Hidup Generasi

tittle2

“Apakah tentang Batiknya?”

“Apakah tentang Arsitektur Tionghoa-nya?”

“Apakah tentang Kerukunan Etnis dan Agamanya?”

Berbagai pertanyaan muncul, tentang tema pemotretan setelah menerima ajakan dari seorang teman baik saya fotografer National Geographic, untuk ikut ke festival Laseman. Akhirnya, pilihan hati jatuh pada tema tentang “Generasi Tionghoa Lasem saat ini”.

laem9

Perjalanan menuju sebuah “Negeri Tiongkok kecil” pun dimulai dengan merayapi jalan “De Grote Postweg” sebuah “Jalan Pos yang Agung”, peninggalan Daendels di pesisir pantai utara. Merayapi sebuah jalan urat nadi transportasi Jawa disertai dengan buaian angin laut yang panas dan sebatas mata memandang bentangan saujana ladang garam. Here we are Lasem !

lasem19

Sejarah Singkat Peranakan Tionghoa

Lasem adalah sebuah kota kecil di pesisir pantai utara yang masuk kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Boleh dibilang kota ini cukup kecil dan sepi tetapi jejak sejarah kota tua ini sangatlah panjang.  Tercatat dalam Babad Lasem karya Mpu Santri Badra pada tahun 1479, di mana Lasem masuk dalam wilayah pemerintahan Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh seorang Ratu Dewi Indu yang bertindak sebagai Adipati, kemudian masa Kolonial Belanda, masa Pendudukan Jepang dan hingga masa Orde baru, kota tua Lasem selalu menjadi perlintasan dan persinggungan sejarah yang penting khususnya peranakan Tionghoa pesisir.

lasem14

Sejarah Lasem tidak bisa dilepaskan dari para peranakan Tionghoa, itulah yang membuat Lasem unik, sebuah kota kecil yang jauh berkisar 110 km dari Semarang, di sisi pesisir timur Jawa tetapi memiliki penduduk Tionghoa yang cukup banyak. Beberapa catatan sejarah berkaitan dengan asal-usul peranakan Tionghoa di Lasem :

  • Salah satu pelabuhan masa Majapahit selain Ujung Galuh (Surabaya).
  • Kota pelabuhan persinggahan dan perdagangan kapal dari Cina, untuk menjual porselain dan membeli hasil bumi seperti padi.
  • Abad 14, Armada Laksamana Cheng Ho singgah di Lasem
  • Abad 14, Bi Nang Un anggota awak kapal Laksamana Cheng Ho menetap di Lasem.
  • Na Li Ni istri Bi Nang Un dari Campa yang memperkenalkan batik peranakan Tionghoa.
  • Tahun 1740, Pemberontakan Tionghoa terhadap VOC di Batavia membuat pengungsian ke arah timur Jawa salah satunya Lasem.
  • Tahun 1825, Raden Ayu Yudakusuma memimpin penyerangan Tionghoa di daerah Ngawi, membuat Lasem menjadi salah satu tujuan pengungsian.

lasem12

Dengan sejarah panjang tentang peranakan Tionghoa di Lasem membuat kita mudah menjumpai, warga etinis Tionghoa yang membaur dalam keseharian, rumah-rumah kuno ber-arsitektur Tionghoa, Kelenteng-kelenteng kuno dan batik dengan motif peranakan Tionghoa yang khas dengan gambar naga, burung hong, bunga seruni dan warna merah darah (pewarnaan batik yang hanya ada di Lasem). Tak heran jika Lasem memiliki sebutan sebagai “Kota Tiongkok Kecil” juga terkenal dengan sebutan sebagai “Kota Santri”. Dua sebutan terkenal tersebut mencerminkan bahwa penduduk di Lasem yang multi etnis dan multi agama dapat hidup berdampingan dengan harmonis dari sejak lama hingga sekarang.

lasem2

Festival Laseman

Laseman adalah sebuah acara Festival budaya Lasem yang baru pertama kali diadakan, festival ini berlangsung pada tanggal 28-29 November 2015 di desa Karangturi. Laseman yang mengusung tagline “Alon-alon waton ke Lasem” adalah sebuah pagelaran budaya yang berkonsep  meramu budaya asli Lasem, budaya kontemporer dan Pop anak muda.

lasem1

Tiga panggung telah disediakan dan tersebar di tiga tempat gang untuk berbagai agenda acara pada masing-masing panggung secara bersamaan. Penonton tinggal memilih jadwal acara pada tiap panggung yang diminati. Hari pertama acara laseman dimulai pada sore hari dan tiap panggung mulai dipadati oleh pengunjung baik dari Lasem sendiri, warga desa sekitar bahkan dari luar kota lasem.

lasem13

Pagelaran ini juga menjadi kesempatan sebagai ajang berjualan bagi para pemilik rumah disekitar panggung acara, pedagang keliling, maupun para sponsor acara, membuat suasana acara ini semakin meriah. Panggung budaya yang digelar sangat menarik dengan hadirnya para para seniman seperti Sujiwo Tejo, Anis Soleh Baasyin dan Kyai budi Harjono, serta suguhan seni Parade batik Lasem, wayang bengkong, Laesan, tari Orek-orek hingga Absurd Nation, Semarang Ska foundation dan masih banyak lainnya.

