Wayang Orang Sriwedari

sriwedari

Penanda waktu dipergelangan tangan menunjukkan pukul 20:00 ketika memasuki komplek wayang orang Sriwedari, Solo. Motor sudah berjejal parkir di komplek belakang panggung, pertanda semangat dan kesibukan para pemain sudah dimulai. Berjajar berbagai macam properti wayang yang tersimpan rapi dan lengkap di lemari kaca, seakan setia menyambut para pemain yang baru datang, pertanda kegiatan wayang orang beserta perangkatnya masih terpelihara dengan baik. Memasuki ruang rias di sisi dalam terlihat kesibukan para pemain, beberapa bercanda dan sebagian diam dalam serius untuk melukis wajah dan memakai pakaian lakon yang disandangnya. Walau wayang orang lebih dekat dengan generasi tua, tetapi di dalam ruang rias terlihat beragamnya usia para pemain, mulai yang berusia sepuh hingga muda, pertanda bahwa alih generasi pecinta seni wayang orang sudah terbentuk dan berkelanjutan. Memasuki ruang pertunjukan sudah separuh kursi penuh terisi, semua penonton bungkam mengikuti rangkaian lakon cerita yang ditampilkan, beberapa dengan gawainya merekam adegan-adegan yang menarik, pertanda tanggap dan minat terhadap kesenian wayang orang masih belum pupus. Duduk di kursi teater yang cukup nyaman, sound system yang tergolong cukup baik dikelasnya, tata panggung yang baik dengan lampu dan backgrouund beragam, ruang teater yang besar, terawat, bersih dan ber-AC membuat kita betah untuk menonton, pertanda bahwa Pemkot Solo memberikan perhatian yang baik pada panggung rakyat ini.

Sungguh suatu kelegaan hati, melewati sedikit waktu mampir ke panggung wayang orang Sriwedari, menyaksikan bahwa budaya ini masih belum terpupus oleh budaya POP barat, suatu kelegaan dari kegundahan hati untuk melihat dan menghadapi dengan lebih optimis!

Camera : Nikon DF, AIs 28mm f/2.8

Thanks For : @wiboworaharjo, @gathoe18, @lawerissa, @tandurrimoro

.

.

wayang1

 

 

wayang6

 

 

wayang14

 

 

wayang12

 

 

wayang7

 

 

wayang15

 

 

wayang8

 

 

wayang28

 

 

wayang29

 

 

wayang2

 

 

wayang5

 

 

wayang4

 

 

wayang19

 

 

wayang17

 

 

wayang18

 

 

wayang21

 

 

wayang25

 

 

wayang10

 

 

wayang20

 

 

wayang9

 

 

wayang11

 

 

wayang26

 

 

wayang24

 

 

wayang27

 

 

wayang23

Secuil Cerita tentang Tahu

Secuil Cerita Tentang Tahu

Masuk ke gang di samping kolam renang Taman Sari, mulai tampak pabrik-pabrik kecil pembuat tahu, ternyata inilah kampung tahu di kota Salatiga. Sampailah pada penghujung persimpangan gang terdapat  sebuah rumah dari papan yang terlihat sudah kuno dan reot. Pabrik tahu ini adalah sebagai cikal bakal berkembangnya industri tahu di Salatiga, hingga akhirnya para tetangga membuat usaha sejenis. Adalah ibu Sri penerus generasi ke tiga pabrik tahu tradisional ini, yang tetap menjaga proses kerja yang tradisional. “Tidak ada modal mas”, kata bu Sri,  untuk merubah dan memperbaiki pabrik lebih menjadi lebih modern. Tetapi dengan pendekatan proses tradisional ini cita rasa tahu asli tetap terjaga dan lebih enak dari tahu sejenis.

Camera : Nikon DF, Lensa AIs 28mm f/2.8

 tittle

tahu10

tahu1

tahu5

tahu2

tahu3

tahu4

 tahu7

tahu8

tahu9

tahu12jpg

tahu6

The Outsider of Magical Prambanan

Selain candi Borobudur yang telah mendunia, Candi Prambanan merupakan salah satu candi besar di Indonesia. Umumnya wisatawan yang berkunjung ke Jogja menjadikan satu paket wisata candi yaitu Borobudur dan Prambanan. Cerita legenda Roro Jonggrang yang sudah menjadi dongeng rakyat, makin membuat tiupan keindahan magisnya terasa tatkala kita menikmati indah panoramanya.

Keindahan magis Prambanan tentunya tidak bisa hadir dengan sendirinya, tetapi terbangun dari banyak elemen-elemen pendukungnya, baik yang besar maupun sesuatu yang kecil atau sepele. Bahkan nyaris tidak terlihat dan tidak kita sadari kehadiran, fungsinya dan jejak fungsinya. Mereka adalah para “the Outsiders” Prambanan, oleh karena itu dalam kejenuhan mengunjungi dan memotretnya, saya mencoba melihat dari sisi para pendukung-pendukung yang “terlupakan” dari candi Prambanan.

Peralatan : Kamera Nikon Df dan Lensa Nikkor Ais 28mm f/2.8

 

title

 

Di balik hijau daun

Di balik hijau daun

 

Pohon perindang gersang terik surya

Pohon perindang gersang terik surya

 

Peneduh gubuk besi pekerja

Peneduh gubuk besi pekerja

 

Di bawah atap gubuk

Di bawah atap berbalut besi

 

Diantara besi stager

Silang diantara besi stager

 

Sang sapu penjaga

Sapu sang penjaga

 

Dedaun kering dalam balut anyam bambu

Dedaunan kering dalam balut anyam bambu

 

Papan usang sisa guna

Papan usang sisa guna

 

Penyalur air bumi

Penyalur air bumi

 

Dalam bingkai kaleng bekas

Dalam bingkai kaleng bekas

 

Sang surya kala malam

Sang surya kala malam

 

Di balik pagar

Di balik pagar rumah workshop

 

Pemahat batu baru

Pemahat batu baru

 

Berserak sisa potongan batu

Berserak sisa potongan batu

 

Indah rumput kecil

Indah rumput kecil

 

Rambu

Rambu pencerah ragu

 

Puzzle yang masih tersisa

Puzzle yang masih tersisa

 

Papan petunjuk yang telah usang

Papan petunjuk yang telah usang

 

Di bawah batang pohon mengering

Di bawah batang pohon mengering

 

Tumbuh memberikan warna

Tumbuh memberikan warna

 

Sisa-sisa fungsi

Sisa-sisa fungsi

 

Besi pengikat termakan karat

Besi pengikat termakan karat

 

Batu baru pengisi puzzle

Batu baru pengisi puzzle

 

Tuas baja tersisa

Tuas baja tersisa

 

Bersandar seng bekas

Bersandar seng bekas

 

Pekerja workshop menjadikan candi demi candi

Pekerja workshop menjadikan candi demi candi

 

stager menjulang

stager menjulang

 

Hasil rana ku kan memudar kemudian...

