Seblang : The Last Dance

seblang tittleBW

Kantuk makin terasa, pelan memacu mobil menembus kabut-kabut tipis yang berlarian di tanjakan jalan alas Kumitir,  Jember. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:45 pagi, jalanan gelap dan senyap, rasa takut menyergap  melintasi alas Kumitir yang terkenal dengan cerita angkernya. Maju terus pantang mundur demi sebuah hunting foto Seblang. Creepy Zone !

Kesibukan menjelang

Kesibukan menjelang

Masih terlintas kemaren malam seorang teman sms mengatakan “Ada acara seblang di Banyuwangi, kalo mau hunting nyusul”, tanpa berpikir panjang booking Lion Air untuk penerbangan malam hari ke Surabaya. Esoknya sepulang kerja langsung tancap gas ke Bandara, titip mobil, dan terbang ke Juanda dengan sedikit delayed. Setelah menikmati nasi campur Sidoarjo, sekitar pukul 20:00 petualangan perjalanan darat dimulai. Lonely Joyride!

Omprok telah selesai

Omprok telah selesai

Sekitar jam 04:00 Neon sign Merah, Biru dan Kuning masih terlihat dari jauh meski kantuk dan letih mulai terasa, akhirnya menepikan mobil di depan Indomaret Jajag dan tidur di dalam mobil. Setelah lelap tanpa mimpi, sinar matahari pagi dan bunyi bising klakson mobil membangunkanku. Sekarang saatnya melanjutkan perjalanan ke  kota Banywangi yang tinggal 30 menitan. Hunting Time !

Omprok

Omprok

TENTANG SEBLANG

Seblang adalah sebuah ritual tarian masyarakat Osing di Banyuwangi. Ritual Seblang dilakukan sebagi bentuk bersih desa untuk menghindari bencana, musibah, musuh maupun roh jahat. Dengan menjalankan ritual ini diharapkan kehidupan desa akan aman, tenteram, damai dan sejahtera. Ritual semacam seblang umumnya juga dilakukan oleh masyarakat di pedesaan Jawa lainnya seperti : Ngalap Berkah, Petik Laut, maupun sedekah bumi. Sebagai perwujudan atas rasa syukur atas hasil pertanian maupun hasil laut dan sebagai selamatan untuk dimulainya sebuah musim tanam maupun musim melaut agar diberikan kelimpahan hasil.

dua tetua

Dua tetua

Menurut id-Wikipedia : Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Merenda masa dalam kenangan

Merenda masa dalam kenangan

Pada Jamannya ritual seblang dilakukan diseluruh desa di Banyuwangi, tetapi dengan perkembangan jaman satu persatu mulai punah. Ritual seblang saat ini hanya bisa dijumpai di dua desa saja yaitu desa Olehsari dan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Bentuk ritual seblang kedua desa ini serupa tapi tidak sama yaitu :

Bersolek

Bersolek

A.      SEBLANG OLEHSARI

a.       Waktu pelaksanaan : seminggu setelah Idul Fitri

b.      Tempat : desa Olehsari

c.       Penari : gadis sebelum Akil Baliq

d.      Omprok/mahkota : dari daun-daun pisang

e.      Music : Kendang, gong, saron dan  tambahan Biola

Dua batas generasi

Dua batas generasi

B.      SEBLANG BAKUNGAN

a.       Waktu pelaksanaan : seminggu setelah Idul Adha

b.      Tempat : desa Bakungan

c.       Penari : perempuan yang sudah berhenti haid (menopause)

d.      Omprok/mahkota : dari bunga segar dari sekitar kuburan/kebun

e.      Music : kendang, gong dan saron

Dupa awal prosesi

Dupa awal prosesi

Seblang tidak terlepas dari ritual mistis karena menghadirkan roh halus sebagai “pengisi” sang gadis seblang.  Dalam upacara ini dukun-dukun yang bekerja memimpin upacara ritual, membaca mantra, memberikan sesaji dan membakar kemenyan hingga sang seblang “hidup”. Sang penari yang telah dirasuki roh diarak dari rumah dukun ke arena tari di lapangan desa. Sepanjang acara sang penari dalam kondisi “in Trance”, diiringi suara musik gendhingan, menari berputar mengikuti sang dukun dan menjalankan prosesi hingga akhir.