lasem4

Keluarga Opa Lo

Malam itu menyusuri keramaian acara Laseman, kaki saya terhenti melihat di balik sebuah pintu gerbang pagar khas etnis tionghoa, terlihat ruang tamu beserta perabotnya yang indah dan antik. Di depan pintu gerbang, duduk bersimpuh di lantai seorang tua berambut panjang yang telah memutih serta terlihat lusuh. Orang tua tersebut sedang melihat suasana keramaian pengunjung Laseman yang melintas di jalan depan rumahnya. Sedikit ragu saya mendekati dan menyapanya, ternyata senyum ramah menyambut dan kemudian mempersilahkan saya masuk, begitu saya menyampaikan kekaguman terhadap rumahnya. Hati terasa iba melihatnya berjalan tertatih, bungkuk dan mengharuskannya sedikit merangkak untuk menaiki 3 anak tangga ruang tamunya. Gongongan anjingnya menyambut dan membuat saya berhenti melangkah, tetapi beliau mengatakan “Ora popo ojo wedi, dhelok wae buntute nek obah-obah ngono artine seneng” (tidak apa-apa liat saja ekornya, kalau dia mengibas-ibaskan ekornya berarti senang) paparnya dalam bahasa jawa yang medhok.

lasem9

Kami, di ruang tamu yang indah dan asli, duduk di kursi jati khas jawa dengan anyaman rotan, beliau memperkenalkan dirinya Lo Geng Gwan, “Umurku Pek Cap Lak” atau 86 tahun (untuk selanjutnya saya sebut Opa Lo). Opa Lo adalah sosok orang tua yang ramah dan senang bercerita, sambil menunjukan dua foto lelaki dan perempuan yang menempel mengapit pintu masuk ruang dalam, beliau bercerita bahwa rumahnya dibangun oleh emak dan engkongnya tersebut. Rumah peninggalan emak dan engkongnya ini tidak mengalami perubahan hingga sekarang. Di rumah ini pula pada masanya pernah menjadi salah satu pabrik penghasil batik lasem. “Oma wes turu jam sak mene, biasane iseh nonton TV” (oma sudah tidur, jam segini biasanya masih nonton TV) kata Opa Lo saat melintasi sebuah kursi malas, dengan bantal dan selimut yang terlipat rapi, di depan sebuah TV layar cembung. Opa Lo terus berjalan tertatih mengajak saya melihat ke ruang belakang dimana pada masanya sebagai tempat para pengrajin batik membuat karyanya.

lasem16

Pagi keesokan harinya saya berkunjung kembali ke rumah Opa Lo, di ruang tengah saya menjumpai seorang perempuan tua duduk santai di dipan sambil melihat TV, seulas senyum ramah menyambut ketika saya dipersilahkan masuk untuk melihat kembali halaman belakang rumah. Perempuan itu adalah Oma Sri atau Oma Lim Luan Niang (86 Tahun), beliau adalah misan atau sepupu dari pihak keluarga ibu Opa Lo. Pada masa tuanya beliau memilih tinggal bersama di rumah Opa Lo ini, cerita Bibi Minuk di halaman belakang. Saya mendengarkan cerita sambil menyeruput kopi hangat yang nikmat hasil seduhannya. Menanyakan perihal kopi tersebut Bibi Minuk menimpali “Itu kopi asli koh, saya yang menumbuk sendiri”, seraya memperlihatkan biji kopi utuh dari dalam toples aluminium antik. Tidak heran aroma dan rasa pahitnya yang legit terasa, karena berasal dari biji kopi yang di sangrai sendiri, ditumbuk sedikit-demi sedikit sesuai kebutuhan, serta tetap memperhatikan cara menyimpan biji kopinya.

lasem5

“Saya ngga tahu umur saya koh, ngga tahu lahir tahun berapa?” sela Bibi Minuk, sebuah jawaban pada umumnya dari generasi tua yang tidak mengetahui/memiliki akte kelahiran, tetapi melihat rambutnya yang telah memutih menunjukkan umurnya yang telah lebih dari 65 tahunan.  Bibi Minuk berasal dari  Tuban selatan dan telah mengabdi pada keluarga Lo sejak tahun 1977. Hidup sendiri, setelah suami dan anak tercintanya meninggal, membuat Bibi Minuk memilih merantau ke Lasem dan garis nasib akhirnya mempertemukan dengan keluarga Lo. Kesetiaanya pada keluarga Lo tidak perlu diragukan, terbukti dengan penuh kesabaran dan perhatian Bibi Minuk tetap merawat dan menjaga generasi keluarga Lo hingga sekarang. 

lasem15

Opa Lo menjalani hidup di kota Lasem dari muda hingga masa tuanya, Opa Lo memilih tidak meneruskan bisnis usaha batik keluarga, mungkin pada masa itu  era keemasan batik telah meredup dan kurang memiliki prospek bisnis yang baik diterjang oleh era fashion Pop Barat. Beda dengan masa sekarang dimana batik kembali menjadi trend fashion baik untuk kalangan muda maupun tua. Terutama sejak UNESCO menyatakan batik menjadi pusaka asli Indonesia dan pemerintahpun memberikan hari besar Batik Nasional. Opa Lo muda lebih senang menjalani bisnis transportasi hingga masa tuanya, pundi-pundi tabungan pun telah tersisi seiring dengan tetes keringat tuanya. Namun nasib kadang berkata lain, Opa Lo terlalu percaya pada teman bisnisnya dan akhirnya pundi-pundi tabungan yang terkumpul untuk hari tuanya pun amblas! Hal inilah yang membuat Opa Lo sering larut pada kekecewaan yang mendalam, dan lebih sering merenung dibalik senyum ramah dan cerianya.