Hasil rana-ku pun akan memudar kemudian…

NIKON DF for MODELS and STUDIO SHOOTING

REVIEW PART 2

Kehadiran Nikon DF disambut gembira para hybrid traditionalist yang telah lama menantikan kembalinya desain “masterpiece”  ke era digital. Nikon berusaha untuk tetap mengusung pendekatan desain pada lekuk indah kamera analognya “masterpiece” nya dan berusaha tetap memberikan sentuhan analog handling, bahkan Nikon DF pun harus direlakan tanpa Video Recording untuk semakin memantabkan semboyannya “Pure Photography”

Nikon DF diposisikan sebagai kamera professional dengan harga premium, tentunya Nikon tidak asal memasang bandrol premium, tetapi sudah menyiapkan kamera ini untuk mampu menjawab dan memuaskan para fotografer pecintanya terutama kaum Hybrid Traditionalist.

Pada review ini, saya mencoba sharing sejauh mana Nikon DF mampu menjawab tantangan bagi para penggemar pemotretan Model/fashion/beauty/studio. Seperti kita ketahui baik kalangan professional maupun hobbist banyak sekali yang menyukai genre pemotretan ini, dan tentunya Nikon DF tidak akan gegabah untuk menanggapinya.

SENSOR 16 MP & EXPEED 3 :

Sensor yang dipakai adalah sensor dan Processor flagship camera Nikon D4 yang sangat handal. Jadi bisa dibayangkan bahwa qualitas image akan sebanding dengan Nikon D4.

Sensor Nikon DF sama dengan Flagship Nikon D4

Sensor Nikon DF sama dengan Flagship Nikon D4

ERGONOMIC dan HANDLING :

Pada kamera  Nikon jadul umumnya body camera flat tanpa hand grip yang baik, sehingga handling kurang nyaman. Pada Nikon DF lebih menggunakan pada pendekatan Nikon F3 dimana ada sedikit tonjolan handgrip pada body camera. Pada Nikon DF handgrip didesain lebih nyaman dari handgrip Nikon F3. Handling button menu terasa nyaman, hanya system locking button terasa tidak mudah pengoperasian pada pemotretan yang membutuhkan kecepatan perubahan tetapi pada sisi lain hal ini menjadi kelebihan.

Nikon DF cukup nyaman digenggaman tangan

Nikon DF cukup nyaman digenggaman tangan

BATTERY :

Jika melihat fisiknya battery Nikon DF sangat kecil tetapi dibalik tampang mungilnya battery Nikon DF cukup handal dan tahan lama, sehingga pemotretan tidak terganggu karena battery yang ngedrop. Menurut data CIPA (DPreview) hingga mencapai 1400 shoots.  Saya harus recharge battery setelah kurang lebih 1000an shoots dengan pemakaian preview dan live view yang cukup sering dan lama (maklum buat test drive). Sungguh nyaman daya tahan battery nya

Battery Nikon DF dibandingkan dengan SD Card

Battery Nikon DF dibandingkan dengan SD Card

BATTERY CHAMBER DOOR :

Pintu penutup battery menggunakan kunci yang unik dan baik sehingga tidak mudah terbuka, juga menggunakan seal karet sehingga lebih water resistant. Kelemahan menurut saya adalah pada pintunya yang mudah terlepas, sehingga penggantian battery pada pemakaian outdoor extreme harus hati-hati karena jika terlepas artinya hilang. Misalkan saat pemotretan nature  di hutan pegunungan jika terlepas bisa jatuh ke jurang atau hilang tertelan aliran sungai.

Penutup battery mudah terlepas. be carefull

Penutup battery mudah terlepas. be carefull

SD CARD :

Cukup disayangkan kamera sekelas DF hanya memiliki 1 buah slot memory, bandingkan dengan Nikon D610 yang kelasnya lebih murah memiliki double slots memory. Buat pemain professional untuk pemotretan model, fashion dan wedding tentunya sangat membutuhkan back up memory untuk menghindari memory failed atau corrupted. Terlebih pemotretan jenis ini, tentunya membutuhkan cost besar dan moment yang kadang tidak tergantikan. Tetapi hal ini bisa disiasati dengan melakukan WIFI transfer saat pemotretan di studio, sehingga back up file tetap bisa dilakukan dan tentunya buat kalangan profesional akan menggunakan memory card kelas profesional juga semacam SD Card Sandisk Extreem atau extreem Pro. Selama saya melakukan pemotretan outdoor extreem dan bahkan tercuci pun SD card ini tetap berjalan dengan baik.

Tempat battery dan sekaligus slot SD card

Tempat battery dan sekaligus slot SD card

SD CARD CHAMBER:

Peletakan SD Card yang menyatu dengan battery memang memberikan kepraktisan dalam desain dan memberikan kesan analog tanpa banyak chamber pada bodynya. Tetapi pada sesi pemotretan yang menggunakan tripod akan sedikit merepotkan saat harus mengganti SD card.

FOCUS AREA 39 POINT :

Nikon DF memakai modul AF yang berbeda dengan Nikon D4. Nikon DF menggunakan 39 point dengan modul Multi Cam 4800DX sedangkan Nikon D4 menggunakan 51 point dengan modul Multi Cam 3500FX. Karena modul yang dipakai adalah modul untuk DX camera seperti pada kamera Nikon D7000, maka pada Nikon DF yang sensornya FX terasa focus coverage nya lebih sempit. Sedangkan kalau kita melihat focus Nikon D4 dan juga dipakai di Nikon D800 coverage terasa lebih lebar. Mungkin untuk pemotretan Model / Beauty hal ini tidak menjadikan masalah yang besar karena lebih sering center focus yang dipakai.

Focus area coverage Nikon DF

Focus area coverage Nikon DF

Focus coverage Nikon D4

Focus area coverage Nikon D4

FOCUS SPEED :

Walaupun Nikon DF menggunakan sensor flagship Nikon D4 tetapi modul AF nya menggunakan second class yang dipakai pada Nikon D610 dan Nikon 7000, yaitu modul AF Multicam 4800 DX yang memiliki 39 titik point dan 9 cross sensor. Pada modul ini kecepatan focusing berada dibawah Nikon D4 dan D800, pada kondisi pemakaian low light / gelap focus terasa melambat, sehingga focus sering nge-hunt (mencari) menjadikan focusing sedikit kurang nyaman. Terlebih pada kamera kelas Pro, Nikon memang tidak memiliki illumination Light untuk membantu focus. Guna menyiasati kondisi focusing low light dapat digunakan modul SU-800 yang menggunakan laser beam maka kendala focus pada low light akan teratasi. Pada pemotretan models yang umumnya “on location Lighting Setting” tentunya faktor focus sudah diperhitungkan dan jika menggunakan modeling light tentunya tidak akan terjadi kendala ini.