Langkah - langkah melintas

Langkah – langkah melintas

Acara ritual seblang diadakan selama 7 hari, dari hari kehari ritual yang diadakan kurang lebih sama, sedangkan pada hari terakhir ada sedikit perbedaan karena seblang akan diarak keliling desa sebagai bentuk ider bumi, semacam prosesi akhir membersihkan desa sebagai tolak bala.

Sebuah adat yang tetap menyatu

Sebuah adat yang tetap menyatu

JURNAL SEBLANG OLEHSARI

Seblang yang menjadi target hunting kali ini dalah Seblang Olehsari di kecamatan Glagah. Agak sulit untuk mencari desa Olehsari yang ternyata masih di pinggiran kota. Bertanya pada anak muda di pinggir jalan mereka sudah tidak fasih dengan kata seblang, mengandalkan sepanduk info sebagai suatu bentuk hajatan kota ternyata nyaris tidak ada, mungkin pemerintah daerah lebih senang acara fesival/karnaval fashion modern ? (entahlah), akhirnya setelah mencari tau dari bapak tua baru terjawab semuanya.

Janur melambai

Janur melambai, kendang dan gong telah siap

Panas sangat terik, kulit terasa tergigit matahari, menyusuri gang kampung di kota pesisir pantai. Terlihat spanduk seblang ada di ujung gang dan para pemuda mengatur penitipan sepeda motor maupun parkir mobil. Sebuah hajat kampung sedang berlangsung. Memasuki lorong menuju rumah pembuat Omprok/mahkota untuk sang penari seblang, disini rasa mistis mulai terasa. Sudah banyak anak-anak dan beberapa fotografer yang berkumpul untuk melihat ritual di rumah omprok ini.

Arena dengan cepat penuh dengan penonton

Arena dengan cepat penuh dengan penonton

Rumah berdinding anyaman bambu ( jawa : gedhek ), dengan jendela kaca besar di sisi depan, menjadi saksi proses pembuatan omprok. Memasuki ke rumah yang sempit, di dekat jendela depan ada sebuah dipan dan terlihat omprok tergantung di atasnya, dijagain oleh sang pembuat omprok, seorang ibu tua. Omprok adalah mahkota yang nantinya di pasangkan dikepala seblang, terbuat dari daun pisang muda yang dipotong menyerupai rambut rasta berjuntai hijau muda dan dihiasi beberapa bunga warna merah. Masih terasa suasana lebaran, suguhan kue khas lebaran  tersaji di meja, stoples-stoples kaca antik berisi penganan kacang dan kue khas kampung, dan gelas-gelas minuman warna-warni mengundang selera. Sebuah sambutan ramah dan tawaran untuk makan penganan dan minum membuat kita merasa diterima oleh tuan rumah. Sungguh suasana keramahan yang sudah sulit ditemukan di kota besar. Sesekali  anak-anak masuk dan berkumpul berkeliling melihat omprok dan sesekali fotografer masuk untuk memotret.

Sang penari mulai berlenggok penuh pesona

Sang penari mulai berlenggok penuh pesona

Setelah menunggu sekitar 1,5 jam di rumah pembuat omprok, akhirnya tiba saatnya ritual seblang dimulai. Seorang ibu tua membawa omprok keluar menuju rumah dukun dimana sang penari berada, letaknya tidak jauh dari rumah omprok. Setelah prosesi ritual “menghidupkan” si gadis seblang di dalam rumah sang dukun ( fotografer tidak diperbolehkan meliput ), akhirnya gadis seblang dituntun keluar rumah. Sang seblang sudah menggunakan omprok yang menutupi seluruh wajahnya sehingga tidak terlihat rona mukanya. Seblang yang sudah dalam keadaan kesurupan memulai ritual di jalan depan rumah dukun, sebelum akhirnya di arak ke arena tari di lapangan desa. Sang kepala dukun membaca mantra diiringi dengan asap-asap kemenyan, wangi mistis terserap hidung. Sesekali daun yang menutupi wajah seblang terkuak, tampak wajah anak gadis yang terpejam matanya dan terkesan “kosong”.