lasem6

“Opa berapa banyak cucunya sekarang?” tanya saya, seperti pada umumnya basa-basi pada orang tua yang telah menyandang sebutan Opa. “Opa ngga punya anak dan cucu, Opa tidak menikah” jawab Opa Lo menimpali pertanyaan saya. Menurut penuturannya, Opa Lo adalah seorang anak tunggal dari pasangan suami istri keluarga Lo, dengan demikian menjadikan Opa Lo adalah generasi terakhir dari garis keturunan keluarganya. Saat ini dimasa tuanya Opa Lo mendapatkan perhatian dari para keponakan sepupunya yang tinggal di Surabaya.

lasem18

Seperti cerita yang beredar bahwa generasi muda peranakan Tionghoa di Lasem lebih banyak yang mengadu nasib dengan bekerja ke kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, mengakibatkan rumah-rumah indah ber-arsitektur peranakan Tionghoa hanya dihuni oleh para orang “sepuh” dan bahkan beberapa dibiarkan kosong dan rusak. Seperti terpapar dalam cerita tersebut, keadaan ini pun mulai menerpa dan mengikis sedikit demi sedikit generasi terakhir keluarga Lo. Rumah indah asli peranakan Tionghoa itu kini hanya dihuni oleh tiga orang “sepuh” yang mengisi “nyawa” sebuah rumah. Mereka bertiga masih tetap setia menghangatkan panggung hidup dengan lakon Generasi Peranakan Tionghoa Lasem. Opa Lo, Oma Sri dan Bibi Minuk seakan menanti takdir sang waktu, kapan panggung hidup generasi terakhir keluarga Lo tutup “kelir” tirai panggungnya.

Sedih… tetapi itulah Panggung Hidup!

lasem7

Camera Gear

Nikon DF, Lensa AIS 28mm f/2.8

Berbagai Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Lasem,_Rembang

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/09/kekunoan-lasem-dalam-kekinian

http://titdtrimurtilasem.blogspot.co.id/2011/07/sejarah-kota-lasem.html

http://rumahbatiklasem.com/blog/sejarah-batik-lasem/

Wayang Orang Sriwedari

sriwedari

Penanda waktu dipergelangan tangan menunjukkan pukul 20:00 ketika memasuki komplek wayang orang Sriwedari, Solo. Motor sudah berjejal parkir di komplek belakang panggung, pertanda semangat dan kesibukan para pemain sudah dimulai. Berjajar berbagai macam properti wayang yang tersimpan rapi dan lengkap di lemari kaca, seakan setia menyambut para pemain yang baru datang, pertanda kegiatan wayang orang beserta perangkatnya masih terpelihara dengan baik. Memasuki ruang rias di sisi dalam terlihat kesibukan para pemain, beberapa bercanda dan sebagian diam dalam serius untuk melukis wajah dan memakai pakaian lakon yang disandangnya. Walau wayang orang lebih dekat dengan generasi tua, tetapi di dalam ruang rias terlihat beragamnya usia para pemain, mulai yang berusia sepuh hingga muda, pertanda bahwa alih generasi pecinta seni wayang orang sudah terbentuk dan berkelanjutan. Memasuki ruang pertunjukan sudah separuh kursi penuh terisi, semua penonton bungkam mengikuti rangkaian lakon cerita yang ditampilkan, beberapa dengan gawainya merekam adegan-adegan yang menarik, pertanda tanggap dan minat terhadap kesenian wayang orang masih belum pupus. Duduk di kursi teater yang cukup nyaman, sound system yang tergolong cukup baik dikelasnya, tata panggung yang baik dengan lampu dan backgrouund beragam, ruang teater yang besar, terawat, bersih dan ber-AC membuat kita betah untuk menonton, pertanda bahwa Pemkot Solo memberikan perhatian yang baik pada panggung rakyat ini.

Sungguh suatu kelegaan hati, melewati sedikit waktu mampir ke panggung wayang orang Sriwedari, menyaksikan bahwa budaya ini masih belum terpupus oleh budaya POP barat, suatu kelegaan dari kegundahan hati untuk melihat dan menghadapi dengan lebih optimis!

Camera : Nikon DF, AIs 28mm f/2.8

Thanks For : @wiboworaharjo, @gathoe18, @lawerissa, @tandurrimoro

.