Nikon DF dengan modul Nikon SU-800

Nikon DF dengan modul Nikon SU-800

Laser Beam yang terpancar dari SU-800 untuk guide focus.

Laser Beam yang terpancar dari SU-800 untuk guide focus.

VIEW FINDER :

View Finder Nikon DF sangat terang dan perbesaran/magnification 0,7x, membuat nyaman untuk mengamati object dengan baik, terlebih pemotretan fashion membutuhkan pengamatan yang detil dan cermat. Coverage dari view finder kamera ini adalah 100% jadi ” what you see is what you get ” akan membuat pengaturan komposisi sangat nyaman dan presisi.

WHITE BALANCE :

white balance sangat penting dalam pemotretan studio/beauty/fashion agar mendapatkan warna yang natural terutama pada skin tone. Umumnya dalam pemotretan model dilakukan setting WB Kelvin untuk menjaga kestabilan dan keakuratan. Pada Nikon DF setting White balance Kelvin cukup mudah digunakan, dimana kita dapat mengisi 3 digit agar lebih presisi dan sesuai dengan keinginan kita. (lihat Gambar) Seperti kita ketahui pada umumnya kamera menggunakan default interval dari pabriknya sehingga pengisian angka presisi tidak bisa dilakukan. Disini terlihat bahwa Nikon DF memberikan ruang akurat untuk WB Kelvinnya, jadi pengguna Color Metering semacam Sekonic C500DR dapat meng-input dengan mudah sesuai dengan nilai color temperatur lighting yang dipakai. Masih dalam pengaturan Kelvin White balance kita juga dapat melakukan adjustment untuk lebih Green atau Magenta dengan merubah chart adjustment sesuai yang kita inginkan.

Menu setting WB Kelvin

Menu setting WB Kelvin

PICTURE CONTROL :

Nikon DF juga menawarkan control ini sehingga memudahkan kita untuk memilah picture control sesuai dengan kebutuhan style pemotretan kita. Misalkan antara pemotretan model dan landscape tentunya akan memiliki style picture yang berbeda. kita dapat melakukan custom rename sesuai kebutuhan kita dan menyimpannya. Hal ini tentunya akan memudahkan kita untuk mengingat dalam memilih picture style. Sayangnya white balance belum dapat di seting dalam masing-masing picture control. Misalnya : kita custom picture control menjadi Model warm, model cool, model Natural.

Menu Picture Control

Menu Picture Control

ISO 50 (L1) :

Nikon DF memiliki extended ISO 50 (L1) dari defaultnya ISO 100, hal ini memudahkan kita dalam pemotretan studio jika ingin menggunakan lensa bukaan besar seperti f/1.2, f/1.4, f/1.8 ; sementara power lampu sudah tidak bisa diturunkan lagi. Yang perlu diperhatikan titik optimum image quality Nikon DF adalah di ISO100! sedangkan dengan extended L1 ini sebenarnya kualitas image justru sedikit berkurang dalam dynamic rangenya. ( lihat grafik di bawah ) dari hasil test DPreview.com menunjukan penurunan dynamic range pada extended ISO L1. Dimana penurunan adalah pada sisi detil Hi Light nya saja yaitu turun hingga 3 sd 4 grade. Untuk itu gunakan Iso ini pada kondisi yang memang diperlukan atau siasati dengan penggunaan filter ND.

Button ISO 50 tertulis L1.

Button ISO 50 tertulis L1.

Grafik DPreview tentang Dynamic Range Iso L1

Grafik DPreview tentang Dynamic Range Iso L1

X SYNCHRO BUTTON :

X sync adalah pilihan flash syncro dimana default max nya adalah 1/250. Speed ini dapat diadjust melalui custom setting menu braketing/flash : ada pilihan dari 1/60 s s/d 1/250 s. Setting sync disini otomatis akan menjadi default di tombol X sync. Nikon DF memiliki locking button pada tombol- tombolnya yang utama sehingga membuat settingan kita tidak  mudah tergeser oleh jari-jari tangan tanpa sengaja. Sering saat pemotretan speed command dial tergeser tanpa sengaja oleh Ibu jari, sehingga syncro speed menjadi tergeser ke 300 yg mengakibatkan gambar hitam separuh. Dengan X sync dengan locking button problem ini teratasi.

Pada Button terdapat code "X" sebagai X synchro speed

Pada Button terdapat code “X” sebagai X synchro speed

SYNCHRO SOCKET :

Pada kamera jadul dimana pemakaian wireless masih belum jamak, biasanya digunakan socket cable synch untuk mentriger lampu studio. Pada Nikon DF socket ini kembali dihadirkan, walaupun menurut saya sudah tidak banyak yang memakai. Tetapi dengan hadirnya socket ini menambah kesan “retro” yang menguat.

Socket Kabel synchro ditutup dengan plastic screw.

Socket Kabel synchro ditutup dengan plastic screw.

LOCKING BUTTON :

Nikon DF memiliki tombol-tombol yang mengadaptasi pada kamera jadulnya era awal dimana setiap melakukan perubahan pada tombol-tombol penting harus menekan tombol kunci ( locking button ) nya terlebih dahulu. Hal ini sangat nyaman untuk pemotretan di studio yang membutuhkan akurasi karena semua tombol utama tidak akan mudah tergeser tanpa sengaja, sehingga kita dapat focus pada pemotretan dengan tenang. Tombol yang memiliki kunci adalah : Speed  : 1/3 Steps,  speed Synch X, Speed Time T; ISO, dan Kompensasi. Sedangkan pada Mode PSAM menggunakan Pull selector. Para pemain traditionalist tentunya akan merasakan sensasi ke masa lalu.

Tombol-tobol utama terletak pada sisi atas kamera, dan dengan system locking yang aman.

Tombol-tobol utama terletak pada sisi atas kamera, dan dengan system locking yang aman.

TOP PLATE CONTROL :

Tombol control utama exposure terletak di body atas dan terlihat dengan jelas angka-angkanya. Sehingga pada pemotretan studio kita dengan mudah memantau kombinasi angka dan ukuran dengan jelas, tanpa perlu melihat di menu atau view finder.