Sang sinden melantunkan lagu

Sang sinden melantunkan lagu

Setelah mantra selesai, arak-arakan menuju arena dimulai. Payung kuning selalu memayungi sang seblang yang berjalan di tuntun mengikuti sang dukun yang membawa anglo kecil untuk membakar kemenyan. Warga desa dan anak-anak mengikuti di belakang sang seblang seakan membentuk barisan. Warga desa keluar rumah atau sekadar melongok dari jendela untuk menyaksikan arak-arakan.  Perjalanan arak-arakan melalui gang kampung sejauh sekitar 500 m menuju lapangan desa dimana arena tari sang seblang cilik telah disiapkan.

Di balik panggung

Di balik panggung

Memasuki arena lapangan desa, terlihat sudah ramai oleh warga yang menanti sang seblang, para penjual makanan, penjual mainan anak-anak, dan terlihat pula para tamu undangan. Lapangan pun sudah di sulap, diujung lapangan sebuah arena seblang sudah berdiri dengan diberikan pagar bambu, atap plastic dan hiasan tanaman tebu dan janur kuning; di sebelah panggung tari didirikan tenda khusus untuk para undangan pejabat.

Game vs Seblang

Game vs Seblang

Musik mulai dimainkan menyambut sang seblang, terdengar irama dengan ritme yang berulang-ulang serta nyanyian dari pesindennya. Penonton mulai menyemut mengelilingi arena panggung sementara sang seblang duduk di apit oleh ibu tua. Acara dimulai dengan sambutan oleh perangkat kecamatan Glagah, bercerita tentang pentingnya melestarikan adat budaya. Setelah sambutan usai tarian seblang segera dimulai. Suara music gendhing makin keras bertalu-talu dan sang seblang mulai menari mengikuti sang dukun yang menari berkeliling arena yang bentuknya bulat.

Prosesi sang dukun saat Seblang istirahat

Prosesi sang dukun saat Seblang istirahat

PROSESI TUDINGAN

Tudingan adalah sebuah prosesi ditengah tarian sang seblang, dimana setelah berputar-putar sang seblang akan melempar selendang kearah penonton, bagi penontong yang terlempar/kejatuhan selendang harus naik ke panggung untuk menari bersama seblang. Bagi seseorang yang terkena lemparan selendang dipercayai akan mendapatkan keberuntungan sehingga kebanyakan dengan senang hati naik penggung menari dengan seblang. Lemparan seblang tidak berarti selalu mengarah ke seorang lelaki ( bayangan saya karena seblang seorang gadis tentunya akan memilih seorang lelaki) tetapi beberapa kali terjadi mengarah ke seorang wanita, yang tentunya harus naik panggung untuk menari bersama sang seblang. Jangan pernah menolak ajakan seblang untuk menari, kata warga setempat, karena seblang akan “mengejar-ngejar” sampai yang diinginkan mau menari bersama. Terbukti saat ada seorang wanita dilempar selendang dan menolak untuk menari, akhirnya pingsan dan seperti kerasukan. Setelah si wanita mau menari bersama seblang diatas panggung barulah “tersadar” kembali.

Saatnya kembali ke tersadar

Saatnya kembali ke dunia realita

PROSESI KEMBANG DHERMO

Di tengah acara juga ada prosesi bagi penonton untuk membeli bunga, harga bunga terserah pada kita berapa uang yang akan di dermakan/sumbangkan. Rangkaian bunga terdiri dari 3 kuntum dan ditancapkan di sebilah bambu. Bunga ini dipercayai sebgai penolak bala dan pembawa keberuntungan, sehingga sering ditaruh di rumah maupun di sawah.