.

wayang1

 

 

wayang6

 

 

wayang14

 

 

wayang12

 

 

wayang7

 

 

wayang15

 

 

wayang8

 

 

wayang28

 

 

wayang29

 

 

wayang2

 

 

wayang5

 

 

wayang4

 

 

wayang19

 

 

wayang17

 

 

wayang18

 

 

wayang21

 

 

wayang25

 

 

wayang10

 

 

wayang20

 

 

wayang9

 

 

wayang11

 

 

wayang26

 

 

wayang24

 

 

wayang27

 

 

wayang23

HOPE : A Cataract Surgery for Humanity

 

tittle

Kala sebuah penglihatan mulai memudar, maka warna indah dunia terasa mulai menghilang. Rasa frustasi mulai muncul yang berakhir dengan sebuah kepasrahan diri. Pasrah karena untuk memulihkan  kembali penglihatan harus dilakukan tidakan operasi yang tentunya tidak murah biayanya. Demikianlah kira-kira yang dirasakan oleh sebagian orang tua yang terkena katarak. Bagi yang memiliki uang tentunya indahnya warna dunia dapat dengan mudah diraih kembali, tetapi tidak pada kaum yang kurang beruntung.

Katarak adalah bagian keruh pada lensa mata yang biasanya bening dan akan mengaburkan penglihatan. Ini adalah penyakit yang sangat umum terjadi.

Lensa mata adalah bagian transparan di belakang pupil (titik hitam di tengah mata) yang berfungsi untuk memfokuskan cahaya pada retina. Dengan adanya katarak, cahaya yang masuk ke mata menjadi terhalang. Katarak biasanya terjadi saat seseorang memasuki usia lanjut.

Lama-kelamaan kondisi katarak akan meningkat sehingga dapat menghalangi penglihatan. Banyak pengidap yang pada akhirnya membutuhkan operasi untuk mengganti lensa yang rusak ini dengan lensa buatan. (Sumber : alodokter.com).

Sebuah harapan selalu digantungkan untuk sebuah operasi katarak Gratis…. dan kadang harapan itu datang dari tangan para “malaikat dunia”.

Camera : Nikon D3, AFS 24-70mm f/2.8, AFS 24-70 f/2.8

smg0805-calling me

smg0805-their hopes

smg0805-happy and stress collied

smg0805-ice treatment

smg0805-waiting in her sleep

smg0805-all they do are waiting

smg0805-Icy Eye
smg0805-patiently

smg0805-all registered
smg0805-behind the glass

smg0805-tim work

smg0805-in the operation room
smg0805-face it alone

smg0805-family ties

The Outsider of Magical Prambanan

Selain candi Borobudur yang telah mendunia, Candi Prambanan merupakan salah satu candi besar di Indonesia. Umumnya wisatawan yang berkunjung ke Jogja menjadikan satu paket wisata candi yaitu Borobudur dan Prambanan. Cerita legenda Roro Jonggrang yang sudah menjadi dongeng rakyat, makin membuat tiupan keindahan magisnya terasa tatkala kita menikmati indah panoramanya.

Keindahan magis Prambanan tentunya tidak bisa hadir dengan sendirinya, tetapi terbangun dari banyak elemen-elemen pendukungnya, baik yang besar maupun sesuatu yang kecil atau sepele. Bahkan nyaris tidak terlihat dan tidak kita sadari kehadiran, fungsinya dan jejak fungsinya. Mereka adalah para “the Outsiders” Prambanan, oleh karena itu dalam kejenuhan mengunjungi dan memotretnya, saya mencoba melihat dari sisi para pendukung-pendukung yang “terlupakan” dari candi Prambanan.

Peralatan : Kamera Nikon Df dan Lensa Nikkor Ais 28mm f/2.8

 

title

 

Di balik hijau daun

Di balik hijau daun

 

Pohon perindang gersang terik surya

Pohon perindang gersang terik surya

 

Peneduh gubuk besi pekerja

Peneduh gubuk besi pekerja

 

Di bawah atap gubuk

Di bawah atap berbalut besi

 

Diantara besi stager

Silang diantara besi stager

 

Sang sapu penjaga

Sapu sang penjaga

 

Dedaun kering dalam balut anyam bambu

Dedaunan kering dalam balut anyam bambu

 

Papan usang sisa guna

Papan usang sisa guna

 

Penyalur air bumi

Penyalur air bumi

 

Dalam bingkai kaleng bekas

Dalam bingkai kaleng bekas

 

Sang surya kala malam

Sang surya kala malam

 

Di balik pagar

Di balik pagar rumah workshop

 

Pemahat batu baru

Pemahat batu baru

 

Berserak sisa potongan batu

Berserak sisa potongan batu

 

Indah rumput kecil

Indah rumput kecil

 

Rambu

Rambu pencerah ragu

 

Puzzle yang masih tersisa

Puzzle yang masih tersisa

 

Papan petunjuk yang telah usang

Papan petunjuk yang telah usang

 

Di bawah batang pohon mengering

Di bawah batang pohon mengering

 

Tumbuh memberikan warna

Tumbuh memberikan warna

 

Sisa-sisa fungsi

Sisa-sisa fungsi

 

Besi pengikat termakan karat

Besi pengikat termakan karat

 

Batu baru pengisi puzzle

Batu baru pengisi puzzle

 

Tuas baja tersisa

Tuas baja tersisa

 

Bersandar seng bekas

Bersandar seng bekas

 

Pekerja workshop menjadikan candi demi candi

Pekerja workshop menjadikan candi demi candi

 

stager menjulang

stager menjulang

 

Hasil rana ku kan memudar kemudian...