CABLE RELEASE :

Pada pemotretan studio jaman dulu sering kita melihat sang fotografer menggunakan cable release sebagai penekan shutter. Kembali Nikon DF memberikan sensasi tersebut dengan menggunakan kabel ulir AR-3 sebagai penekan shutter. Anda mau modern? Nikon DF tetap menghadirkan wireless shutter remote maupun electronic cable MD2.

Nikon DF dengan cable Release AR-3 emnambah kesan Retro

Nikon DF dengan cable Release AR-3 emnambah kesan Retro

LCD 3,2 INCH :

LCD sudah di update menjadi lebih lebar 3,2 inch dengan resolusi 921K, pada LCD Nikon DF warna terkalibrasi dengan baik, dimana berbeda dengan saudaranya D800 yang pada awal keluarnya warna cenderung kehijauan. Dengan DF kita tidak kuatir untuk melakukan control warna dengan lcd kecilnya.

LCD yang lebar dan warna terkalibrasi dengan baik

LCD yang lebar dan warna terkalibrasi dengan baik

TANPA 10 PIN SOCKET:

Tanpa socket 10 pin membuat kita yang sudah bermain kamera top level Nikon akan mengganti beberapa accessories yang dimiliki. Beberapa bisa dilakukan dengan menggunakan adapter ke DC2 socket. Hal ini cukup dimengerti karena kamera ini ditujukan untuk pemain hybrid traditionalist sehingga keberadaan 10 pin socket akan mengurangi kesan traditionalistnya.

Socket Acessories  menggunakan MD2

Socket Acessories menggunakan MD2

WIFI WIRELESS CONTROL :

Jika masih belum puas dengan melihat hasil pemotretan model melalui LCD 3,2 inch maka kita masih bisa menggunakan Ipad, Imac maupun PC dengan menggunakan modul kecil wireless wifi WU-1a. Tidak hanya hasil jepretan langsung muncul dilayar monitor bahkan kita dapat melakukan control pemotretan secara wireless dari gadget kita semacam Iphone. WU-1a compatible dengan iOS maupun android. Sangat nyaman bukan?

Modul WU-1a untuk WIFI connection, small but powerfull

Modul WU-1a untuk WIFI connection, small but powerfull

wireless commander dapat dilakukan dari Laptop, android dan IOS

wireless commander dapat dilakukan dari Laptop, android dan IOS

RETOUCH MENU : 

Menu ini sangat membantu dalam post processing di dalam camera, cukup lengkap menunya. Tapi saya yakin buat para professional akan memilih bekerja di photoshop atau lightroom untuk powerfull menu. Bahkan ada Distortion dan Perspective control, cukup mudah untuk penggunaan praktis. (Lihat Gambar)

Retouch menu

Retouch menu

retouch menu

retouch menu

NEF (RAW) PROCESSING:

 Menurut saya yang paling praktis dan memudahkan dalam Retouch Menu adalah menu ini, karena kita dapat melakukan koreksi RAW praktis tanpa harus menggungakan Nikon Capture di PC / Laptop Kita. Kita mampu melakukan koreksi pada WB, Exposure, Picture Control, Noise Reduction, Color Space, Vignette control dan D Lighting. Semua hasil koreksi dapat langsung kita convert ke Jpeg. Sehingga jika pemotretan RAW kita sudah memuaskan dan membutuhkan koreksi cepat tanpa PC atau bahkan saat tidak ada PC yang compatile dengan RAW / NEF maka dengan mudah kita bisa merebah langsung RAW ke Jpeg di camera kita.

RAW Processing menu yang sangat berguna bagi pemain studio

RAW Processing menu yang sangat berguna bagi pemain studio

CHECKING WB di NEF (RAW) PROCESSING :

Mungkin cara tricky memanfaatkan menu WB pada  NEF / (RAW) processing adalah untuk melakukan checking white balance yang sesuai dengan keinginan kita saat on location/studio.

    Caranya :
    1. Setting camera ke RAW
    2. Setting WB ke Kelvin
    3. Lakukan prediksi pilihan angka Kelvin (misal K5500)
    4. Siapkan model dan lakukan test shoot
    5. Buka hasil test shoot di NEF (RAW) Procesing
    6. Lakukan perubahan angka kelvin sesuai dengan keinginan yang paling sesuai pada hasil fotonya (umumnya       untuk skin tone). Misalkan angka yang dirasa pas adalah K4500.
    7. Kembali ke menu Camera dan lakukan setting WB pada Kelvin K4500
    8. Semoga warna lebih sesuai dengan keinginan anda pada pemotretan berikutnya.
Cara praktis untuk control WB kelvin

Cara praktis untuk control WB kelvin

IMAGE QUALITY : 

Untuk test Image quality yang meliputi : Dynamic Range, Noise dan White Balance, saya akan mengambil data dari DPreview yang kita ketahui memang akurat. Disini saya mencoba menggunakan sample yang berkaitan dengan pemotretan untuk Studio/Model/Beauty. Dalam test ini saya ambil sample dari beberapa kamera :

1. Nikon yaitu Nikon D4 karena sensor DF menggunakan sensor ini, Nikon D800 karena secara harga hampir sama dengan Nikon DF, Nikon D600 karena secara Resolusi lebih tinggi dan harga lebih murah dari Nikon DF.

2. Sony A7 dan A7R sebagai pendatang baru yang muncul bersamaan dengan Nikon DF dan  sensor yang digunakan sama/setara/mirip Nikon D600 dan D800

3. Canon 5D mark 3 dan Canon 6D, dimana selama ini Canon identik dengan pemotretan model/fashion/beauty

DYNAMIC RANGE :

Dimana untuk mengukur bagaimana sensor menangkap detil (sebelum menjadi clipping) pada gradasi warna dari shadow (gelap) ke hi light (terang). Dimana kelebihan dari rentang dynamic range yang lebar tentunya akan mampu menangkap detil yang lebih baik pada pencahayaan gelap hingga terang. Semua data diambil dari DPreview.com

NIKON DF VS NIKON ( Active D Lighting OFF )

Grafik Nikon DF vs Nikon Full  dengan ADL Off

Grafik Nikon DF vs Nikon Full dengan ADL Off

Nikon DF memiliki Dynamic Range yang hampir sama dengan Nikon D4. Nikon DF rentang lebih lebar ke Hi Light sedang Nikon DF rentang lebih lebar ke shadow. Bisa dimaklumi karena Sensor Nikon DF dan Nikon D4 adalah sama.