Saatnya pulang ke rumah

Saatnya pulang ke rumah

AKHIR ACARA

Setelah acara menari, prosesi tudingan dan prosesi kembang dhermo, akhirnya berakhir setelah kurang lebih berlangsung 3 jam. Pada akhir acara sang seblang disadarkan dari keadaan kesurupan oleh sang dukun dengan di tidurkan di atas tikar di arena tarian. Sambil mengucap mantra-mantra akhirnya sang seblang tersadar dalam kondisi lemah dan di bawa pulang ke sang dukun.

Sang penjaga adat

Sang penjaga adat

Maghrib menjelang, salwati ( 16 tahun ) sang seblang keluar dari rumah sang dukun dan jalan pulang ke rumahnya dengan ditemani kakaknya. Mampir kerumahnya di sebuah sudut jalan, banyak kerabat yang tengah berkumpul dirumahnya. Khas anak gadis yang masih malu-malu, Salwati ditemani oleh adiknya menyapa tamu, lebih banyak senyum saat ditanya daripada menjawab sehingga kakaknya lebih banyak berperan untuk bercerita. Kabarnya inilah tarian terakhir Salwati karena tahun depan sang seblang sudah menginjak remaja dan sudah tidak bisa menjadi seblang lagi.

Salwati dan adiknya

Salwati dan adiknya

Sebuah tarian terakhir sang penerus tradisi serta sebuah tugas tradisi yang telah disandang dan diakhiri dengan baik. Sang penerus yang masih sering dilihat dengan sebelah mata,  suatu saat semangat itu akan meredup dan menghilang ditelan jaman. Akankah?

 
Ucapan Terima kasih :
Keluarga Pak Wien, Banyuwangi
Keluarga Mbok de Marina, banyuwangi
 
Berbagai Sumber :
 ID Wikipedia
Kaukus muda Banyuwangi
Kompasiana Kompas
 
 
Camera :
 Nikon, 14-24 mm, 70-200 mm dan 24 mm
Leica, 18 mm dan 35 mm
 

Pasar Ngasem Doomsday

Galeri foto klik : Ngasem Doomsday

The INTRO

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Cakram padat KLA project yang sudah mulai memudar casingnya berputar cepat mengalunkan lagu…  membuat nuansa hati kembali menikmati romansa indahnya Jogjakarta.

Ada suatu sisi bahagia pernah melintasi jalan hidup di kota Jogjakarta. Sebuah kota yang kental dengan seni dan budaya Jawanya, yang mengakar hingga ke sebagian besar lapisan penduduknya. Hampir  selama 6 tahun di jogja banyak ragam  lintasan cerita kehidupan dan fragmen budaya penuh makna terekam, terlebih buat saya seorang pecinta fotografi

Sekarang sudah sekitar 2 tahun meninggalkan Jogja, rekaman cerita  lensa yang menumpuk mulai menggugah hati untuk mencoba berbagi. Sebuah cerita pertama tentang Jogja adalah pasar Ngasem. PASAR NGASEM begitu kuat muncul dalam kenangan, mungkin karena saya diberikan kesempatan untuk menikmati dan melepaskan pada akhir masanya.

The HISTORY

Pasar burung Ngasem begitu membekas dalam kenangan masyarakat Jogja, selain karena sebuah lintasan sejarah hadirnya, juga  karena hampir semua dari kita pernah bersinggungan dengan pasar ini.

Beberapa alasan yang mungkin membuat kita “menangis” meratapi kepergiannya sebagai sebuah legenda pasar kampung kota adalah :

Pertama, Dilihat dari sisi sejarah awal keraton Jogja,  konon awal mula daerah ngasem adalah sebuah danau tempat pelesiran Sultan Hamenkubuwono II melihat keindahan di sisi luar benteng keraton. Dengan berjalannya waktu disekitar danau bermunculan pemukiman penduduk dan salah satu aktifitas ekonomi kala itu adalah munculnya sebuah pasar burung.

Suasana pertigaan Pasar Ngasem

Suasana pertigaan Pasar Ngasem

Kedua, Dilihat dari foto sejarah tahun 1809 ditemukan bahwa di Ngasem sudah ada pasar dan burung menjadi salah satu mata dagangannya.