Hasil rana-ku pun akan memudar kemudian…

Hands On : Nikon D4s the “Fast n Furiuos”

Mampir ke markas besar Nikon dan my big thanks, diberikan kesempatan untuk mengutak-atik  dan menghajar mainan papan atas Nikon saat ini, NIKON D4s, Kesannya Wow !!!… wusss wusss wusssss…… aku tercengang!!!!

Nikon D4s campaign

Nikon D4s campaign

Nikon D4s menyandang pangkat/tittle “S” sebagai sebuah produk extended dari produk sebelumnya D4 dengan dilakukan beberapa Refinement Upgrade. Upgrade perbaikan pun lebih pada penyempurnaan dari sebuah pencapaian product teringgi yang telah dilahirkan sebelumnya. Jadi boleh dikatakan inilah produk the almost perfect one papan atas Nikon (katanya di dunia ini ngga ada yang sempurna). D4s the Fast n Furious, seperti layaknya mobil sport jalanan, kamera ini memang lebih berbicara tentang kecepatan, ketahanan, kualitas dan mampu menantang kegelapan. Beberapa upgrade Nikon D4s dari D4 adalah :

The Body... kokoh dan mantab !

The Body… ergonomic, kokoh dan mantab !

ALL About Speed

  • 11 FPS with AF/AE , sebelumnya  D4 : 10 FPS with AF/AE
  • Ethernet Transfer dengan WT-5A : 1000 Mbps sebelumnya, D4 :100 Mbps
  • Group AF area untuk kecepatan dan keakuratan focus pada subject bergerak. Dengan 5 AF point menjadi 1 group aktif, dimana jika satu point focus maka 4 point disekitarnya akan aktif dan menjaga agar focus tetap terjaga,  sebelumnya D4 : tidak ada
  • RAW Size S : 12 bit uncompressed, pada D4 belum ada
Back Body

Back Body

ALL About Durability

  • Battery EN-EL18a mampu handling 3020 shots, sebelumnya D4 : 2060 shots

ALL About Quality

  • New Design! 16 mpix CMOS Sensor tetapi resolusi tidak ada perubahan dari sebelumnya.
  • Expeed 4 sebelumnya D4 menggunakan Expeed 3 : untuk perbaikan kualitas image. ( saya jadi teringat seorang teman Hartono Hosea yang bermain-main dengan Nikon D3300 dengan Expeed 4 untuk fashion photography image qualitynya diluar dugaan untuk sebuah camera entry level ).
  • Six Preset White Balanced, pada D4 : 3 presets
Iso 25,600 : push to the limit !

Iso 25,600 : push to the limit !

ALL About Darkness

  • Nikon D4s melakukan improved dalam handling noise pada iso tinggi, standard dari Iso 100 sd Iso 25,600 dengan Expanded ke iso 50 sd  iso 409,600 sedangkan batas ambang sebelumnya nikon D4 pada standard iso 100 sd iso 12,800 expanded ke iso 50 sd iso 204,800

My First Impression

  • Ergonomic dan terasa nyaman dalam genggaman dan operasi jari-jari.
  • Hi Speed Continuous Burst… terasa kayak mesin jahit ga ada habisnya dan buffer terasa unlimited!
  • Iso 6400 So Clean! Iso 12,800 Clean! Iso 25,600  OK, H-1 masih accepted untuk sebuah decisive moments, H-2 gunakan kalo kepepet lighting! H-3, H-4 Mungkin ga pernah kepake hehehehe kecuali paparazi atau mamarazi.
  • AWB akurat.
  • Focus cepat dan akurat, terlebih jika bermain dengan Grup Area AF
  • Masih sama CF +XQD ( kecepatan yang maximal tapi satu sisi kurang popular)

Memang perubahan yang ada tidak dramatis, tetapi sebuah penyempurnaan dari produk yang terbaik tentunya akan membawa kita ke batas “almost perfect”. Lets drift and race with Fast n Furious !

Dreaming the real one….

me and d4s

Nikon WU-1a : Wifi connection for DSLR

Dunia fotografi digital berkembang demikian pesatnya, tidak hanya persoalan image saja yang menjadi unggulan tetapi faktor interkoneksi antar device saat ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan juga untuk semua level camera digital. Wireless atau interkoneksi tanpa kabel yang sekarang menjadi trend dengan menggunakan WIFI.   Sistem ini tidak saja untuk workflow antara camera, PC dan Storage saja, namun juga untuk bisa terhubung dengan Gadget dan langsung ke internet untuk social media misalnya.

Nikon WT-1 wireless Wifi era Nikon D2

Nikon WT-1 wireless Wifi era Nikon D2

Nikon WT-2 pada era Nikon D2X

Nikon WT-2 pada era Nikon D2X / D2H

Nikon WT-4 pada era Nikon D3

Nikon WT-4 pada era Nikon D3 dan D3X

Nikon WT-5 pada era Nikon D4

Nikon WT-5 pada era Nikon D4

Nikon sebenarnya sudah mengembangkan sistem ini WIFI sejak lama yaitu era Nikon D2, D2H dan D2X, tetapi semua diperuntukan bagi jajaran kamera profesionalnya. Modul yang pernah dirilis yaitu Nikon WT-1, Nikon WT-2, Nikon WT-3, Nikon WT-4 dan terakhir Nikon WT-5.  Melihat deretan modul WIFI diatas adalah modul yang Pro level dengan harga yang mahal kisaran 5 juta sd 12 juta rupiah.