Dynamic Range teringgi dipegang Nikon D800 yang memiliki resolusi tertinggi 36MP dan kedua dipegang oleh entry level Fulframe Nikon D600 dengan resolusi 24 MP.

NIKON DF VS NIKON ( Auto D lighting LOW )

Nikon DF vs Nikon Full Frame dengan ADL Low

Nikon DF vs Nikon Full Frame dengan ADL Low

Nikon DF pada penggunaan Auto D Lighting LOW dynamic range naik ke rentang shadow 2 sd 3 grades. Dan karakter dynamic Range menjadi serupa dengan Nikon D4.

Sedangkan pada Nikon D800 dynamic range naik menjadi 3 sd 4 grade, yang mengejutkan adalah Nikon D600 rentang Dynamic range mampu menyamai kakaknya. Nikon D800 lebih 1 grade ke rentang Hi light sedangkan Nikon D600 lebih 1 grade ke rentang shadow.

Jika anda menginginkan rentang Dynamic Range yang sama persis karakternya dengan Nikon D4 dan rentang DR naik 2 sd 3 grade maka pasang Auto D lighting (ADL)pada low. Pada posisi ini menurut saya karakter lighting tidak terlalu berbeda dengan karakter lighting metering normal tanpa ADL.

DYNAMIC RANGE NIKON DF pada setiap setting Auto D lighting

Dynamic Range Nikon DF pada setiap level ADL

Dynamic Range Nikon DF pada setiap level ADL

ADL Off terlihat langit wash out

ADL Off terlihat langit wash out

ADL High terlihat detil langit mulai terlihat.

ADL High terlihat detil langit mulai terlihat.

ADL extra High, detil langit terlihat sempurna

ADL extra High, detil langit terlihat sempurna

Nikon DF pada setting Auto D Lighting pada tahap Normal, High dan Extra High 2 lebih menge “push” ke sisi Hilight, dengan karakter ini harapanya foto kita akan lebih terjaga karena hanya pada detil highlight yang akan dimunculkan, sedangkan sisi shadow tidak terangkat drastis. bisa dilihat pada foto ilustrasi di atas misalkan detil awan menjadi terekam dengan baik pada sisi shadow tetap terjaga baik. Yang perlu diperhatikan adalah hati-hati pada pemotretan dengan ADL yang terlalu tinggi kadang akan memunculkan kesan over, dan selalu diingat bahwa ADL akan lebih optimal untuk pemotretan yang membutuhkan detil hi Light. Lakukan serangkaian test untuk mengenali karakternya ADL pada setiap interval dan kondisi lighting. Pemakain ADL yang moderat misalkan Low sd Normal akan menjaga karakter metering lighting tidak terlalu jauh berbeda hasilnya atau jika anda ragu aktifkan ADL pada post processing RAW.

DYNAMIC RANGE NIKON DF VS CANON 6D VS CANON 5DM3 VS D600 ( ADL OFF )

Nikon DF vs Canon 5DM3, 6D dan Nikon D600 pada ADL Off

Nikon DF vs Canon 5DM3, 6D dan Nikon D600 pada ADL Off

Jika kita lihat grafik dynamic range yang dibuat oleh DPreview.com maka Nikon DF berada diurutan ketiga : urutan pertama Canon 5DM3, kedua Nikon D600, ketiga Nikon DF dan keempat Canon 6D (hampir sebanding).

DYNAMIC RANGE NIKON DF VS SONY A7, SLT99 DAN NIKON D600

Nikon DF vs Sony A7, Sony SLT99 dan Nikon D600 pada ADL off

Nikon DF vs Sony A7, Sony SLT99 dan Nikon D600 pada ADL off

Jika kita cermati semua sensor yang dipakai oleh kedua brand ini dibuat oleh sony, sehingga karakter dari sensor CMOS kedua brand ini hampir mirip. Disini terlihat Dynamic Range keempat kamera ini hampir sama. Pada uji test ini Nikon DF sedikit berada dibawah Dynamic Range ketiga kamera ini.

KESIMPULAN :

Dynamic Range Nikon DF sebanding dengan Nikon D4 dan tidak berbeda jauh dengan Sony A7, Sony SLT 99 dan Canon 6D, sedangkan Dynamic Range teringgi pada Canon 5DM3 dan Nikon D800

NOISE :

Untuk pemotretan pada kondisi outdoor yang memanfaatkan available lighting pada kondisi gelap, misalkan sore, malam atau pemotretan dengan karakter pencahayaan gelap, maka dibutuhkan kamera yang memiliki Noise handling yang baik sehingga image tetap bagus/acceptable. Untuk test ini kita akan melihat pada file quality RAW, pada uji yang dilakukan oleh DPreview.com.

ISO 100 : NIKON DF vs NIKON vs SONY vs CANON

ISO 100 pada skin tone warna gelap

ISO 100 : Nikon DF vs Sony A7R pada skin tone warna gelap

Pada Uji pertama adala Iso 100 karena pada posisi ini semua kamera yang di uji pada titik otimum quality image-nya

Pada uji sample skin tone warna gelap di atas terlihat bahwa karakter warna Nikon DF dan Nikon D4 sangat menyerupai. Sedangkan Nikon D800 dan Sony A7R sedikit perbedaan pada ketajaman  sony A7R (lebih tajam sedikit) karena tanpa menggunakan Filter AA pada sensornya ( saya yakin jika diuji dengan Nikon D800E maka kedua camera akan sama). Jika dilihat karakter warna Sony memiliki kecenderungan warna lebih saturated dan sedikit kekuningan.

ISO 100 pada skin tone warna terang

ISO 100 : Nikon DF vs Sony A7R dan D800 pada skin tone warna terang

Jika dilihat dari sample skin tone warna putih diatas terlihat bahwa Nikon DF dan Nikon D4 sangat menyerupai. Sedangkan pada Nikon D800 dan Sony A7R yang share sensor memiliki sedikit berbeda karakter warnanya, dimana SONY A7R sedikit kekuningan.

Iso 100 Nikon DF vs Canon 6D dan Canon 5DM3 pada skin tone warna gelap

Iso 100 : Nikon DF vs Canon 6D dan Canon 5DM3 pada skin tone warna gelap

Jika dilihat dari sampel uji skin tone warna gelap di atas terlihat bahwa handling karakter warna antara Nikon dan Canon sangat menyerupai. Pada Canon 5DM3 sedikit lebih tajam dari lainnya. Sedangkan Nikon DF, Nikon D4 dan Canon 6D hampir sama.