Ketiga, Dilihat dari sejarah tahun 1960, pedagang burung yang berada di pasar Beringharjo dipindahkan ke pasar Ngasem

Sudut - sudut bergerombol

Sudut – sudut bergerombol

Keempat dilihat dari simbol status priyayi Jawa, burung tidak begitu berbeda fungsi simbol statusnya seperti kuda ( turangga ), keris (curiga), wisma dan wanita. Sehingga pasar burung sudah menjadi bagian hidup masyarakat jawa pada masanya.

Hidup di balik sangkar kehidupan

Hidup di balik sangkar kehidupan

Kelima, Dilihat dari sisi fungsionalnya sebagai pasar satwa, pada masa kanak -kanak  kita pasti melewati masa mengenal dan menyukai aneka satwa seperti burung, ikan, kelinci, jangkrik, reptil dan lainnya. Tentunya hal ini membuat kita berinteraksi dengan pasar burung sejak kecil, bahkan saat kita sudah dewasa pun banyak yang memiliki hobby maupun bisnis dalam bidang satwa ini.

Me and Biyawak

Pak Tua dan Biawak

keenam, Dilihat dari sisi fungsionalnya sebagai pasar kebutuhan sehari-hari (pasar becek), pasar ini tentu saja menjadi tempat langganan penduduk di sekitarnya.

Ketujuh, dilihat dari Legenda tujuan wisata, pasar burung lasem sudah lama menjadi jujugan turis asing yang mampir ke Jogja. Dengan paket jalur wisata, Kraton – Taman sari – Alun Kidul – pasar Ngasem. Bahkan buku Lonely Planet memberikan sebutan terkenal dengan istilah “Yogya’s Bird Market”.

Moment di Pasar Ngasem

Moment di Pasar Ngasem

Berikut petikan di buku Lonely Planet :

Lonely Planet review for Bird Market

At the edge of Taman Sari, Yogya’s Bird Market is a colourful menagerie crowded with hundreds of budgerigars, orioles, roosters and singing turtledoves in ornamental cages, but pigeons are the big business here (for training, not eating). Lizards and other small animals are also on sale, as are big trays of bird feed (swarming maggots and ants). From the back of Pasar Ngasem, an alleyway leads up to the broken walls of Taman Sari for fine views across Yogya.

The LANDSCAPE

Pasar Ngasem berada di daerah lingkungan dalam benteng Keraton, Terletak di jalur menuju ke alun-alun Kidul dan Taman Sari, membuatnya menjadi sangat strategis dan popular bagi para wisatawan. Banyak paket-paket wisata terutama untuk turis-turis asing ditawarkan menjadi kesatuan paket : Kraton, alun-alun kidul, Taman sari dan Bird market.

Pasar Sayur Ngasem

Pasar Sayur Ngasem

Menempati areal seluas 6000 an meter persegi, pasar ngasem memiliki beberapa bagian fungsional sebuah pasar kampung kota yang terintegrasi dengan baik yaitu : Pasar Satwa yang meliputi, burung, reptil, ikan, unggas, sangkar, aquarium, makanan satwa dan perlengkapannya; Pasar becek yang meliputi sayur, buah, bumbu, sesaji, peralatan dan perlengkapan dapur; Pasar kuliner yang meliputi jajan pasar, oleh-oleh dan warung masakan jogja. Selain itu dengan perkembangan masa yang mempopularkan pasar Ngasem sebagai ikon wisata, menjadikan usaha kecil kerakyatan bermunculan di sekitar pasa, beberapa kios cindera mata seperti toko batik, kaos oblong jogja, pangkalan andong serta becak wisata.

Sebagai pasar kampung kota yang tersisa dari jamannya pasar Ngasem memiliki eksotismenya tersendiri. Dilihat dari lanskapnya pasar Ngasem yang berada di samping Taman Sari, menjadikan viewnya yang indah dan fotogenik, sebuah pasar tradisional dengan background tembok- tembok sisa kemegahan Taman Sari.