Nikon WU-1a (perhatikan PIn konektor yang berbeda dengan WU-1b )

Nikon WU-1a (perhatikan Pin konektor yang berbeda dengan WU-1b )

Nikon WU-1b (perhatikan Pin konektor yang berbeda dengan WU-1a)

Nikon WU-1b (perhatikan Pin konektor yang berbeda dengan WU-1a)

Nikon melihat perkembangan sistem interkoneksi WIFI saat ini dibutuhkan tidak saja pada kamera PRO tetapi juga kamera semi pro, entry level bahkan kamera pocket juga membutuhkan (lebih untuk koneksi ke social media). Untuk menjawab kebutuhan tersebut Nikon mengeluarkan ( tahun 2012) modul wifi “kelas mini/praktis/ekonimis” yang cukup kecil, ringkas dan handal yaitu WU-1a dan WU-1b. Dengan WU-1a/1b kita tidak perlu harus membeli atau menunggu DSLR khusus dengan built in wireless wifi, karena hampir semua kamera DSLR Nikon yang kita miliki bisa memanfaatkan mini device ini, kecuali Non konektor DC2 semacam kelas PRO Nikon…. Dan harganya cukup ekonomis hanya perlu merogoh Rp. 625.000 sudah mendapatkan modul ini. Great Job Nikon !

Box Nikon WU-1a

Box Nikon WU-1a

Saya coba membahas tentang manfaat “mainan kecil” ini dan seperti apa performanya, karena menurut saya modul praktis Nikon WU-1a ini,  adalah modul MUST HAVE yang harus dimiliki saat ini ! (operasi antara WU-1a dan WU-1b tidak berbeda)

COMPABILITY and SPECS  :

Nikon WU-1a : Nikon Seri D3200, D3300, Nikon D5200, 5300, Nikon D7100, Nikon DF, Coolpix P7800, P330, Coolpix A, Coolpix P530, P520 untuk update compatible camera Link  NIKON :  Nikon Wu-1a

Nikon Wu-1a : Nikon D600, 610, Nikon 1 AW1, Nikon 1V 2, Nikon 1 J3, Nikon 1 S1  untuk update compatible camera Link NIKON : Nikon Wu-1b 

Gadget Compatibility :  OS: Smartphones, Tablets: Android™ version 2.3 or later (smartphone), Android version 3.0 or later (tablet). iPhone® and iPad®: iOS version 6.0 or later.
Max Range : Wi-Fi®: 11b/g/n (maximum range approximately 10-15m/33-49 ft).

Un boxing Nikon WU-1a

Un boxing Nikon WU-1a

SMALL and EASY

Nikon WU-1a ukurannya sangat kecil bahkan boleh dibilang hanya sebesar coin Rp.500,- sehingga sangat praktis dan tidak membebani berat kamera untuk dibawa kemanapun kita memotret. Justru karena kecilnya, unsur “mudah hilang” menjadi perkara berikutnya jika tidak berhati-hati. Untuk menghindari hal ini nikon telah menyertakan kompartemen penyimpan yang bisa dipasang pada strap kamera besarta tali kecil yang dikaitkan ke modul WU-1a.

WU-1a merupakan modul yang sangat kecil / mini

WU-1a merupakan modul yang sangat kecil / mini

di dalam the Clip Box

Di dalam the Clip Box

PLUG and PLAY

Cara pemasangan juga sangat mudah :

  • Matikan Power kamera
  • Buka karet konektor biasanya di samping kiri body camera anda
  • Umumnya konektor DC2 berada pada urutan paling atas
  • Tancapkan WU-1a pada konektor
  • Nyalakan/ON Power kamera
  • jika lampu menyala HIJAU berkedip pelan  berarti bahwa WU-1a sudah terkoneksi dengan baik, jika menyala MERAH berarti koneksi error ( matikan kamera dan nyalakan lagi ).

Ukuran WU-1a yang kecil/mini membuat keberadaan modul ini pada kamera tidak mengganggu handling operasional pemotretan.

Konektor untuk WU-1a

Konektor untuk WU-1a

Tancapkan WU-1a pada konektornya

Tancapkan WU-1a pada konektornya

Modul kecil tidak mengganggu operasional kamera

Modul kecil tidak mengganggu operasional kamera

APPS ON GADGET

Untuk menggunakan WU-1a jangan lupa kita terlebih dahulu melakukan download APP Nikon Wireles mobile Utility (WMU) ini pada gadget kita, untuk mendownload gunakan link di bawah :

ANDROID Apps Google Play link : Nikon Wireless Mobile Utility

tampilan di Google play store

tampilan di Google play store

iOS Apps  for iphone atau iPad : Nikon Wireless Mobile Utility

Tampilan di iOS App Store

Tampilan di iOS App Store

GADGET PAIRING

Untuk pairing antara Camera dengan Gadget sangat mudah, ikuti langkah berikut :