ISO 100 Nikon DF vs Canon 5DM3 dan Canon 6D pada skin tone warna terang

ISO 100 : Nikon DF vs Canon 5DM3 dan Canon 6D pada skin tone warna terang

Pada sampel uji diatas untuk skin tone warna putih, hanya canon 5DM3 yang sedikit merah sedangkan ketiga yang lain menyerupai. Nikon Df dan Nikon D4 karakter warnanya menyerupai, tak mengherankan karena Sensor dan processor yang dipakai adalah sama.

ISO 6400 : NIKON DF vs NIKON vs SONY vs CANON

ISO 6400 Nikon DF vs Sony A7R

ISO 6400 : Nikon DF vs Sony A7R dan D800

Pada Noise 6400 dari gambar sampel di atas terlihat bahwa Nikon DF dan Nikon D4 handling noise sangat menyerupai dan lebih unggul/baik dibandingkan dengan Nikon D800 dan Sony A7R. Pada Nikon D800 dan Sony A7R bisa dipahami kalah dalam hal noise karena resolusi sensor yang lebih tinggi yaitu 36MP.

ISO 6400 Nikon DF vs Sony A7R dan Nikon D800

ISO 6400 : Nikon DF vs Canon 5DM3 dan Canon 6D

Pada noise 6400 pada sample Nikon dan canon diatas terlihat bahwa Nikon DF dan Nikon D4 lebih unggul dibandingkan canon, sedangkan Canon 5DM3 terlihat noisenya paling tinggi dibandingkan canon 6D.

ISO 12800 : NIKON DF vs NIKON vs SONY vs CANON

ISO 12.800 Nikon DF vs Sony A7R dan Nikon D800

ISO 12.800 : Nikon DF vs Sony A7R dan Nikon D800

Pada Iso 12800 dari gambar di atas terlihat bahwa Nikon DF dan Nikon D4 lebih unggul dibandingkan dengan Nikon D800 dan Sony A7R. Sementara Nikon D800 dan Sony A7R terlihat menyerupai, karena kedua kamera ini sharing Sensor yang sama, keunggulan seri R dimana filter AA dilepas tidak terlihat tajam pada noise 12800 dimana Nikon D800 terlihat lebih tajam sedikit.

ISO 12.800 : Nikon DF vs Canon 5DM3 dan Canon 6D

ISO 12.800 : Nikon DF vs Canon 5DM3 dan Canon 6D

Pada iso 12800 antara Nikon dan Canon pada gambar diatas terlihat bahwa Nikon DF dan Nikon D4 lebih unggul dalam handling Noise, sedangkan Canon 5DM3 handling noise masih kurang baik  dibanding dengan “adiknya” Canon 6D.

KESIMPULAN :

NOISE : Handling Noise Nikon DF dan Nikon D4 adalah sangat menyerupai dikarenakan sensor dan processor yang dipakai adalah sama. Dari sample ISO tinggi (iso 6400 dan 12800) Nikon DF lebih leading/baik handling Noisenya  dibandingkan Canon ( 5DM3 dan 6D) dan Sony A7R.

KARAKTER WARNA :  jika dilihat pada ISO 100 antara Nikon DF dan Canon karakter warnanya menyerupai sementara Sony terlihat warnanya lebih saturated dan sedikit kekuningan.

WHITE BALANCED TEST

White balanced yang akurat sangatlah penting dalam pemotretan model/beauty/fashion karena akan menyangkut pada keakuratan warna yang kita kehendaki. Disini saya mencoba melakukan test sederhana tentang handling white balanced AUTO, FLUORESCENT, INCANDECENT dan FLASH  karena umumnya ketiga lampu artificial ini yang sering dihadapi dan wb kadang tidak akurat.

LAMPU FLASH :

Sumber : Studio Flash dengan WB Auto

Sumber : Studio Flash dengan WB Auto

Sumber Cahaya : Studio flash dengan white balance FLASH

Sumber Cahaya : Studio flash dengan WB FLASH

    HASIL :
    WB Auto : akurat
    WB Flash : akurat

KESIMPULAN :

pada saat pemotretan dengan studio Flash, kita dapat melakukan setting WB dengan aman pada WB auto atau WB flash, karena keduanya akurat

LAMPU FLUORESCENT / NEON

Sumber cahaya Neon Fluorescent setting WB pada AUTO

Sumber cahaya Neon Fluorescent setting WB pada AUTO

Sumber Cahaya Neon Fluorescent setting WB pada FLUO on Day White Fluorescent

Sumber Cahaya Neon Fluorescent setting WB pada FLUO on Day White Fluorescent

HASIL :

WB Auto : Akurat

WB Seeting FLUO : hasil kurang akurat

KESIMPULAN :

WB Fluo : ada tujuh macam pilihan, diantara ketujuh pilihan yang paling mendekati akurat pada penggunaan philips daylight adalah : day white fluorescent.

Saya menganjurkan untuk pemakaian lampu fluorescent gunakan saja WB auto karena lebih akurat. Mungkin masalah utama kita adalah sulit untuk membedakan karakteristik/jenis/bahan lampu fluorescent sehingga saat memilih setting pun kita menjadi bingung mana yang tepat. Pada contoh saya ambil setting yang paling mendekati adalah setting Day White Fluorescent, sedang yang lainnya lebih mengarah ke biru.

LAMPU INCANDESCENT / PIJAR

Sumber Cahaya lampu Pijar/ Incandescent, setting WB pada AUTO

Sumber Cahaya lampu Pijar/ Incandescent, setting WB pada AUTO

Sumber cahaya lampu pijar/incandescent dengan setting WB pada INCANDESCENT

Sumber cahaya lampu pijar/incandescent dengan setting WB pada INCANDESCENT

    HASIL :
    WB Auto : hasil kurang akurat ( lebih ke arah warm )
    WB Setting INCANDESCENT : hasil kurang akurat ( lebih kekuningan )

KESIMPULAN :

Pada sumber cahaya pijar baik auto maupun setting white balance hasilnya keduanya kurang akurat, jadi dalam kondisi cahaya ini gunakan setting Kelvin atau melakukan preset custom white balance. Jika kesulitan untuk menggunakan setting Kelvin atau preset WB, pilihan auto tetap lebih baik karena warna cenderung ke warm sedangkan pada setting Incandescent warna menjadi kekuningan.