Membeli kelinci buat adik

Membeli kelinci buat adik

Secara arsitektur pasar ini juga masih meninggalkan sisa-sisa bangunan pasar masa lalu, membuat kita merasa tercerabut ke lintas waktu jaman jadul. Belum lagi bangunan pasar Ngasem tetap menganut pakem-pakem adat  bangunan jawa seperti pakem bangunan lanang dan wedhok misalnya. Sangat menarik untuk mendengarkan cerita dibalik arsitekturnya yang diceritakan dengan lancar oleh tetua pasar. Lorong-lorong sempit membentuk semacam labirin membuat kita sering tersesat.  Gelap nya pasar oleh atap-atap bangunan ataupun terpal yang menutup cahaya matahari membuat lensa mata kita dimainkan oleh perbedaan  kontras cahaya yang berbeda-beda. Terobosan sinar dari celah- celah atap dan kandang memberikan eksotisme permainan tata cahaya ruang ala pasar Ngasem. Sebuah pasar yang mampu menghadirkan sebuah arsitektur alami pasar kampung kota yang membuat kita senang menjelajahinya.

The SOCIAL PEOPLE

Merasasakan Atmosfir sosialnya yang khas kampung, berjejal penuh pengunjung, bau khas pasar, suara kicauan burung, kokok ayam jantan dan sapaan dari penjual membuat kita semakin menikmatinya.

Antara pedagang dan pembeli

Antara pedagang dan pembeli

Terselip diantaranya interaksi-interkasi sosial yang unik antara penjual, pembeli maupun yang sekedar blusukan pasar. Buat para pelancong hal ini menjadikannya sebuah penggalan-penggalan fragmen kehidupan sehari-hari yang selalu membuat kita kangen akan kampung masa kecil kita. Menjelang hari-hari kepindahannya, saya lebih sering mengunjunginya, setiap hari sabtu dan minggu pagi selalu menyempatkan untuk datang kesana.

Selalu setia mengunjungi pasar Ngasem

Selalu setia mengunjungi pasar Ngasem

Membuat saya semakin akrab dengan para penghuninya. Bahkan sosok- sosok familiar penjualnya terutama yang sudah sepuh ( tua ) seakan sudah menjadikan kita seperti cucu yang datang bertamu. Sering saya berlama-lama ngobrol panjang tentang kisah-kisah hidupnya yang sarat dengan pelajaran hidup penuh filosofis jawa nya. Bercerita bagaimana si mbah memulai usahanya, suka dan duka yang sudah dilaluinya, serta tak ketinggalan bercerita tentak anak dan cucunya. Sungguh sebuah sentuhan kehidupan social yang ramah dan menyenangkan.

BEFORE the DOWN

Denyut pasar tidak berubah, tetap ramai oleh para pelanggan setianya yang datang dan bergerobol di depan satwa dagangan. Seakan tidak ada “counting down” tanda berakhirnya masa pasar ini. Mencoba untuk mengorek bagaimana tanggapan mereka terhadap peraturan daerah yang mengharuskan pemindahan pasar ini.

Hari-hari akhir mbah Ngasem

Hari-hari akhir mbah Ngasem

” Pasare wes elek, sumpek lan wes ora penak nggo dagang, aku yo mendukung wae karo Kraton” , kata seorang bapak tua yang memberikan nada setuju karena pasar sudah tidak layak untuk berdagang.

” Sampun dangu sekitar kalih taun, pak wali rerembugan kalih wargo, pasar bade dipindah lan dibangunake pasar sing anyar”, kata penjual burung  yang bertutur bahwa pemindahan pasar ini sudah melalui proses yang panjang berkisar 2 tahunan dan semua dilakukan dengan pendekatan kekluargaan bahkan oleh pak Wali sendiri. Pemda saat itu juga menjanjikan akan dibangun pasar burung yang baru di daerah Dongkelan ( saat ini sudah berdiri pasar PASTHY : Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta).

” konco-konco wedi nek nang pasar sing anyar dagangan sepi..” seloroh seorang ibu tua, menjelaskan kekuatiran bahwa di pasar yang baru nantinya akan sepi karena berada di pinggiran kota.