  •  WU-1a yang sudah terpasang sempurna, nyalakan kamera maka lampu hijau akan menyala dan berkedip pelan.
  • green
  • Nyalakan Gadget anda dan searching device Wifi
  • Pilih device wifi NIKON WU ……
  • setting wifi
  • Tekan WMU Apps pada gadget kita
  • Tekan tanda antena di pojok kiri atas, jika tanda silang pada antena sudah hilang berarti pairing sudah berhasil
  • antena nok
  • antena ok
  • Lampu pada WU-1a akan menyala hijau terus tanpa berkedip, maka kamera dan gadget anda sudah terhubung dan siap for Action!
  • green

MENU SHOT ON GADGET

Di sini ada 2 macam pemotretan, yaitu

  1. Pemotretan dengan Metode WMU : pemotretan dengan kendali di gadget, dengan metode ini maka fungsi exposure harus kita atur terlebih dahulu, karena kita tidak bisa mengatur exposure dari kamera dan juga dari gadget. Jika pemotretan kita pada outdoor dengan situasi lighting yang berubah-ubah maka sebaiknya gunakan mode : P, S atau A. Mode M dipakai jika kondisi lighting under control. Jika anda membutuhkan pemotretan yang cepat maka pilih download after OFF dimana download tidak dilakukan saat setelah shutter dirilis. Dengan kata lain fungsi gadget lebih sebagai live view dan shutter release.
  2. Pemotretan dengan metode CAMERA : dengan metode ini maka semua handling kendali di kamera dan hasil dapat dikirim ke gadget setelah shutter dirilis.
  3. Sebagai catatan download file dari kamera k gadget per file membutuhkan waktu berkisar 10 sd 15 detik.
Pilihan antara WMU dan Camera Operating

Pilihan antara WMU dan Camera Operating

METODE WMU

Untuk memulai memotret paka tekan TAKE PHOTOS maka kamera siap dioperasikan dengan gadget. Untuk focusing kita menggunakan metode touch screen, sentuh titik yang kita inginkan untuk focus, maka AF kamera akan bergerak untuk memfocus hingga titik warna focus pada hijau. Pada saat menggunakan metode ini control menu di body kamera tidak bisa difungsikan, dan di LCD kecil akan muncul tulisan PC.

Pada Metode ini fungsi kamera berubah menjadi Live view dan kita bisa melihat preview bidikan pada layar gadget kita, angka exposure tampil pada display namun kita tidak dapat melakukan control/merubah dari gadget.

Muncul tulisan PC untuk metode WMU

Muncul tulisan PC untuk metode WMU

Tekan TAKE PHOTOS

Tekan TAKE PHOTOS

DOWNLOAD

Setelah pemotretan/shutter rilis hasil akan terdownload langsung ke gadget,  yang perlu diperhatikan bahwa file yang terdownload di gadget adalah file kecil JPEG saja, tidak bisa disetting ke JPEG Original maupun RAW. Semua file JPEG Ori/RAW akan tersimpan di memory card kamera seperti pada pemotretan umumnya. Karena sifat file kecil maka metode ini lebih ke arah membantu untuk preview atau untuk social media transfer. Waktu untuk downloading juga cukup lama berkisar  10 sd 15 detik, jika dirasa terlalu lama maka fungsi download dapat di off kan.

File langsung terdownload

File langsung terdownload

File terdownload sempurna

File terdownload sempurna

File terdownload bisa di zoom preview seperti layaknya preview di gadget umumnya

File terdownload bisa di zoom untuk preview dengan metode touch screen 

METADATA dan GEOTAGING

Yang menarik adalah pada file metada ada info GEOTAGING atau posisi koordinat lokasi pemotretan, tentu saja hal ini sebagai nilai tambah pemotretan dengan metode ini. Sepertinya kamera kita built in GPS atau seakan-akan terpasang Nikon GPS 1 yang seharga 2,5 juta.

Geo tagging koordinat lokasi pemotretan

Geo tagging koordinat lokasi pemotretan

CONNECTING SOCIAL MEDIA

Bagi penggemar update/sharing social media maka, hasil pemotretan kita dapat langsung dikirim ke social media tanpa perlu repot transfer dan download terlebih dahulu dari memory card kita.

Siap koneksi ke social media

Siap koneksi ke social media

METODE CAMERA

Pada metode ini control tetap berada pada body kamera dan gadget berfungsi sebagai download file hasil pemotretan setelah shutter dirilis.

TAKE PHOTO TANPA LIVE VIEW

Pada metode kamera maka pada saat kita tekan take photo di gadget tidak muncul Live view  seperti pada metode WMU.

Pada metode camera maka gadget tidak menampilkan live view

Pada metode camera maka gadget tidak menampilkan live view

DOWNLOADING :

Setelah shutter camera kita lepaskan di body maka file  segera tertransfer ke gadget kita dan siap kita gunakan sesuai kebutuhan. Sebagai catatan file original RAW/JPEG tetap terekam di dalam memory card kamera kita.

Begitu shutter di rilis file segera terdownload.

Begitu shutter di rilis file segera terdownload.

File telah terdownload

File telah terdownload

Masih ada beberapa menu dan setting pada nikon WU-1a, saya coba bahas beberapa yang menarik.