SAMPEL PEMOTRETAN DENGAN LAMPU STUDIO

STUDIO FLASH dengan WB Auto

STUDIO FLASH dengan WB Auto

    Sumber studio Flash dengan white balance AUTO, skin tone dan warna sangat natural.
STUDIO FLASH + Fill in Orange dengan Setting WB Kelvin 5500

STUDIO FLASH + Fill in Orange dengan Setting WB Kelvin 5500

    Sumber studio Flash dengan  fill in filter orange, setting WB Kelvin pada 5500K, skin tone terlihat natural. ( penghitungan Kelvin dengan metode NEF Processing menu, sangat memudahkan kalibrasi Kelvin! ).
Sumber cahaya MATAHARI dengan setting WB Auto

Sumber cahaya MATAHARI dengan setting WB Auto

Sumber cayaha window Lighting matahari, white balance Auto handling dengan baik sekali, warna skin tone terlihat sangat natural.

KESIMPULAN :

AUTO WB pada Nikon DF sangat baik dan akurat, untuk itu kita tidak perlu kuatir untuk memakai default AUTO WB. Tetapi sebaiknya bandingkan terlebih dulu dengan custom preset untuk pemotretan yang lebih serius. Pada pemotretan studio penggunaan setting Kelvin akan menjaga WB kita lebih stabil/konsisten. Sedangkan untuk pemakaian outdoor dan dalam kondisi mix light sebaiknya menggunakan setting WB Auto (kecuali ada source lighting yang akan dijadikan key lighting).

MY THOUGHT

NIKON DF adalah kamera retro buat penggemar hybrid traditionalist dengan kualitas image Nikon Flagship D4. Dengan kata lain : Nikon Df adalah kamera ber Image D4 dengan harga D800, BEST DEAL and WORTH IT !!! Jadi untuk pemotretan Model / Beauty / Fashion / Studio kemampuan dan image quality-nya tidak perlu diragukan lagi. 

Akhir kata apa yang saya tulis tidaklah sempurna,  semoga apa yang saya tulis dan pikirkan tentang kamera ini bisa bermanfaat buat teman pecinta fotografi.

PROJECT DF : THE HANDS THAT ROCK THE CRADLE

the hands 5

the hands 7

the hands 4

the hand 2

BEHIND THE REVIEW

the Gear

the Gear

The Generator

The Generator

The Head

The Head

The speedlight

The speedlight

The Camera

The Camera

The setting

The setting

Berbagai sumber :

Many Thanks to Mr. Sukimin Thio from Nikon Indonesia

DPreview

Ken Rockwell

Nikon

DxO

HANDS ON NIKON DF : The legend is back !

REVIEW PART I

Melihat video teaser nya “Pure Photography” , saya sebagai penggemar Nikon merasakan sensasi yang luar biasa, selalu menanti dan melihat satu persatu dari 6 buah video teser-nya. Dan sebuah penantian terasa menjadi sangat lama, akhirnya terjawab dengan hadirnya Nikon Df. Memang penantian ini terasa sangat lama buat penggemar Nikon, sejak Thom Hogan mulai menulis di blognya, tentang gagasan agar Nikon membangkitkan seri DM ( Digital Manual) sekitar 5 an tahun lalu, baru terjawab 5 november 2013.

Nikon-Df-lens

History Digital Retro

Era camera retro mulai bangkit dan memiliki ceruk pasar tersendiri, sejak Leica yang dengan konsisten membangkitkan kembali kamera seri M nya pada tahun 2008 dengan model yang tidak berbeda jauh dengan pendahulunya. Meluncurnya Leica M8 membuat para penggemar foto melirik kembali dan mendapatkan sensasi retro di era digital. Lensa-lensa masterpiece nya masih bekerja dengan baik dan system operasi Top 3 : Focus,  speed dan diafragma yang masih secara manual.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setahun kemudian tahun 2009  Olympus mengeluarkan dari seri legendarisnya PEN dengan body mungilnya memiliki kemampuan memotret menggunakan setengah frame film, dalam era digital berubah menjadi  E-PEN. Mengulang sukses E-PEN kemudian disusul dengan seri legendaris lainnya OM yang mengusung nama OM-D

Tampak atas Nikon DF

Tampak atas Nikon DF

Tahun 2010 fuji menyusul, tidak mengusung nama besar kamera masa lalunya, Fujica, tetapi mengusung nama FUJIFILM , terkesan aneh kenapa tidak FUJIDIGITAL?  Mungkin fuji tidak rela jika kenangan akan kebesaran filmnya lenyap menjadi FUJICA.  Langkah awal Fujifilm meluncurkan kamera retronya Fuji X 100 nya dan disusul flagship productnya XPro 1 yang cukup berhasil memikat market hibrid traditionalist. Model fuji lebih mengarah ke classic rangefinder ketimbang mengembalikan kenangan pemakai SLR Fujicanya. Mungkin Fuji mengambil ceruk penggemar classic Leica seri M.

 Kedua brand kamera ini ( olympus dan Fujifilm) mendapat sambutan yang cukup menggembirakan buat kalangan hybrid tradisionalist mengingat harga Leica M8 saat itu masih selangit. Bahkan fuji lebih konsisten dengan genre retro style nya untuk pengembangan kamera-kamera andalannya hingga sekarang.

Tampak atas Nikon F3

Tampak atas Nikon F3

Product Life Style

Jika kita lihat melihat perkembangan model style dari kamera dan para usernya kita bisa melihat marketnya terbagi menjadi beberapa bagian

  1. Traditionalist : para penggemar fotografi film dengan kamera  jadul dan fungsi manualnya
  2. Hybrid Traditionalist : para penggemar fotografi digital dengan style n function manualnya
  3. DSLR user : para penggemar digital dengan system SLR dan umumnya function sudah auto full feature
  4. Mirrorless Digital : para penggemar digital dengan system tanpa cermin atau electronic View Finder
Tampak belakang Nikon Df

Tampak belakang Nikon Df

Nah pada saat Big Two, Nikon dan Canon bermain di ceruk DSLR dan menguasi pasar dunia, para pemain lain mulai mengambil ceruk-ceruk khusus dan ternyata sambutannya cukup baik

  1. Traditionalist : munculnya kembali kamera instax dan berkembangnya toy camera seperti lomo
  2. Hybrid Traditionalist : Leica M, Fujifilm X 100s, X pro 1, OM-D, E-Pen
  3. Mirror less Digital : Olympus, Panasonic dan sekarang Sony serius di pasar ini

Digital Fusion

Nikon menurut saya terlambat masuk dalam market Hybrid Traditionalist, setelah 5 tahun sejak Leica M8 muncul, Nikon baru merespon mengeluarkan seri DF nya. Padahal seperti kita tahu Nikon memiliki potensi dari seri kamera-kamera legendarisnya semacam Rangefinder SP, seri F3 dan FM2 yang akan sangat menarik untuk diangkat ke Digital Fusion nya. Saya membayangkan 3 jalur seri ini bisa dikembangkan buat para Hybrid Traditionalist :

  1. DF Profesional : DF 3 dengan body Nikon F3 tetapi memiliki kemampuan Nikon D4
  2. DF semi pro : DFM 2 dengan body Nikon FM2 tetapi memiliki kemampuan  Nikon D610 ( DF Sekarang )
  3. DF Rangefinder : DFS dengan body Nikon SP tetapi memiliki kemampuan hybrid Mirorrles sekelas AW1 ( non waterproof )

Jadi ngiler membayangkan jika Nikon mengadopsi dan serius masuk di market ini, bakal terasa kembali era film tapi dengan media digital.