Sebuah aktivitas pagi di sudut Ngasem

Sebuah aktivitas pagi di sudut Ngasem

Sementara itu pemda sudah membuat planning yang baik agar dengan kepindahannya, pasar baru nantinya tetap ramai dikunjungi. Rancangan pasar yang lebih menekankan tempat wisata dari sekedar fungsi pasar umumnya, dukungan jalur trans jogja sehingga pasar baru bisa dijangkau dengan mudah oleh semua masyarakat Jogja serta promosi dan kegiatan juga dijanjikan menjadi daya dorong untuk mengenalkan pasar baru ini.

Setelah beberapa hari menelusuri sudut pasar memang tidak terlihat adanya semacam “perlawanan”, cukup bisa dimengerti karena Kraton dan Pemda sudah melakukan pendekatan yang baik dan kekeluargaan terhadap seluruh penghuni pasar Ngasem. Terlebih orang Jogja yang tetap menjunjung adat dan hormat pada Kraton serta Sultan sebagai pemimpin dan junjungannya, sehingga himbauan dan rencana dari Karton pada umumnya dipatuhi warganya.

The FAREWELL PARTY

Kali ini memasuki pasar ngasem sudah mulai terasa “count down the D-day” kicauan burung dan kokok ayam jantan tidak ramai terdengar, sangat terasa hilangnya sambutan alami pasar ini.  Langit biru terlihat menganga di dalam pasar yang tadinya tertutup terpal dalam remang gelapnya, kini terpal sudah banyak yang dilepas. Bangunan kios petak yang tadinya selalu beriring sebagian sudah mulai di bongkar tinggal rangka.

Menjelang  waktu kepindahannya beberapa paguyuban seniman jogja menggelar acara di dalam pasar Ngasem sebagai bentuk acara perpisahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kdekatan pasar Ngasem dengan para seniman jogja sudah tercipta sejak lama. Banyak pelukis-pelukis yang terinspirasi dari pasar ini, bahkan Afandi dan anaknya Kartika Afandi sekitar tahun 1970 an sering mengunjungi dan melukis di pasar ini, mengutip dalam pemeberitaan Tempo.

Kartika Afandi dan Walikota Hery Zudanto

Kartika Afandi dan Walikota Hery Zudanto

Seniman kaos oblong juga sering menjadikan icon pasar ini sebagai desain. Kalangan akademika seperti mahasisa ISI maupun lainnya sering menjadikan pasar Ngasem sebagai object inspirasi dan kajian risetnya. Tak ketinggalan para fotografer juga tidak melewatkan pasar ini sebagai ajang untuk menciptakan karyanya. Masih banyak para seniman lainnya yang terinspirasi dari Pasar Ngasem dalam melahirkan sebuah karya bahkan maha karyanya.

Alunan musik senyap makin terdengar begitu memasuki pelataran belakang yang disulap sbg panggung sederhana. Acara perpisahan yang ber thema : Bird Market Farewell Party diadakan pada tanggal 11 april 2010. Acara ini diadakan oleh komunitas Kampoeng Boedaja Tamansari ( KBT).

Puing bersisa dan hidup bersisa

Puing bersisa dan hidup bersisa

Mengikuti acara ini sejak pagi terasa sekali balutan romantisme sentimentil dalam haru, sebuah acara perpisahan pasar yang sudah menjadi bagian dari denyut nadi hidup dan wisata kota jogja. Dalam acara ini banyak seniman lukis terlibat, bahkan maestro pelukis seperti Kartika Afandi dan Joko turut menggoreskan karya di kanvas. Sebagai karya terakhir yang dibuat di pasar burung Ngasem. Para seniman melukis mengambil tempat dilorong-lorong pasar yang mulai dibongkar dan beberapa terlihat melukis dengan object satwa.

Acara semakin hangat dengan hadirnya walikota Jogja pada waktu itu Bapak Hery Zudanto yang akrab menyapa para hadirin. Suasana yang cair memperlihatkan bahwa beliau  dalam prosesnya terlibat langsung dalam pendekatan ke warga pasar. Acara berlangsung dengan meriah, menyisakan rasa haru menuju titik akhir masa lakon pasar Ngasem the bird market.