VIEW PHOTOS :

Menu ini adalah untuk meilhat :

  1. Picture On Camera : untuk melihat isi memory card yang ada di kamera
  2. Camera Roll : untuk melihat foto yang ada di gadget
  3. Latest Downloads : untuk melihat foto yang terakhir terdownload di gadget (pemotretan terakhir)
    Menu View Photos

    Menu View Photos

    Ada 3 pilihan menu

    Ada 3 pilihan menu

SYNCHRONIZE CLOCK :

Menyamakan waktu camera dengan gadget kita, agar meta data presisi waktunya

Pilihan synchronize clock

Pilihan synchronize clock

PILIHAN THUMBNAILS :

Kita dapat memilih besarnya file data yang  ter-transfer yaitu antara standard dan large, tapi dengan catatan file ini adalah file yang sudah di compressed  ( maka istilahnya adalah thumbnails menu ) jadi file ini digunakan untuk keperluan preview atau kebutuhan file kecil saja. Sedangkan file RAW/Original Jpeg tersimpan di memory card.

Pilihan Thumbnail

Pilihan Thumbnail

SETTING LOCATION GEO TAGGING

Kita dapat melakukan setting geo tagging pada meta data kita, sehingga walaupun kamera kita tanpa device GPS tetap dapat memanfaatkan GPS dari gadget kita. Geo tagging adalah berdasarkan data lokasi pada waktu downloading file di gadget, bukan pada titik saat shutter di release, jadi ada kemungkinan bergeser jika kita berjalan.

Setting Geo Tagging

Setting Geo Tagging

PRO and CONS

PRO

  • Modul kecil dan praktis sekali
  • Nir kabel dengan menggunakan Wifi
  • System iOS dan Android
  • Sebagai preview yang bermanfaat
  • Berfungsi sebagai pelepas shutter dengan preview jarak jauh
  • Mampu memudahkan pemotretan angle extreem
  • Harga ekonomis dibanding WIFI kelas PRO Nikon, harga di kisaran Rp. 650 ribu

CONS

  • Tidak bisa transfer original File RAW/JPEG, file cenderung untuk preview
  • Waktu transfer lama berkisar 10 sd 15 detik per file, dan shutter dapat di release setelah download selesai
  • Tidak bisa digunakan direct ke laptop kita, karena tidak ada modul program di laptop.
  • Jarak Wifi hanya berkisar 10 sd 15 meter saja.

MY THOUGHT

Menurut pendapat saya modul WU-1a/1b tetap merupakan “must have” device karena dengan harga yang ekonomis kita dapat melakukan interface data dengan gadget yang umumnya sudah kita miliki (iOS atau android) dan sekaligus dapat memanfaatkan fungsi “ultimatenya” untuk membantu pemotretan konsep kreativitas yang OUT OF THE BOX !!!

Nikon D4s is coming to town !

Sudahkah melihat picture teaser nya Nikon D4s ???

Prediksi Nikon akan mengeluarkan seri Medium Format’s Killer dengan senjata andalan D4X rasanya harus menahan diri atau hanya sebagai Dream Machine saja. Alih-alih untuk mengeluarkan seri X nya, yang telah ditunggu lama, Nikon ternyata lebih realistis untuk menangkap peluang seri Pro journalism/sport cameranya Nikon D4 yang sudah berumur 2 tahun. Nikon D4s meluncur lebih cepat dibandingkan sewaktu D3s menggantikan D3 kemungkinan untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan para Nikon profesional yang sebentar lagi akan menyambut event besar Winter Olympics dan FIFA World Cup.

Nikon-D4s-DSLR-camera

Jika melihat specs Nikon D3s waktu menggantikan Nikon D3, dimana upgrade minor saja maka kemungkinan juga akan terjadi di Nikon D4s. Prediksi spech Nikon D4s kemungkinan adalah :

  • Sensor tetap 16 MP, kemungkinan refinement dengan seri sensor Nikon DF
  • Upgrade Processor untuk perbaikan di kualitas image dan Noise sekelas atau lebih baik dari kualitas Nikon DF (noise handlingnya sangat Ok)
  • Upgrade Modul AF yang lebih responsif, padahal Nikon D4 sudah terkenal sangat responsive dan predictive
  • Upgrade Buffer RAM untuk burst shooting yang lebih banyak frame untuk RAW/JPEG
  • Upgrade FPS menjadi paling tidak 12 atau 14 untuk RAW guna menyamai atau menandingi Canon 1Dx
  • Upgrade Video, mengingat banyak para journalist profesional yang juga melakukan capture video dilapangan. berkaitan dengan resolution 4K maupun Hi speed frame rate nya.
  • Membuang XQD Slot Card menjadi kembali Dual CF Card, mengingat “blunder” yang terjadi pada pemakaian XQD. Ternyata usaha Sony untuk membuat trend Hi speed memory trend dengan XQD tidak mampu menggerakan market. Sehingga raksasa sekelas Sandisk dan Lexar masih belum merespon. Saat ini untuk mencari dipasaran pun sulit.

Selanjutnya kita tinggal menanti seperti apa perubahan Realnya beberapa minggu kedepan. Dan tentunya sambil nonton World Cup kita akan menghitung berapa moncong hitam yang ada dipinggir lapangan, apakah mulai mendominasi???? hehehehehehe….

Nikon-D4S-I-am-coming-soon