Tampak belakang Nikon F3

Tampak belakang Nikon F3

HANDS ON NIKON DF

Saya hanya memegang beberapa jam dan mencoba-coba product sample yang dibawa oleh Nikon Indonesia ( Thanks to Mr. Sukimin Thio ). Oleh karena itu pendapat saya mungkin bisa meleset karena masih pre production camera, sehingga bugs masih sangat mungkin terjadi. Melihat penampilan pertamanya membuat saya lupa segalanya, hanya satu kata : KEREEEENNN BANGET !!!! beberapa hal yang saya rasakan sensasinya setelah memegang dan mencoba adalah :

Nikon DF dengan cable release manual

Nikon DF dengan cable release manual

PRO:

  1. Tampak depan, Retro look menyerupai Nikon F3 dengan sedikit bongsor, sama juga dengan Leica M digital juga lebih gendut dibandikan seri M film. Yang saya tunggu adalah Battery Grip ala F3, wow bakal super keren!!!!
  2. Tampak atas seperti Nikon F3, dengan top LCD kecil tidak sepeti umumnya nikon DSLR. Bahkan tombol shutter dilengkapi kabel releasemanual AR 3 wow good Job Nikon! Makanya saya cari 10-Pin connector tidak ketemu.
  3. Tampak belakang seperti melihat Nikon D610. Make it Flat like F3 please!!! Tapi untuk handling memang sangat nyaman tidak merubah banyak otak kita, karena seperti menghadapi Nikon Digital seri semi pro.
  4. Handling Iso, Kompensasi dan Speed secara manual, walaupun bisa dilakukan secara Digitally.Tombol-tombol masih menggunakan metode “push and Pull “ seperti era jadul.
  5. Lensa seri G tanpa Gelang diafragma bisa bekerja sempurna
  6. Lensa seri AFD bisa bekerja dengan sempurna
  7. Lensa AI dan AI-s bisa bekerja dengan baik karena terdapat diafragma coupler, sehingga makin terasa manualnya dengan bermain gelang diafragma. Untuk kit lens kamera ini di-launch Special Edition AFS-50 mm f/1.8 dengan gelang silver khas AI lens.
  8. Sensor Nikon D4, 16 MP yang sudah terbukti kehandalanya
  9. Processor Expeed 3 yang cukup handal memproses image kamera- kamera Nikon terkini.
  10. Focus system sama dengan Nikon D610
  11. View Finder 100% coverage
  12. Hi Iso sekelas Nikon D610 : saya coba Iso 6400 untuk pemotretan sore hari, Noise handling cukup bagus walaupun saya rasakan tetap lebih baik handlingnya Nikon D3s. Hanya warna-warna pada Hi Iso terkesan Lebay (over saturated ) walaupun picture control saya rubah ke standard dan Neutral.
  13.  Auto WB handling nya OK
  14. No Video, beberapa mungkin menganggap sebagai kekurangan tapi buat saya malah sebagai nilai Tambah “ Pure Photography “
  15. Battery terkesan kecil seperti nikon kelas entry level, ternyata battery life hingga 1400 shots !!!!!
Nikon F3 dengan Battery Grip... sangar man !!!

Nikon F3 dengan Battery Grip… sangar man !!!

CONS :

  1.  Kesan Dingin Cold Steel Nikon Jadul hilang tergantikan Magnesium Alloy yang terasa kurang Nyessssss….
  2.  ” Cppplllaaaakkk !!!!” Sensasi Getaran dan suara shutter ala Nikon F3 tidak terasa, tergantikan dengan shutter lembut ala Nikon D610.
  3. Manual Focus terasa sangat tidak nyaman, karena tidak menggunakan Focus Peeking ala Sony Nex. Mungkin karena system yang dipakai bukan mirrorless? Saya jadi teringat seorang teman pak Tono TDP penggemar lensa Carl Zeiss for Nikon yang merubah D3s nya dengan split image focusing!!!! Nah kenapa Nikon tidak menggunakan split image focusing?????? Jika anda masih menginginkan split image focus pada Nikon Df anda, segera pesan secara custom di KATZeye optical di http://www.katzeyeoptics.com . Sedang jika kita tidak menggunakan split image focus maka focusing secara manual terasa sulit karena harus memperhatikan DOT kecil yang berada di sudut kiri bawah, sementara kita kehilangan perhatian ke subject.
  4.  Harga Mahaal, dengan Chassis D610 yang saat ini di banderol 20 juta, Nikon DF yang berharga kisaran 30 Juta menjadi terasa mahal 10 Juta untuk body retronya saja. Tapi memang bisa dipahami karena para Hybrid Traditionalist ceruk pasarnya tidaklah besar, sehingga angka penjualan Nikon Df tidak akan besar yang otomatis akan mempengaruhi biaya produksi dan harga.
  5. Single slot SD card, untuk saat ini kelas semi pro nikon umumnya telah memiliki double memory card, sedangkan nikon Df ini hanya memiliki single slot SD memory.
Hands on Nikon DF

Hands on Nikon DF

MY Thought :

Nikon Df merupakan kamera powerful buat pecinta hybrid traditionalist karena semua lensa-lensa lama ( AI dan AI-s ) bisa digunakan kembali dan memiliki basic features sekelas Nikon D610.

Akhir kata Nikon Df merupakan jawaban yang memuaskan bagi para Hybrid Traditionalist yang telah menantikan cukup lama kehadirannya. Seperti kata pak Johny Hendarta beberapa waktu lalu saya bertemu ” Jaman dulu camera yang operasionalnya sulit dibikin menjadi mudah, sekarang orang malah kembali ingin oprasionalnya menjadi lebih sulit ” hahahahaha… Dengan kata lain fotografi saat ini yang serba full features dan serba auto, mulai kembali menjadi fotografi yang menekankan kesederhanaan Rana, kecepatan, dan focusing dengan sentuhan yang lebih personal. Benar juga, ceruk hybrid traditionalist memang membuat kita menjadi Digital (Con)fusion atau sebenarnya memang itulah sejatinya dari Pure Photography!

Salam