The  D-DAY

Pada hari H kepindahannya adalah hari yang mengecewakan hati, pada hari itu saya tidak bisa hadir karena ada urusan dinas ke Jakarta. Moment Gong yang sudah dinantikan hilang tanpa memori lensa merekam.

Mengutip dari Tempo.co : TEMPO Interaktif, Yogyakarta – “Ayo konco-konco. Kita pindah neng Dongkelan.” Suara Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta, Achamd Fadli menggelegar di tengah ribuan massa yang berkerumun di pasar Ngasem, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta.

Menunggang kuda, berpakaian tradisional lengkap dengan blangkon, beskap, dan jarit, Fadli memimpin arak-arakan budaya ini dalam acara boyongan dari Pasar Ngasem ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY) Dongkelan. Para pedagang yang jumlahnya 287 orang sudah siap di dalam andong lengkap dengan pakaian tradisional menyambut ajakan Fadli dengan gegap gempita. “Ayo.” Arakan budaya ini pun berjalan.

The DAY AFTER

Setelah kirab berjalan dengan sukses, hari- hari selanjutnya pasar Ngasem dipenuhi kegiatan pembongkaran kios-kios. Memasuki pasar ngasem sudah sangat berbeda,  suara kicauan burung, suara unggas, suara tawar menawar dan senggolan antar pengunjung di gang sempit sudah menghilang.

Membongkar kios kehidupan

Membongkar kios kehidupan

Digantikan oleh Suara palu bertalu membuka kaitan paku, suara lemparan material dari atap yang sudah tinggal rangka, dan teriakan para penghuni yang membongkar bangunan saling bersahutan. Satu per satu bangunan kios mulai roboh menyatu dan rata dengan tanah, satu fragmen hidup mulai menghilang.

The EMPTY SPACE

Hening terasa, puing berserakan, hanya tersisa bangunan yang sudah mulai rata dengan tanah. Bekas jalur-jalur gang masih terlihat jelas dihamparan lapangan puing, menyusurinya kembali membuka mata memory saya. Seakan kicauan burung dan kokok ayam jantan saling bersahutan, bau khas pasar satwa dan keramaian pasar kembali hadir dalam angan. Angin dan terik panas menerpa, lamunan memudar kembali ke hamparan realita.

Berpuing dua duniaku

Berpuing dua duniaku

Menyusuri semakin dalam, mendapati seorang ibu tua di puing bekas kios sedang memasak. Si mbah yang dulu tinggal di belakang lingkungan pasar kini harus kini dalam sepi dan sendiri. “Sing pindah sing nduwe kios, nek aku ora nduwe kios ora oleh jatah kios nang pasar anyar”, menjelaskan bahwa hanya yang punya kios diganti kios dipasar baru. Si mbah yang dulu ikut merasakan manis gula pasar Ngasem dengan berjualan gorengan, sekarang harus mulai merenda langkah baru dengan hilangnya pasar Ngasem.

The ENDING

Bagai melempar mata uang coin yang memiliki dua sisi yang berbeda, sebuah keputusan selalu mempunyai dua sisi yang baik bagi yang diuntungkan dan buruk bagi yang merasa di rugikan.

Sudah rata dengan tanah

Sudah rata dengan tanah

Sebuah keputusan sudah diambil, sebuah kenangan lama mulai memudar dalam legenda dan sebuah sejarah baru mulai terenda bersama… Kita semua berharap semoga dengan hilangnya Pasar burung Ngasem mampu memberikan pembaharuan positif di kota Jogjakarta tercinta.

Mengangkut puing kenangan

Mengangkut puing kenangan

Bagai mimpi yang sirna oleh mentari pagi….

Good bye Ngasem the Bird Market…

Kamu masih ada dalam ingatan memory hati…

Pelan mulai melirih alunan KLA project dengan Jogjakarta – nya, hanya tersisa derap lirih perkusinya, lirih penuh makna semangat !

Berbagai Sumber :

  1. Tempo Interaktif
  2. Kompas interaktif
  3. Gudeg.net
  4. Bisnis ukm.com